Tanda-Tanda Keikhlasan Dalam Beramal Oleh: Oemar Mita

803

Tanda-Tanda Keikhlasan Dalam Beramal Oleh: Ust Oemar Mita

Tak ada yang sulit dalam jiwa kita kecuali menghadirkan keikhlasan dalam ibadah hanya karena mengharap wajah-Nya, tidak untuk lainnya. Karena seseungguhnya ikhlas dapat merubah yang remeh menjadi agung. Dan sebaliknya merubah yang agung menjadi tak bernilai apabila salah menempatkannya. Barangsiapa dalam hidupnya hanya mencari dunia, maka dunia tidak akan pernah mengenyangkan.

Dan jangan pula engkau mencari manisnya pujian. Karena hal itu tidaklah akan abadi. Balasan abadi hanya diperuntukan bagi orang-orang yang langkah hidupnya selalu mencari wajah Allah. Walaupun keikhlasan merupakan amalan hati yang sulit untuk ditelisik, tapi ternyata ikhlas ada tanda-tanda yang bisa diterlihat dari kehidupan hamba Allah. Di antara tanda-tanda yang jelas dari keikhlasan adalah:

  1. Mengharapkan wajahnya Allah selalu dalam setiap detil kehidupannya.

Sehingga apapun yang dirasakannya dan dilewatinya maka dia hanya berharap kepada wajah Allah. Tidak silau dengan dunia ataupun pujian serta sanjungan. Sebagaimana yang disampaikan Allah :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah Engkau (muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan senja hari dengan mengharapkan wajah-Nya.” (Al Kahfi: 28)

Orang yang ikhlas selalu berobsesi besar dan berniat besar untuk selalu mendahulukan wajah Allah dalam mengharapkan balasan kebaikan yang mereka persembahkan. Sehingga lahirlah sebuah sikap yang penuh suka cita dalam hidupnya. Karena setiap permasalahan akan tampak remeh dibandingkan wajah-Nya.

 

  1. Senang beramal sembunyi sembunyi

Salah satu indikator kuat orang yang ikhlas adalah ia senantiasa menyembunyikan amal sholehnya. Ia akan menjadi pribadi yang begitu khusyu di saat sendirian. Dan ia menebarkan amal kebaikan yang tidak pernah kurang di saat mata manusia tidak ada yang memandang. Sehingga tampaklah cahaya iman dan keshalehannya di saat dia hanya berduaan dengan Allah.

Salamah bin dinar mengatakan, “Sembunyikanlah amalan kamu melebihi dari apa yang kamu sembunyikan dari keburukanmu.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al Asfahani, III/240)

Al Kuraibi mengatakan bahwa mereka ingin sekali menjadi orang yang amalam tertutupi dari pandangan orang lain bahkan kepada istrinya. (Siyar A’lam An Nubala’, IX/349)

Sebagaimana Umar bin Khaththab selalu bersembunyi membagikan bantuan kepada orang fakir di Madinah pada malam hari. (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim Al Asfahani, I/48)

Dan Ali bin husain yang menyantuni 100 rumah di Madinah setiap waktu tidak ada yang mengetahuinya. Sehingga ketika beliau meninggal dunia maka barulah orang-orang mengerti apa yang beliau lakukan dengan tanda hitam dipunggungnya. Selain itu sejak kematian beliau maka bantuan itu terhenti (Siyar A’lam An Nubala’, III/393)

Dawud bin hindun berpuasa sunnah selama 40 tahun,dan dalam waktu selama itu beliau tidak diketahui oleh keluarganya.

Semua fragmen nyata ini menyimpulkan bahwa semakin besar ikhlasnya seseorang maka semakin besar dia akan menyembunyikan amalannya. Karena khawatir pahala Allah akan tertukar dengan pujian yang melalaikan.

 

  1. Bathin lebih baik dari dzahirnya

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang-orang yang nenghabiskan malam mereka untuk beribadah kepada Rabb-nya dengan bersujud dan berdiri.” (Al Furqon 64)

Mereka adalah orang yang senantiasa menjaga amalannya baik di keramaian maupun di saat sendirian. Bahkan ia menjadi pribadi yang khusyu’ ketika hanya berduaan dengan Allah serta menjauhi larangan Allah ketika tidak ada mata manusia yang melihatnya. Karena rasa muraqabah (merasa diawasi Allah) yang sangat besar dalam hatinya

Bilal bin Saad mengatakan, “Seorang wali Allah tidak akan menjadi wali-Nya di keramaian dan menjadi musuh Allah di saat sendirian.” (Sifatun Nifaq, Al Firyabi, hal. 97)

Di sinilah di antara perbedaan yang cukup besar antara yang ikhlas dan munafiq. Orang yang ikhlas akan bersungguh-sungguh ketika sendirian di hadapan Allah. Sedang seorang munafik akan beramal di saat berhadapan dengan manusia. Tetapi ketika sendirian ia berbuat maksiat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah, “Sungguh aku tahu dari ummatku nanti akan ada yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sebesar gunung tihamah lalu Allah menjadikan amalan mereka layaknya debu yang beterbangan.” Tsauban lalu mengatakan, “Ya Rasulullah sifatilah mereka dan terangkanlah karakter mereka supaya kami tidak termasuk dari mereka sedangkan kami tidak menyadarinya.” Beliau menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kalian warna kulitnya sama dengan warna kulit kalian dan mereka beribadah malam sebagaimana kalian hanya saja ketika mereka mendapatkan waktu sendirian dan berkesempatan melakukan dosa,maka mereka melakukan kemaksiatan tersebut (HR Ibnu Majah. Dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Albany dalam Shahih Jami’ Ash Shaghir, 5028)

  1. Khawatir jika amalannya tertolak

Sebanyak apapun amalan yang telah dikerjakan maka ia tetap saja dalam kekhawatiran besar. Khawatir apa yang telah dilakukan akan tertolak disisi Allah. sebagaimana yang Allah sampaikan:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang penuh ketakutan bahwa seseungguhnya mereka akan kembali kepada RabNya.” (Al Mukminun” 60)

Artinya mereka hatinya dipenuhi rasa takut kepada Rabb-nya apabila mereka dikembalikan kepada-Nya dan mendapati Rabb-nya tidak meridhai-nya. Tidak ridho disebabkan mereka tidak bersungguh-sungguh memenuhi syarat dalam memberikan hartanya (beribadah). (Tafsir Al Qur’anil Adzim, V/480)

Sebagaimana kisah seorang ulama besar, Al Mawardi yang menulis banyak karangan buku seperti Adabub Dunya, Al Ahkam As Sulthaniyyah, An Nukat Wal Uyun. Ketika dia mendapati dirinya sakit, dia berpesan kepada salah satu dari keluarganya, bahwa beliau telah mengarang buku dan beliau tempatkan di salah satu tempat. Beliau sembunyikan buku-bukunya karena beliau belum merasa ikhlas ketika mengarang semua buku-buku tersebut. Maka beliau lalu memerintahkan, “Apabila nanti ketika aku sedang sakaratul maut maka letakkanlah tanganmu di atas tanganku. Apabila aku menggenggam tanganmu maka bakarlah semua bukuku. Karena berarti aku belum ihklas. Akan tetapi ketika aku tetap menghamparkan tanganmu, maka sebarkanlah buku-buku tersebut. Dan orang yang dipercaya oleh Mawardi mengatakan bahwa ketika Mawardi dalam keaadan sakaratul maut maka beliau menghamparkan tangannya dan tidak menggengamnya. (Siyar A’lam An Nubala’, XVIII/66-67)

Sehingga tanda keikhlasan terlihat ketika seseorang selalu merasa khawatir bahwa ibadah yang dikerjakan belumlah cukup. Semakin besar perasaaan itu muncul semakin giat dia beribadah dan semakin banyak doa dipanjatkan supaya apa yang telah dia kerjakakan dapat diterima Rabb-nya.

  1. Tidak menunggu dipuji

Seorang yang ikhlas ketika dia memberikan kebaikan kepada yang lain, dia tidak pernah merasa berhutang dan menungu kebaikan berbalik. Karena di antara kriteria keikhlasan adalah semakin banyak amalan maka semakin tidak membutuhkan pujian.

‫‫وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku tidak mengharap pahala darimu atas ajakan itu. Sesungguhnya tidak ada pahala kecuali hanyalah dari Allah yang mengusai alam.” (As Syu’ara: 109)

 

Besarnya Pahala setara dengan Keikhlasan

Sesungguhnya Allah menyikapi para hamba-hambaNya di akhirat sesuai dengan niat-niat mereka di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى نِيَّاتهِمْ

“Manusia dikumpulkan (di padang mahsyar-pen) berdasarkan niat-niat mereka” (HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

 

Maka sungguh berbahagia orang-orang yang ikhlas tatkala di akhirat kelak. Hari di mana Allah akan mengungkapkan seluruh yang tersembunyi di hati. Allah berfirman

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (At-Thaariq : 9)

Ibnu Taimiyyah berkata, “Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah merupakan agama yang Allah tidak akan menerima selain agama yang ikhlas tersebut. Agama yang ikhlash inilah yang Allah turunkan bersama para nabi. Dari Nabi yang pertama hingga para nabi yang terakhi. Dan inilah intisari dari dakwah Nabi dan dia merupakan poros Al Qur’an yang karenanya ia diturunkan.” (Majmu Fatawa, X/49). Barakallah fikum.

 

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.