Profil Alumni Ustadz Habib Abdurrohman

Hidup untuk belajar dan berdakwah

1.595

Ustadz Habib Abdurrohman

Hidup untuk belajar dan berdakwah

 

Da’wah atau menyeru kepada Allah swt merupakan sebuah kewajiban berdasarkan firman Allah swt:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Imran : 104)

Sedikit orang yang memiliki semangat berjuang dengan belajar dan berdakwah. Belajar menuntut ilmu syar’i kemudian menyampaikan kepada manusia untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan. Berbicara tentang semangat belajar dan berdakwah tak lengkap rasanya tidak berkenalan dengan salah satu alumni Ponpes Darusy Syahadah. Beliau adalah Ustadz Habib Abdurrahman, alumni yang semangat dalam belajar dan berdakwah,

Lahir 39 tahun silam, tepatnya pada tanggal 03 September 1979 pasangan dari Bapak Paino dan Ibu Tuminem, Beliau merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara.

Ustadz yang memiliki hobi membaca dan berdakwah ini mengarungi pendidikan di SD Negeri 1 Beruk Jatioso Karanganyar dari tahun 1986 dan lulus 1992. Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SD beliau tidak melanjutkan kejenjang SMP, akan tetapi beliau lebih memilih untuk membantu orang tuanya. Selama kurang lebih 8 tahun beliau membantu orang tuanya dalam bekerja. Karena rasa ingin tahu tentang Islam yang begitu tinggi kemudian terbesit dalam hatinya untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Sejak awal ketika beliau meminta izin kepada orang tua, akan tetapi dari orangtuanya sangat berat untuk melepaskan beliau untuk belajar di pesantren. Namun beliau tidak patah semangat. Beliau sedikit demi sedikit membujuk orangtuanya untuk merestui langkah perjuanganya dalam menuntut ilmu di pesantren. Di samping itu beliau juga mendapat dorongan dan motivasi dari alumni Darusy Syahadah angkatan pertama yaitu Ustadz Syamsuddin Umar.

Akhirnya tepat pada tahun 2000 beliau memutuskan untuk mendaftarkan diri di pesantren Darusy Syahadah. Pada masa itu,persyaratan untuk masuk pesantren Darusy Syahadah harus memiliki ijazah SMP, akan tetapi Beliau tidak memiliki ijazah SMP. Dengan modal nekat dan semangatnya dalam menuntut ilmu qodarullah Allah memberikan jalan kepada beliau. Ketika mendaftarkan diri di pesantren beliau hanya bermodalkan pas foto 3×4 sebanyak 2 lembar serta surat rekomendasi dari ta’mir setempat.

Saat melangkahkan kaki didunia pesantren beliau merasa kaget karena dunia luar dan dunia pesantren sangat jauh berbeda. Enam bulan pertama pada saat awal nyantri di ponpes Darusy Syahadah karena orang tua masih begitu berat melepaskanya maka setiap hari libur beliau pulang untuk menjenguk keduanya. Ketika belajar di ponpes Darusy Syahadah beliau begitu terkesan. Banyak kenangan yang indah ketika mengarungi perjuangan menuntut ilmu di Darusy Syahadah”. Sangking banyak kenagan yang beliau alami, ketika kami bertanya untuk menyebutkan kenangannya sampai-sampai beliau tidak bisa menyebutkan satu persatu kenangan tersebut. Salah satunya, saat kemah di hutan wonopotro bersama wali kelas dan teman-teman seangkatanya.

Ustadz yang memiliki nama asli Wagino ini begitu semangat dalam menuntut ilmu di ponpes Darusy Syahadah. Terbukti ketika IST awal beliau mendapat amanah untuk menjadi ketua bagian Ziroah (pertanian). Akan tetapi ada beberapa teman memandang bahwa beliau pandai dan memiliki komitmen berbahasa akhirnya beliau diminta untuk menjabat sebagai bagian bahasa.

Seiring berjalanya waktu empat tahun tidak terasa beliau mengarungi lika-liku kehidupan di pesantren, pada tahun 2004 beliau diwisuda dan menjadi Alumni ponpes Darusy Syahadah, sehinga siap untuk ditempatkan baik di lembaga pendidikan maupun di masyarakat. Beliau mendapat amanah untuk tugas di pondok tempat beliau meniba ilmu yaitu ponpes Darusy Syahadah. Ketika menjalankan tugas di Ponpes Darusy Syahadah di tahun pertama beliau mendapat amanah untuk menjadi bagian sapra dan kebersihan, mengajar Ilmu beladiri dan tahfidz.

Di tahun kedua beliau mendapat amanah baru yaitu menjadi bagian keuangan dan kemudian bagian Dakwah. Di tengah-tengah kesibukanya dalam menjalankan amanah dibutuhkan seorang pendamping hidup sehingga dapat memberikan semangat dalam berjuang. Maka pada tahun 2006 beliau memutuskan untuk menikah dengan salah seorang ustadzah asal Madiun Jawa Timur yaitu Ustadzah Novia Heni Prastuti. Alhamdulillah semenara ini baru dikaruniai 3 orang anak, yang benama Rumaisho Itsna Fadhilah (11 tahun ) Husam Abdurrahman (10 tahun) dan Tsabit Abdurrahman ( 8 tahun ).

Di tengah-tengah menjalankan amanah sebagai ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Masjid Baitul Makmur Darusy Syahadah dan berdakwah beliau tetap semangat belajar dan mulazamah kepada salah seorang ustadz Darusy Syahadah alumni Timur tengah. Ustadz yang dulu juga sempat menjadi santri yang beliau ajar saat Takhasus (sekarang IKM).

Untuk aktifitas saat ini beliau diamanahi menjadi penanggug jawab Darus Syufah (santri yang belum diterima di unit DID kemudian dikarantina satu Tahun untuk masuk DID tahun depan), Ketua DKM Masjid Jami’ Baitul Makmur, Penanggung Jawab Rumah Quran Darusy Syahadah, Dakwah keberbagai kampung yang berada di wilayah Boyolali, serta pengajar prifat baik anak-anak maupun orang tua serta kajian kitab dengan sebagian santri.

Terakhir beliau menyampaikan salam ta’dzim kepada para Asatidzah semua, tetaplah semangat dalam mendidik mutiara-mutiara yang kelak akan berguna bagi agama dan bangsa. Marilah senantiasa untuk menjaga ruhiyah karena itu modal penting untuk mengemban tugas pendidikan. Di samping itu pula marilah kita senantiasa mendalami ulumus Syar’i di tengah-tengah kesibukan yang ada serta semaksimal mungkin untuk menjadi suri tauladan untuk orang-orang di sekitar terutama kepada para santriwan dan santriwati.

Untuk terakhir beliau menyampaian beberapa pesan kepada para santri, “Pertama, seriuslah dalam belajar menuntut ilmu karena kedepan engkau akan mengemban tugas yang begitu berat. Kedua, waktu untuk menuntut ilmu di pondok begitu singkat antara 2,3 atau empat tahun, sementara beban dakwah sangatlah berat. Gunakan waktu sebaik mungkin sehingga pencapaianmu terhadap ilmu begitu maksimal. Ketiga, jangan lupa untuk senantiasa berbakti kepada keduaorang tua, hormatilah keduanya serta hormatilah para asatidzah dan guru kalian karena hormat dan berbakti kepada mereka engkau akan mendapat keberkahan ilmu, hindarilah penyakit sombong dan malu karena keduaanya adalah penghalang ilmu.Terimakasihkah kepada Ayah dan Ibu serta keluarga atas segala dukungan dan motivasinya dalam belajar.

Demikian profil alumi Darusy Syahadah yang begitu semangat dalam belajar dan mengemban dakwah. Semoga kita termotivasi dan melejitkan semangat untuk senantiasa belajar dan belajar ( Taal Afillah )

 

 

Artikel ini merupakan salah satu rubrik dari majalah taujih, di artikel ini kami dari mempublikasikan artikel profil dari para alumni pondok pesantren islam darusy syahadah.

Bagi para pembaca sekalian yang ingin membaca lebih lanjut mengenai rubrik alumni ini bisa mengunjungi link Alumni berikut ini.

Alumni

 

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!