Di zaman modern ini kita sebagai seorang muslim dihadapkan dengan suatu fakta bahwa jika kita tidak memiliki skill mandiri maka kita akan tertinggal dengan ganasnya kehidupan bebas ini. Kita hanya akan menjadi seorang muslim yang cuma menonton saja akan kesuksesan kehidupan orang lain tanpa bisa mengejarnya.

Nah tentu saja hal ini merupakan kemunduran dan merupakan bentuk kekalahan kita dibandingkan dengan musuh-musuh islam yang hari ini sedang menguasai panggung kekuasaan dunia.

Berangkat dari Pentingnya Membekali Anak Ketrampilan Kerja profesional ini kami majalah taujih akan mengangkat satu artikel dengan tema akan urgensi kenapa kita sebagai seorang orang tua yang beradab harus mengajarkan anak-anak kita untuk memiliki skill profesional untuk menghadapi ganasnya kehidupan yang saat ini sedang dikuasai oleh kaum kafirin.

Membekali Anak Ketrampilan Kerja

Anak merupakan amanah yang diberikan Allah kepada para orangtua. Orangtua harus menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Adapun salah satu cara menjaga amanah tersebut adalah dengan mengajarkan ilmu syar’I dan mendidiknya sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (التحريم : 6)

 

Lihat tafsir Ibnu Katsir

Selain mendidik dan mengajarkan agama Islam, orang tua juga berkewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya keahlian bekerja sebagai sumber penghasilan. Baik mengajarkan berdagang, bertani, berkebun, bengkel, pertukangan dan ketrampilan serta keahlian lainnya. Hal ini dimaksudkan agar anak di masa yang akan datang mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhannya dan tidak mengharap uluran tangan dari orang lain. Sebab makanan terbaik yang dikonsumsi seorang muslim adalah yang berasal dari jerih payahnya.

Sebagian pendidik, seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina menyatakan bahwa sangat baik bila setelah mengajarkan ilmu-ilmu syar’I, orang tua harus memperhatikan kecenderungan anak terhadap profesi yang hendak ditekuni, selama profesi itu tidak bertentangan dengan syar’i.

Dalil Dari Alquran dan Hadist akan Pentingnya membekali anak dengan keahlian kerja

Di dalam Al Qur’an Allah menyebutkan ayat-ayat yang menganjurkan seseorang untuk mencari rezeki dari sumber yang halal. Akan tetapi dengan syarat tidak melalaikan akhirat.

Allah berfirman:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Terjemah Arti: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

(Al Qashash: 77)

Allah juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemah Arti: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(Al Jumu’ah: 9-10)

Rasulullah pun juga menghasung umatnya untuk makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Karena yang demikian lebih baik dan mulia. Sebagaimana diriwayatkan dari Al Miqdam radliallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

 

“Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (HR Bukhari)

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda:

مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ

“Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya sendiri. Dan apa-apa yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, isteri, anak dan pembantunya adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Aisyah RA, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sebaik-baik dari apa yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang berasal dari hasil usahanya, dan anak adalah hasil dari usahanya.” (HR. At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Hiban dan lain-lain)

 

Dari Abu Mas’ud Al Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

“Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah.” (HR. Al Bukhari)

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ

“Orang yang memberi kecukupan kepada para janda dan orang-orang miskin, maka ia seperti halnya seorang mujahid di jalan Allah atau seorang yang berdiri menunaikan qiyamullail dan berpuasa di siang harinya.” (HR. Al Bukhari)

Diriwayatkan dari Sa’ad, Rasulullah bersabda:

وَإِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya apa saja yang kamu keluarkan berupa nafkah sesungguhnya itu termasuk shadaqah sekalipun satu suapan yang kamu masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Al Bukhari)

Aisyah berkata, “Para shahabat Rasulullah adalah pekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, sehingga mereka beraroma kurang sedap Lalu dikatakan kepada mereka, “Seandainya kalian mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).

Bahkan orang yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya termasuk fi sabilillah, di jalan Allah. Diriwayatkan dari Ka’ab bin  ‘Ujrah, ia berkata, ‘’Seorang laki-laki  berjalan melewati Nabi. Para sahabat melihat ketabahan  dan kegiatannya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya jerih  payah itu dilakukan di jalan Allah?”

Nabi bersabda, Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan orangtuanya yang sudah renta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia berada di jalan Allah. Namun jika ia keluar untuk bekerja karena riya’ dan kebanggaan, maka ia berada di jalan setan.” (Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dan perawinya dalah perawi yang tsiqah)

 

Larangan Meminta-minta

Tidak sedikit orang yang berilmu namun tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Ia hanya mengharapkan uluran tangan dari orang lain. Padahal meminta-minta merupakan perbuatan tercela yang tidak layak dilakukan seorang muslim kecuali dalam keadaan darurat. Rasulullah memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ“Barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya. Barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran”. (HR. Al Bukhari)

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Apabila seseorang selalu meminta-minta kepada orang lain, maka pada hari qiyamat dia datang (menghadap Allah) sedang di wajahnya tiada sekerat daging pun”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah juga menghasung para shahabatnya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhannya. Bahkan bekerja dengan mencari kayu bakar itu lebi baik dari meminta-minta kepada orang lain. Dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada beliau, kemudian beliau bertanya: “Apakah di rumahmu terdapat sesuatu?” Ia berkata; “Ya, alas pelana yang kami pakai sebagiannya dan kami hamparkan sebagiannya, serta gelas besar yang gunakan untuk minum air.” Beliau berkata: “Bawalah keduanya kepadaku.”

Kemudian ia membawanya kepada beliau, lalu Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam mengambilnya dengan tangan beliau dan berkata; “Siapakah yang mau membeli kedua barang ini?” Seorang laki-laki berkata; saya membelinya dengan satu dirham. Beliau berkata: “Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?” Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata; “Saya membelinya dengan dua dirham.”

Kemudian beliau memberikannya kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham. Beliau memberikan uang tersebut kepada orang anshar tersebut dan berkata: “Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah kapak kemudian bawalah kepadaku.” Kemudian orang tersebut membawanya kepada beliau, lalu Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam mengikatkan kayu pada kapak tersebut dengan tangannya kemudian berkata kepadanya: “Pergilah kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari.”

Kemudian orang tersebut pergi dan mencari kayu serta menjualnya, lalu datang dan ia telah memperoleh uang sepuluh dirham. Kemudian ia membeli pakaian dengan sebagiannya dan makanan dengan sebagiannya. Kemudian Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta datang sebagai noktah di wajahmu pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud)

Penutup akan Urgensi masalah ini

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk mengajarkan ketrampilan kerja kepada anak. Dengan ketrampilan tersebut anak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan memberi nafkah kepada keluarga kelak setelah ia menikah. Tidak meminta-minta dan mengharapa uluran tangan orang lain. Selain itu anak juga mendapat penghasilan yang halal, terhindar dari perkara yang syubhat dan haram. Wallahhu a’lam

 

Untaian-untaian nasehat hati Penuh Hikmah

Nasehat sangatlah diperlukan bagi setiap manusia yang hidup dimuka bumi ini. Karena dengan nasehat yang diberikan orang lain kepada kita, maka kita bisa mengerti akan kesalahan-kesalahan yang ada pada diri kita.

Sehingga dengan nasehat-nasehat yang diberikan orang lain kepada kita, maka kita bisa membenahi kesalahan-kesalahan tersebut. Agar diri kita ini menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat kepada sesama.

Berikut ini admin majalah taujih berikan sedikit untaian nasehat hati yang inshaAllah penuh hikmah dan bagus untuk kita renungi

Untaian-untaian nasehat hati Penuh Hikmah

Jika Allah memberikan anda harta yang melimpah ,maka anda wajib mesyukurinya ,dan jika anda miskin maka bersabar sudah menjadi kewajiban anda .Apabila anda berkeluh kesah maka takdirpun akan terus berjalan dan anda mendapatkan dosa ,dan jika anda bersabar maka takdirpun akan terus berjalan dan anda mendapatkan pahalanya.Itulah kewajiban yang telah digariskan oleh syari’at atas manusia ,karena sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian ,barangsiapa menyikapi ujian sesuai dengan yang diperintahkan maka ia adalah orang yang mulia dan selamat .

Rasulullah bersabda,

ما يزال البلاء با المؤمن و المؤمنة في نفسه وولده وما له حتى يلقي الله وما عليه خطيىْة,

 Cobaan akan selalu menerpa setiap muslim baik dalam masalah jiwanya,anaknya,dan hartanya ,sehingga mereka menemui Allah tanpa ada dosa sedikitpun.”(HR.Tirmidzi,dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani;2270).

Ali bin Abi Thalib mengatakan ,”JIka engkau bersabar ,takdir akan terus berjalan dan engkau akan mendapatkan pahalanya,sedangkan jika engkau menggurutu takdirmu akan terus berjalan dan engkau akan mendapatkan dosa.”

Utbah bin Gazwan berkata,”Sesungguhnya dunia ini telah mengingatkan akan kehancurannya dan melaju dengan cepatnya serta tidak tersisa darinya kecuali hanya seperti air dari bejana yang telah dituangkan oleh pemiliknya .Sesungguhnya kalian akan berpindah dari alam dunia ke alam yang tidak mengalami kebiasaan .Oleh karena itu berpindahlah kalian dengan membawa bekal kebaikan yang ada pada kalian “…(HR.Muslim ;2967)

Imam As-Syafi’I rahimallahu mengatakan,”Bertakwalah kepada Allah ,bayangan akhirat  dalam hatimu .Jadikanlah kematian dipelupuk matamu ,dan janganlah engkau melupakan saat berdiri dihadapan Allah ,jauhilah larangan-larangan –Nya dan kerjakan kewajiban-kewajiban-Nya .Tetaplah konsisten bersama kebenaran dimanapun berada,sekali-kali janganlah meremehkan kenukmatan yang diberikan Allah untukmu meski hanya sedikit ,sambutlah ia dengan rasa syukur.Hendaklah diammu dalam keadaan berfikir ,ucapanmu berupa dzikir ,dan pandanganmu ditujukan untuk mengambil ibrah.”

Imam Ibnu Qayyim rahimallah mengatakan ,”apabila orang-orang merasa kaya dengan dunia,maka hendaklah engkau merasa kaya dengan dunia ,maka hendaklah engkau merasa kaya dengan Allah ,dan kalau orang lain bangga dengan harta ,maka hendaklah engkau bangga dengan Rabb-mu.Dan apabila manusia tenang dengan kekasih mereka ,maka hendaklah engkau tenang dengan Allah ,dan manakala mereka mendekati raja dan para sultan serta penguasa (dunia) untuk meraih kemuliaan dan kedudukan ,maka dekatilah Allah Rabb-mu ,dan cintailah pasti engkau akan memperoleh izzah dan keluhuran.”(Al-Fawa’id)

Ibnu Mas’ud berkata ,”Ridhailah apa yang Allah telah berikan kepadamu ,niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.Jauhilah hal-hal yang dilarang Allah niscaya engkau menjadi orang yang paling wara’ ,tunaikanlah apa yang sudah menjadi kewajibanmu niscaya engkau akan menjadi orang yang paling ahli dalam ibadah.”(Siyaru ‘Alamin An-Nubala’;1/497)

Al-Hasan Al-Basri rahimallah berkata,”Orang mukmin adalah kuat atas dirinya ,dia menghisab dirinya  karena Allah ,sesungguhnya hisab itu bisa jadi ringan bagi suatu kaum di hari kiamat ,yang ketika selama di dunia mereka rajin menghisab (mengintropeksi) dirinya . Sesungguhnya hisab itu berat bagi suatu kaum di hari kiamat ,yaitu mereka yang yang tidak melakukan muhasabah di dunia.”(Tadzkiyatu An-Nafs;75).

Saudaraku carilah dunia dengan cara yang baik dan halal. Janganlah hanya karena mencari sesuap nasi anda melakukan apa-apa yang diharamkan dan melupakan kewajiban kepada Sang Pencipta . Ingatlah Allah dimana pun anda berada ,ingatlah Ia tatkala anda dalam keadaan lapang ,niscaya Dia akan mengingat anda di waktu anda dalam keadaan sempit.Sembahlah Allah ,kerjakanlah sholat ,tunaikanlah zakat,kerjakanlah segala apa yang telah di wajibkan atas anda ,dan tinggalkanlah segala sesuatu yang di larang atas anda ,serta perlakukanlah dunia ini sesuai dengan apa yang di ridhaiNya ,niscaya kebahagiaan dan nikmatnya kehidupan akan anda dapatkan .

 

Sifat-sifat Orang-orang Munafik Yang wajib untuk kita hindari

Banyak sekali sifat-sifat tercela yang harus dihindari oleh seorang muslim sejati. Diantaranya adalah sifat-sifat yang ada didalam diri orang munafik, tentu kita sebagi seorang muslim tidak ingin terjerumus kedalam nerakaNya karena adanya sifat-sifat kaum munafik yang melekat didalam diri kita.

Kita berdoa kepada Allah SWT semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat nifak yang ada didalam diri kita. Kita memohon kepada Allah swt agar menjadikan kita mukmin sejati yang mampu untuk menjauhi sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang munafik.

Allah menyebutkan kata nifak berikut beberapa pecahan katanya sebanyak 37 kali dlm beberapa surat yg berbeda-beda yaitu surat Ali Imron, al Hasyr dll. Hal ini menjadi indikasi betapa berbahayanya kaum munafik terhadap masyarakat dan agama Allah. Kita memohon kpd Allah agar menyelamatkan diri kita dari bahaya kaum munafik.

Berikut di antara Sifat orang munafik menurut Al Qur’an:

Alquranulkarim yang diturunkan oleh Allah SWT kepada nabiNya Muhammad SAW telah menjelaskan dengan detail dan sangat rinci akan sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang munafik.

Dengan segala hikmahNya Allah Swt menjelaskan kepada kita para hamba-hambanya untuk selalu menjauhi sifat-sifat kaum munafik. Berikut ini kami ringkaskan 20 Sifat Kaum Munafik Yang Wajib Untuk Kita Hindari agar kita menjadi seorang mukmin yang sejati dan tidak terkontaminasi oleh penyakit-penyakit nifak.

1. Suka berdusta :

Ibnu Taimiyah رحمه الله menjelaskan,”Dusta adalah salah satu pilar kekafiran.” Beliau juga menjelaskan bahwa apabila Allah menyebut kata munafik dlm al Qur’an, maka selalu saja menyebutkan kata dusta bersamanya. Dan apabila Allah menyebutkan kata dusta, maka selalu saja diiringi dgn kata munafik.

Allah berfirman :

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka menipu Allah dan orang-orang yg beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tdk sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yg pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS al Baqoroh 9-10)

Bila Allah menyebutkan kata nifak, maka biasanya Allah juga menyebutkan karakter ‘jarang berdzikir’. Sementara, bila Allah menyebutkan kata iman, maka biasanya Allah menyebutkan juga kata dzikir kpd Allah.

Allah berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An Nisa’ 142)

Dan Kemudian Allah SWT Berfirman di ayat yang lain :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yg beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yg membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yg rugi.

(QS al Munafiqun 9)

Allah menepis sifat kemunafikan dari diri orang-orang beriman, dgn menyebutkan bahwa mereka suka berdzikir kpd-Nya. Sementara kaum munafik, Allah gambarkan sebagai orang-orang yg jarang berdzikir.

اللهم اجعلنا هداة مهتدين

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yg memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk.

 

20 Sifat Kaum Munafik Yang Wajib Untuk Kita Hindari

 

 

2. Malas Beribadah

 

Allah berfirman :

وإذا قاموا الى الصلاة قاموا كسالى

Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dgn malas.

( QS an Nisa’ 142 )

Kalau kita melihat adanya orang yg bermalas-malasan saat melaksanakan sholat, dlm berlomba-lomba meraih shof pertama, berdzikir, berdakwah, menuntut ilmu, dan dlm menghadiri majlis2 kebajikan, maka ketahuilah bahwa ada bisikan setan dlm hatinya. Setan ingin agar hatinya lengah dan bersenang-senang saja. Hal itu harus diwaspadai.

Bukan berarti orang yg telah melaksanakan sholat selamat dlm kemunafikan. Dahulu, kaum munafikpun sholat bersama Rosulullah صلى الله عليه وسلم. Namun, ciri khas sholat mereka adalah terlihat seperti bermalas-malasan. Mereka bangkit melakukan sholat dgn malas dan dingin, seolah-olah tak hidup dan tak berkekuatan. Padahal Allah berfirman :

يا يحيى خذ الكتاب بقوة

Hai Yahya, ambilah al kitab (taurot) itu dgn sungguh-sungguh.

QS Maryam 12

Adapun mereka seolah-olah salah seorang dari mereka menyeret kakinya, seperti seseorang dibelenggu dgn mata rantai dan menyeretnya menuju masjid. Anda akan melihatnya hanya berdiri di pinggir shof atau di bagian belakang masjid, ia tdk mentadaburinya dan tdk menyimak dgn seksama.

Dalam Shohih Muslim ada sebuah riwayat dari al Aswad bin Yazid Al ‘Iroqi, seorang ahli ibadah, ia menuturkan,”Aku pernah bertanya kpd Aisyah,”Kapan biasanya Rosulullah صلى الله عليه وسلم bangun untuk sholat malam ? ‘Aisyah menjawab,”Beliau biasa bangun setelah mendengar lengkingan. Yang dimaksud dgn lengkingan yaitu suara ayam jantan berkokok. Aisyah menjelaskan,”Biasanya beliau langsung melompat bangun.” Aisyah tdk mengatakan bahwa beliau langsung berdiri, tapi langsung melompat bangun. Ini menunjukan bahwa beliau seorang pemberani, cekatan dan bersemangat. Iman beliau membara dan tekad beliau betul-betul kuat, sehingga beliau melaksanakan ibadah dgn sigap dan tunduk.

Karenanya, kita sering menyaksikan orang sholeh yg selalu melihat ke arah jarum jam, kpn akan bergema adzan? Apakah waktu sholat sudah masuk? Apakah waktunya sdh tiba? Kemudian ia segera bangkit berdiri.

اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu dzikir kpd-Mu, betsyukur kpd-Mu dan memperbagus ibadah kpd-Mu.

 

3. Riya dalam ibadah

Allah berfirman :

يرآون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا

Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. QS An Nisa’ 142

Dalam Shohihul Bukhori dan Shohih Muslim disebutkan bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

من راءى الله به، ومن سمع سمع الله به

Barangsiapa yg bersikap riya’, maka Allah akan memperhatikan keriya’annya di akhirat kelak. Barangsiapa suka memperdengarkan ibadahnya, maka Allah akan memperdengarkan perbuatannya itu kelak.

Dihadapan orang banyak ia bisa kelihatan khusyuk, namun saat sholat sendirian dan tanpa bersama orang lain, ia sholat tak ubahnya seperti ayam mematuk. Kalau sedang duduk-duduk bersama orang banyak, ia kelihatan zuhud dan taat beribadah, selalu menjaga sopan santun dlm ucapan dan tutur katanya, tapi kalau sendirian, ia nekat melakukan hal-hal yg diharamkan oleh Allah.

 

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dgn sanad yg layak disebut hasan, bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

*Pada hari kiamat nanti, akan datang sekelompok orang membawa banyak kebajikan laksana gunung Tihamah yg berwarna putih yg akan diubah oleh Allah menjadi debu yg beterbangan.* Para sahabat bertanya : *Wahai Rosulullah! Bukankah mereka adalah kaum muslimin?* Beliau menjawab : *Benar. Mereka sholat sebagaimana kalian sholat. Mereka juga berpuasa seperti kalian berpuasa. Bahkan mereka memiliki kelebihan harta untuk disedekahkan, dan juga melaksanakan sholat malam. Tapi kalau sedang sendirian, mereka gemar melaksanakan perbuatan-perbuatan haram.*

 

Riya’ adalah ciri kemunafikan. Ia beramal hanya ingin dilihat oleh orang lain dan berbicara hanya ingin dilihat orang lain. Kita memohon kpd Allah agar membersihkan jiwa kita dari penyakit riya’ dan sum’ah. Karena keduanya adalah penyakit yg berbahaya. Bila penyakit tsb menimpa seorang hamba, maka rusaklah amal perbuatannya.

Amin

4. Jarang Berdzikir

Allah berfirman :

 

ولا يذكرون الله الا قليلا

Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

QS Ali Imron 142

Dalam ayat itu tdk disebutkan,” *Dan tidaklah mereka menyebut Allah”* tapi disebutkan, ” *Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”*. Bisa jadi, seorang munafik berdzikir dan bertasbih kpd Allah, tapi jarang. Lesan dan hatinya telah mati atau sakit. Ia tdk memiliki semangat berdzikir.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

 

تلك صلاة المنافق، تلك صلاة المنافق، تلك صلاة المنافق، يرقب الشمس حتى تدنو من المغرب. وفي لفظ: حتى تصفر، ثم يقوم فينقر أربع ركعات لا يذكر الله فيها الا قليلا

Demikianlah sholat orang munafik. Demikianlah sholat orang munafik. Demikianlah sholat orang munafik. Ia hanya menunggu-nunggu matahari hingga hampir tenggelam. Dalam lafadz yg lain disebutkan,” Hingga matahari menguning, kemudian bangkit dan mematuk empat kali. Hanya sedikit berdzikir kpd Allah. (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Adapun tanda keimanan adalah banyak berdzikir. Ibnul Qoyyim menjelaskan dlm bukunya Al Wabil Ash Shoyyib :” *Kalau saja manfaat dzikir itu hanya menyelamatkan pengucapnya dari kemunafikan, maka itu sdh cukup.”*

Ada orang bertanya kpd Ibnu Ash Sholah, seorang ahli fiqih bermadzhab syafi’iyah:”Seberapa batas dikatakan banyak berdzikir?” Beliau menjawab :” Barangsiapa yg secara konsisten membaca dzikir2 yg disyareatkan dari Nabi, berarti ia sdh banyak dzikir.”

Sebuah riwayat dinisbahkan kpd Ibnu Abbas bahwa ia mengatakan:” Barangsiapa berdzikir kpd Allah,saat bermukim dan saat melakukan perjalanan, saat di rumah dan di luar rumah, saat sehat dan sakit, berarti ia telah banyak berdzikir kpd Allah.”

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

Ya Allah, tolonglah aku agar selalu dzikir kpd-Mu,  bersyukur kpd-Mu dan memperbagus ibadah kpd-Mu.

 

5. Mematuk dalam Sholat

Telah kami sebutkan dlm hadits diatas, ” *Demikianlah sholat orang munafik … mematuk empat kali*. Artinya, sholat dgn cepat sekali dan tdk khusyu’, tergesa-gesa, tdk tenang, sedikit berdzikir, pikiran ke mana-mana, tdk mampu membayangkan keagungan, kebesaran, dan kedudukan Allah. Inilah ciri-ciri orang munafik.

Ibnul Qoyyim didalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan,”Terkadang seseorang sholat disamping saudaranya dlm satu shof dan satu imam, namun sholat keduanya berbeda satu dgn yg lain, ibarat antara langit dan bumi.” Sebab yg satu memendam keukhlasan, kerinduan, muroqobah (merasa diawasi Allah), dan rasa takut, sementara yg lain pikirannya ke mana-mana, jauh dan tdk ada ruh (khusyu’ dlm sholat). Wal ‘iyadzu billah.

Hendaklah kita menaruh perhatian tentang kekhusyukan dlm sholat. Allah berfirman :

قد أفلح المؤمنون. الذين هم في صلاتهم خاشعون. والذين هم عن اللغو معرضون.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yg beriman, (yaitu) orang-orang yg khusyuk dlm sholatnya, dan orang-orang yg menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yg tiada berguna.

QS Al Mukminun 1-3

 

6. Melecehkan Kaum Mukminin yg taat dan Orang-orang sholeh.

Arti melecehkan disini adalah mencemari kehormatan dan mengejek mereka secara lesan. Kaum mukminin yg taat disini termasuk orang-orang yg suka bersedekah karena ketaatan kpd Allah dan berkorban dijalan Allah. Dan juga termasuk didalamnya para ulama dan aktifis-aktifis Islam yg sedang melaksanakan ibadah dakwah, amar makruf dan nahi mungkar dan jihad di jalan Allah.

Anda akan mendapati bahwa yg diincar oleh orang munafik dlm setiap kesempatan adalah orang-orang sholeh dan orang-orang taat, yg dianggap sebagai orang kolot, ekstrem (radikal),  intoleran dan layak diganggu. Tak pernah terdengar ia membicarakan kaum Yahudi, Nasrani, atheis atau kaum zindiq. Sepanjang hari, pagi dan sore, mereka hanya mengobrolkan tentang wali Allah (orang beriman dan bertaqwa) yg mereka kecam, mereka hina dan mereka lecehkan.

 

Allah berfirman :

إن الذين أجرموا كانوا من الذين آمنوا يضحكون. وإذا مروا بهم يتغامزون. وإذا انقلبوا إلى أهلهم انقلبوا فاكهين. وإذا رأوهم قالوا إن هؤلاء لضالون.

Sesungguhnya orang-orang yg berdosa, adalah mereka dahulu menertawakan orang-orang yg beriman. Dan apabila orang-orang beriman lewat dihadapan mereka, mereka saling mengedik-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kpd kaumnya, mereka kembali dgn gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan:”Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang sesat. (QS al Muthoffifin 29-32)

 

Berkata Syaikh Sholeh Fauzan hafidhohullah :

 

Seperti inilah apa yg sebagian mereka katakan : “Sesungguhnya Islam sudah tdk cocok lagi di abad duapuluh, sesungguhnya ia (Islam) hanya cocok di abad pertengahan, dan ia (Islam) adalah ketinggalan jaman, kolot, dan di dalam hukuman hudud dan takzir terdapat kekejaman dan tdk berperi kemanusiaan, ia mendholimi wanita dan haknya karena membolehkan perceraian dan poligami.” Mereka juga mengatakan : “Berhukum dgn hukum buatan manusia lebih baik dari pada hukum Islam, mereka juga mengatakan terhadap orang yg mendakwahkan tauhid dan mengingkari beribadah kpd kuburan : Ini orang ekstrem atau dia hendak memecah belah persatuan dan kesatuan kaum muslimin, atau dia adalah wahabi atau ini madzhab kelima atau agama bukan hanya dlm rambut sebagai bentuk perolok-olokan kpd memanjangjan jenggot dan perkataan-perkataan yg serupa yg semuanya mencela agama, pengikutnya dan memperolok-olok akidah yg benar.” (Kitabut Tauhid hal 47)

 

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

 

وإن الرجل ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها يهوي بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب

Dan sesungguhnya ada seseorang berkata dgn perkataan, dia tdk berfikir apakah ia baik atau buruk didalamnya yg dia terjerumus dgnnya di neraka lebih jauh jarak antara timur dan barat.

HR Bukhori dan Muslim

اللهم اجعلنا هداة مهتدين

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yg memberi petunjuk (ilmu) dan orang-orang yg diberi petunjuk.

 

7. Mengejek al Qur’an dan al Hadits, serta Rosulullah

Penulis pernah mendengar kisah seorang lelaki fasik di zaman ini, bahwa ia pernah duduk bersama sekelompok pemuda, lalu mengajak dan menggiring para pemuda itu menjauh dari jalan surga, dan membawa mereka menuju jalan neraka. Ia berkata kpd para pemuda itu,”Maukah kalian kuceritakan sebuah hadits Rosulullah صلى الله عليه وسلم dari Abu Huroiroh? Mereka menjawab,”Cobalah ceritakan kpd kami hadits dari Abu Huroiroh itu.” Ia berkata,”Bibiku telah menceritakan kepadaku, ia berkata bahwa bibinya telah menceritakan kpdnya bahwa neneknya telah mendengar seseorang berkata,”Suatu hari Rosulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda kpd para sahabat yg mengerumuni beliau,”Tahukah kalian, apa itu BBC?” Para sahabat menjawab,” Kami tdk tahu,” Beliau bersabda,” Pergi kalian dari hadapanku! Masak kalian tdk tahu apa itu BBC!”

Dengan ucapan itu, ia telah kafir dan darahnya menjadi halal, tdk boleh disholatkan, dikafani dan dikebumikan di perkuburan kaum muslimin. Karena ia telah kafir.

Allah berfirman :

قل أبالله وآيته ورسوله كنتم تستهزءون

Katakanlah : “Apakah dgn Allah, ayat-ayatNya dan RosulNya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, krn kamu kafir sesudah beriman.” (QS at Taubah 65-66)

Allah menurunkan ayat ini kpd sekelompok kaum munafikin yg juga sholat, berpuasa dan berjihad bersama Rosulullah صلى الله عليه وسلم . Akan tetapi, mereka terbiasa begadang dan mengobrol. Salah satu diantara mereka mengatakan,”Sungguh kita belum pernah melihat orang-orang seperti para qori’ kita ini (para sahabat) , yakni yg lebih gendut (besar perutnya) dari mereka dan lebih pengecut dari mereka saat menghadapi musuh.”  Maka Allah menurunkan firmanNya yg menjelaskan kekafiran mereka, kemurkaanNya terhadap mereka, sekaligus membuka aib mereka dihadapan para para makhluknya. Tidak ada yg berhak diibadahi secara benar melainkan Allah. Sungguh betapa banyak istana Islam yg telah mereka hancurkan. Balasan bagi mereka adalah neraka jahanam, dan sungguh ia adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Pelecehan itu bisa terbungkus dlm bentuk pelecehan thd sunnah Rosulullah صلى الله عليه وسلم. Contoh, melecehkan pakaian, siwak, jenggot, cara duduk, berlaku menurut ajaran sunnah, dan hadits Rosulullah صلى الله عليه و سلم. Status orang yg melakukan pelecehan itu secara sengaja adalah kafir.

اللهم اجعلنا هداة مهتدين

Ya Allah, jadikanlah kami orang yg memberi petunjuk (ilmu) dan mendapatkan petunjuk.

 

8. Suka Bersumpah Palsu

 

Allah berfirman :

اتخذوا أيمانهم جنة فصدوا عن سبيل الله فلهم عذاب مهين

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai.

QS Al Mujadalah 16

 

Yakni untuk membela diri mereka. Jika anda bertanya kpdnya, maka ia bersumpah. Sumpah adalah hal yg mudah bagi mereka, dan itu mereka lakukan dgn dusta. Mereka sedemikian mudah menggunjing orang lain. Kalau ada orang digunjing mendengar gunjingan tsb, maka si penggunjing akan mengatakan :” Demi Allah, aku sama sekali tdk pernah menggunjingmu. Demi Allah, engkau adalah orang yg paling aku cintai! Engkau betul-betul temanku!” Ucapannya itu dusta, dan ia menjadikan sumpahnya hanya sebagai perisai bagi dirinya.

 

Diantara ciri orang munafik adalah banyak bersumpah secara dusta. Allah berfirman:

 

Maka jangan kamu ikuti orang-orang yg mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikut setiap orang yg banyak bersumpah lagi hina.

QS al Qolam 8-10

 

Imam Syafi’i menjelaskan,”Aku tak pernah bersumpah atas nama Allah, baik sumpah yg dusta ataupun benar. Tujuanku adalah untuk memuliakan Allah Yang Maha Esa dan karena keagunganNya.”

 

9. Merasa Terpaksa disaat berinfak.

 

Anda akan melihat seorang munafik bersedekah, berinfak dan berderma. Terkadang ia membangun masjid atau memberikan sesuatu. Tapi itu dilakukan hanya karena faktor riya’ atau sum’ah belaka. Ia akan berinfak dgn keterpaksaan. Ia bisa berinfak krn berbagai alasan pada dirinya yg hanya diketahui oleh Allah, baik karena ingin mengejar popularitas, mencari perhatian banyak orang, atau sekedar berbuat riya’ di hadapan sebagian orang. Ia berinfak dgn terpaksa yg pada dasarnya ia tdk ingin berinfak. Sebaliknya, seorang muslim akan berinfak dgn lapang dada dan merasa tentram. Ia akan memuji Allah krn telah dipermudah memujudkan amal kebaikan, membantu orang fakir atau miskin dan diterima sedekahnya. Ia akan memuji Allah krn dapat melakukan semua itu.

 

*Inilah yg dijanjikan bagi orang yg gemar berinfak:*

 

Allah berfirman :

وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين

Dan apa saja yg kamu infakan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yg terbaik.

QS as Saba’ 39

 

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : Allah berfirman :

يا ابن آدم آنفق أنفق عليك

Hai anak adam, berinfaklah kamu, niscaya Aku akan (balas) infak atas kamu.

HR Bukhori & Muslim

 

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata : Telah bersabda Rosulullah صلى الله عليه وسلم :

إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة: الا من صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Apabila manusia meninggal niscaya terputuslah amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariyah atau ilmu yg diambil manfaat dgnnya atau anak sholeh yg mrndoakannya.

HR Muslim

 

Abu Na’im menyebutkan dlm Hilyatul auliya’ bahwa Uwais Al Qorni apabila memasuki sore hari dia bersedekah dgn apa yg ada dirumahnya berupa karunia dari makanan dan pakaian. Kemudia dia berkata :

اللهم من مات جوعا فلا تؤاخذني به، ومن مات عريانا فلا تؤاخذني

Ya Allah, barangsiapa yg mati krn lapar, maka jangan Engkau siksa aku dgnnya, dan barangsiapa mati karena telanjang, maka jangan Engkau siksa aku dgnnya.

 

*10. Pecundang:*

Diantara ciri kemunafikan adalah mereka selalu saja menjadi pecundang di barisan shof kaum muslimin. Arti menjadi pecundang disini, bahwa krn sikapnya, ia menjadi pecundang. Karena ia selalu saja merasa pesimis. Terkadang ia mengatakan,”Orang-orang kafir lebih kuat dibandingkan kaum muslimin.” Terkadang, ia berkata mencemooh,”Apakah kaum muslimin sanggup berperang melawan orang-orang yg sdh bersenjata nuklir dan bom atum? Mereka tdk mungkin mampu.”Kita kaum muslimin, sungguh sdh rusak, binasa, lemah dan mengenaskan.” Demikianlah ucapan yg selalu didengung-dengungkannya. Oleh sebab itu, kita bisa mendapati banyak kaum munafik yg baru datang dari luar negeri-negeri Barat, biasanya telah mengalami brain washing alias cuci otak, sehingga mereka tak ubahnya menjadi boneka-boneka kaum kafir dan penjajah asing, padahal mereka berasal dari generasi kita juga. Mereka selalu saja menggambarkan kehebatan Barat. Sebaliknya, mereka justru selalu menuturkan betapa lemah dan hinanya kaum muslimin. Karena mereka tdk pernah mencari kemuliaan dari Allah.

 

Allah berfirman :

إن ينصركم الله فلا غالب لكم

Jika Allah menolong kamu, maka tdk ada orang yg dapat mengalahkanmu.

QS Ali Imron 160

 

Allah berfirman :

 

Perumpamaan orang-orang yg mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yg membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yg paling lemah ialah rumah laba-laba.

QS Al Ankabut 41

 

Tapi ia tdk menyadari dan sama sekali tdk tahu bahwa kemuliaan itu hanya berasal dari Allah, sehingga selalu saja ia menjadi pecundang.

 

Kalau ia melihat ada orang yg hendak menghadiri ceramah, ia justru melecehkan,”Saya kira, ceramah seperti itu tdk ada gunanya. Karena isinya paling hanya,”Bertaqwalah kpd Allah, bertaqwalah kpd Allah,” ujarnya.

 

  1. Mendramatisir Peristiwa

 

Allah berfirman :

لئن لم ينته المنافقون والذين في قلوبهم مرض والمرجفون في المدينة لنغرينك بهم ثم لا يجاورونك فيها الا قليلا

Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yg berpenyakit dlm hatinya dan orang-orang yg menyebar berita bohong di Madinah tdk berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tdk lagi menjadi tetanggamu (di Madinah)kecuali sebentar. QS al Ahzab 60

 

Seorang pendramatisir, biasanya suka membesar-besarkan masalah. Saat terjadi peristiwa ringan, maka ia akan menggambarkannya seolah persoalan sulit dan besar. Saat si munafik mendengar terbunuhnya salah seorang mujahidin, serta merta ia berkata,”Aku mendengar bahwa ada sekitar seratus orang munjahidin yg terbunuh.” Sekiranya ia mendengar ada seorang ulama melakukan kekeliruan dlm satu masalah kecil, maka ia aka berkata,”Semoga Allah memberikan kpd kita petunjuk. Memang ia banyak kelirunya. Ulama macam apa pula dia! Ia betul-betul tdk mengerti apa-apa!”

 

Kalau ada seorang dai berbicara, dan ucapannya terselip tanpa disengaja, si pendramatisir masalah ini segera membesar-besarkan persoalannya dlm berbagai pertemuan,”Kalian dengar tdk, kalau dia ngomong begini dan begini?” Ia hanya mencuplik beberapa bagian dari ucapan si dai. Padahal, si dai tsb memiliki banyak kebajikan dan keutamaan yg sulit dihitung. Tapi, semua itu tdk disebarkan di tengah khalayak.

 

Asy Sya’bi mengungkapkan,”Sungguh belum pernah menyaksikan orang-orang seperti para pendramatisir masalah. Demi Allah, sekiranya aku melakukan 99 kali perbuatan baik, niscaya mereka segera melupakannya. Mereka hanya menghitung satu kesalahan saja yg kulakukan.” Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk bentuk menyebar kebohongan. Dengan cara ini, mereka berupaya menggoncang hati kaum muslimin.

  1. Menyuruh kemungkaran dan melarang yg makruf

Allah berfirman :

المنافقون والمنافقات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dgn yg lain adalah (sama), mereka menyuruh berbuat yg mungkar dan melarang berbuat yg makruf.

QS at Taubah 67

 

Berkata Syaikh Abdur Rohmah bin Nashir As Sa’dy رحمه الله dlm tafsirnya :

 

Firman Allah :

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض

*Yaitu :* Karena mereka berserikat dlm kemunafikan, maka merekapun berserikat dlm perwalian dan loyalitas sebagian dgn sebagian lainnya. Dan ini menunjukkan terputusnya bagi orang-orang mukmin untuk memberikan perwalian dan loyalitas kpd mereka (orang-orang munafik).

 

Kemudian Allah mensifati orang-orang munafik secara umum, maka Allah berfirman :

يأمرون بالمنكر

Yaitu : Mereka menyuruh kemungkaran yang berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

 

Firman Allah juga :

وينهون عن المعروف

Yaitu mereka melarang yg makruf yaitu melarang keimanan, akhlak yg mulia, amal-amal sholeh dan adab-adab yg baik.

 

Hal ini mereka lakukan karena kebencian dan permusuhan mereka kpd agama Islam dan umat Islam. Disamping itu mereka menginginkan kerusakan dimuka bumi dgn kekufuran, kesyirikan, kefasikan dan kemaksiatan. Anda dapat melihat mereka mempropagandakan kebebasan wanita, merusak dan melucuti jilbab dan hijab, memasyarakatkan lagu, majalah porno, narkoba dll. Disamping mereka melarang dakwah kpd tauhid, melarang kaum muslimin yg melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar, jihad fi sabilillah. Mereka juga menghalang-halangi persatuan umat Islam dan tegaknya syareat Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin.

 

13. Menyangkal takdir

 

Allah berfirman :

الذين قالوا لإخوانهم وقعدوا لو أطاعونا ما قتلوا

Orang-orang yg mengatakan kpd saudara-saudaranya dan mereka tdk turut pergi berperang,”Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tdk terbunuh.”

QS Ali Imron 168

 

Saat kaum muslimin keluar untuk perang Uhud, kaum munafik berkata : “Kalian tdk usah keluar, jangan berperang. Disini, duduk saja bersama kami.” Namun, kaum muslimin menampik ajakan mereka. Kaum muslimin tetap keluar berperang, dan akhirnya mati sebagai syahid. Kontan kaum munafik pun berlagak di berbagai majlis,”Kami sdh sarankan kpd mereka, kami telah menyampaikan nasehat kpd mereka, dan kami juga telah banyak berpesan, tapi mereka membandel. Sekiranya, mengikuti ajakan kami, pasti mereka tdk akan terbunuh.” Maka Allah berfirman :

قل فادرءوا عن أنفسكم الموت إن كنتم صادقين

Katakanlah,”Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yg benar. QS ali Imron 168

 

Demi Allah, mereka memang pendusta. Mereka pasti mati, tak ubahnya keledai yg mati. Sungguh benar apa yg diungkapkan seorang pujangga :

*Camkan! Kehinaan itu bukan krn kehilangan harta.*

*Kematian seekor kambing ataupun onta*

*Kehinaan adalah saat seseorang kehilangan nyalinya*

*sehingga kematiannya itu menyebabkan banyak pula orang yg binasa.*

 

Seorang mukmin selalu berserah diri kpd takdir. Dihadapan matanya terpampang firman Allah :

 

“Tiada sesuatu pun yg menimpa di bumi dan (tdk pula) pada diri sendiri melainkan telah tertulis dlm kitab (Lauhul Mahdudz) sebelum Kami menciptakannya.

QS al Hadid 22

 

Seorang munafik akan selalu saja menyangkal takdir Allah dan tdk ridho terhadapnya. Kalau terjadi musibah, ia kontan berkata,”Bagaimana ini bisa terjadi? Coba aku berbuat begini dan begini sebelumnya, tentu hasilnya tdk demikian.” Ia mudah saja mencerca orang lain dan serta merta mengingkari takdir dan ketetapan Allah.

 

Sementara orang mukmin akan berkata,”Aku beriman dan berserah diri,” Ia sadar, bahwa segala sesuatu terjadi atas dasar takdir dan ketetapan Allah.

 

14. Mencela kehormatan orang-orang sholih

 

Mencela kehormatan orang-orang sholih berbeda dgn mengolok-olok mereka. Mencela setara dgn menggunjing. Allah berfirman :

سلكوكم بألسنة حداد أشحة على الخير

Mereka mencaci kamu dgn lidah yg tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan.

QS al Ahzab 19

 

*Tajam*yg dimaksud disini, seperti pedang. Anda bisa saksikan, bila mereka berpaling dari hadapan orang-orang sholih, mereka akan mengecam dan mencemari nama baik mereka dgn menggunjing mereka diberbagai forum.

 

Ibnu Taimiyah رحمه الله menjelaskan bahwa *doa*saja terkadang bisa menjadi *gunjingan,* tergantung niat pelakunya. Kalau anda ditanya,”Bagaimana pendapatmu tentang si fulan,” lalu si munafik menjawab,”Semoga Allah mengampuni kita, dan mengampuninya,” tapi pada dasarnya ia tdk menginginkan Allah mengampuni dosa-dosanya. Ia menghendaki tujuan lain yg hanya diketahui oleh Allah. Atau, ia akan menanggapinya,” Semoga Allah mengampuni kita krn cobaan Allah melalui orang itu!” Atau, bisa saja dgn ucapan,” Semoga Allah memberinya petunjuk!”

 

Bahkan, sekedar ucapan *tasbih* saja bisa mengubah menjadi *gunjingan*. Seperti dijelaskan oleh Ibnu Mubarok رحمه الله ,” Suatu saat disebutkan nama seorang laki-laki dihadapan salah seorang penguasa. Salah seorang menteri ketika itu berkata,” Subhanallah! Maksudnya,’Hati-hati terhadapnya.’ Secara lahiriyah, tampaknya ia bertasbih, namun sejatinya ia sedang menyindir dan mencemooh orang itu.”

 

Semua tujuan hati ini talah diketahui oleh Allah, dan kelak Allah akan membeberkannya di saat semua penghuni kubur dibangkitkan dan seluruh isi hati umat manusia dibongkar. Anehnya, sebagian orang tdk menggubris orang-orang Yahudi ataupun orang-orang Nasroni, tapi selalu saja ia menyudutkan sesama muslimin.

 

Ada seorang lelaki datang menjumpai salah seorang pria sholih, lalu menggunjing salah seorang saudaranya. Pria sholih itu bertanya,” Apakah engkau pernah berperang melawan kaum Romawi?” Lelaki itu menjawab,” Belum.” ” Engkau pernah berperang melawan Persia?” Lelaki itu menjawab,” Juga belum.”

 

Pria sholih itu menukas,” Bangsa Romawi dan Persi bisa selamat darimu, tapi seorang muslim justru tdk pernah selamat dari cercaanmu? Sudah, tinggalkan aku.”

 

15. Meninggalkan Sholat Berjamaah

 

Ini penyakit kronis yg termasuk penyakit paling berbahaya. Dalam Shohih Muslim dari hadits Ibnu Mas’ud رضي الله عنه، Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

 

وما يتخلف عنها الا منافق معلوم النفاق

Yang selalu meninggalkan sholat jamaah hanyalah orang munafik yg sdh jelas-jelas kemunafikannya.

 

Sekiranya anda menyaksikan seorang yg gemuk, sehat, kuat dan banyak waktu senggangnya, serta tdk memiliki udzur yg dibenarkan syariat, lalu dia mendengar adzan dan tdk mau datang ke masjid, maka percayalah dia itu orang munafik.

 

Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda, sebagaimana yg tertera dlm sebuah hadits shohih :

 

“Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya. Aku betul-betul ingin memerintahkan dicarikan setumpuk kayu bakar, kemudian aku perintahkan agar dikumandangkan adzan untuk sholat, setelah itu aku perintahkan seseorang mengimami sholat. Lalu aku akan mendatangi orang-orang yg tdk mau hadir dlm sholat jamaah, dan membakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya, kalau salah seorang mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan tetelan dan daging paha yg empuk (sebagai pahalanya), pasti ia akan mau menghadiri sholat Isya’.

HR Bukhori dan Muslim

 

Dalam lafat imam Ahmad disebutkan :

 

لولا ما في البيوت من النساء والذرية لأقمت الصلاة

Kalau saja di dalam rumah itu tdk terdapat kaum wanita dan anak-anak, tentu sudah ku perintahkan dikumandangkannya iqomah.

HR Ahmad

 

Enggan melakukan sholat berjamaah adalah salah satu ciri kemunafikan. Di rumah, ia hanya sholat dgn istri dan anak-anak, tdk sholat berjamaah di masjid.

 

Kalau hal itu dilakukan secara terus-menerus tanpa ada udzur syar’i, maka percayalah ia adalah orang munafik. Sebab, Allah telah bersaksi bahwa orang seperti itu adalah munafik. Wal ‘iyadzul billah.

 

16. Melakukan kerusakan di muka bumi dgn dalih melakukan perbaikan:

 

Allah berfirman :

وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون. ألا إنهم هم المفسدون ولكن لا يشعرون.

Dan bila dikatakan kpd mereka,”Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi,’ Mereka menjawab,’ Sesungguhnya kami orang-orang yg mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yg membuat kerusakan, tetapi mereka tdk sadar.”

QS Al Baqoroh 11-12

 

Anda akan melihatnya selalu berusaha mengadu domba antar manusia, atau melakukan persaksian palsu, bisa juga mengadu domba seseorang dgn saudaranya, ayah dgn putranya. Selalu saja ia menyebar permusuhan. Tak ubahnya ia seperti abu sisa bakaran api. Kerjanya hanya membakar dan menghancurkan masyarakat.

 

Termasuk berbuat kerusakan di muka bumi yaitu melakukan perbuatan kufur dan perbuatan maksiat seperti memberitahukan rahasia-rahasia orang mukmin kpd musuhnya dan memberikan loyalitas (kecintaan dan ketaatan) kpd orang kafir.

 

Kalau kita mengatakan kpd-nya,” Hai fulan, celaka engkau, bertaqwalah kpd Allah,” maka bisa saja ia menjawab,” ,Sungguh yg kami inginkan hanya perbaikan saja! Hanya Allah saja yg mengetahui bahwa aku sengaja hendak mendamaikan keluarga ini, masyarakat ini, atau suku ini.

 

Padahal,  Allah benar-benar mengetahui bahwa yg ia inginkan hanya kerusakan belaka. Mayoritas perusak antara kabilah dan keluarga adalah kaum munafikin. Anda akan mendapatinya terkadang melakukan sumpah palsu atau berkelit ke sana kemari. Allah berfirman :

 

Dan diantara manusia ada orang yg ucapannya tentang kehidupan. Dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kpd Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yg paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman2 dan binatang ternak, dan Allah tdk menyukai kebinasaan.

QS al Baqoroh 204-205

 

17. Berbeda antara yg nampak dengan batinnya

 

Persoalan ini menjadi poros dari sekian persoalan yg ada. Allah berfirman :

 

إذا جاءك المنافقون قالوا نشهد إنك لرسول الله والله يعلم إنك لرسوله والله يشهد إن المنافقين لكاذبون

Apabila orang-orang munafik datang kpdmu, mereka berkata,’Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orabg pendusta.

QS Al Munafiqun 1

 

Kalau ada yg bertanya,”Siapakah orang-orang yg telah melakukan persaksian dan menganggap benar persaksian mereka, tapi Allah justru mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam neraka?”. Maka jawablah,” Mereka itulah kaum munafik.”

 

Secara lahiriyah, tampaknya mereka membenarkan bahwa Muhammad adalah Rosulullah. Namun, Allah mengingkari pengakuan hati mereka. Persaksian mereka yg jujur secara lahiriyah tsb akan mencampakkan mereka ke dalam neraka. Jadi, ketidakselarasan antara lahiriyah dgn batinnya adalah ciri kaum munafik. Secara lahiriyah tampak bagus, tapi hatinya busuk. Secara lahiriyah tampaknya ia khusyuk, tapi hatinya selalu lalai dan lengah.

 

Salah seorang ulama salaf mengungkapkan,”Aku berlindung kpd Allah dari kekhusyuan yg munafik.” Rekan-rekannya bertanya,”Kekhusyukan yg munafik itu bagaimana?” Ia menjawab,” Anggota tubuhnya terlihat tenang dan teduh, tapi hatinya tdk khusyuk.

 

18. Kikir :

 

Kaum munafik adalah orang-orang yg paling pelit dlm urusan dunia dan perbuatan baik. Anda bisa lihat, untuk sebuah acara walimahan, mereka bisa menyembelih hingga puluhan kambing hanya untuk riya’ dan sum’ah semata. Tapi, bila ia diminta untuk berinfak, untuk keperluan membangun masjid, atau untuk jihad, maka ia hanya mau mengeluarkan 10 riyal, itu pun dgn perhitungan yg sangat njelimet. Untuk sedekah dgn jumlah itu mereka masih meminta didoakan, dan menitipkan sedekahnya itu disisi Allah, yg Dia memang tdk pernah menyia-nyiakan titipan apa pun juga! Masih ditambah lagi, ia meminta syarat agar Allah membangunkan untuknya istana putih disebelah kanan surga.

 

Allah berfirman :

 

المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dari sebagian yg lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat mungkar dan melarang berbuat yg makruf dan mereka menggenggam tangannya. Mereka telah lupa Allah, maka Allah melupakan mereka.

QS at Taubah 67

 

Mereka selalu saja menahan diri dan enggan berderma, padahal mereka mampu. Itu adalah salah satu dari ciri kemunafikan.

 

Berkata Adz Dzahabi رحمه الله :

ما أقبح بالعالم الداعي إلى الله الحرص وجمع المال

Alangkah jeleknya orang alim yg menyeru kpd Allah (tapi punya sifat) tamak (terhadap dunia) dan mengumpul-ngumpulkan harta.

 

19. Melupakan Allah :

 

Mereka ingat segala sesuatu kecuali Allah. Karenanya, anda akan mendapati diantara mereka yg sanggup mengingat segala sesuatu; keluarga, anak, berbagai jenis lagu, hingga segala cita-cita dlm hidupnya di dunia, kecuali dzikir kpd Allah. Dalam hatinya hanya terlintas segala tipu daya belaka. Karena hatinya memang sdh mati.

 

Melupakan Allah termasuk musibah terbesar yg dialami oleh kaum munafik. Firman Allah :

 

نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون

Mereka melupakan Allah, sehingga Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik mereka adalah orang-orang fasik.

QS at Taubah 67

 

استخوذ عليهم الشيطان فأنساهم ذكر الله

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.

QS al Mujadalah 19

 

Al Ghozali, penulis kitab al Ihya’ menjelaskan, *”Orang yg menyukai sesuatu, maka ia akan sering mengingatnya.”* Karenanya, bila seorang ahli di bidang produksi barang atau ahli membuat souvenir masuk ke sebuah rumah, maka masing-masing akan selalu ingat barang produksi itu, memandang, mengingat dan menyukainya. Bila seorang tukang kayu yg masuk rumah, maka ia akan memandang jendela dan pintu. Seorang dekorator, pasti senang melihat berbagai dekorasi dan warna warni segala sesuatu. Seorang ahli tenun atau ahli membuat permadani, selalu saja matanya memandang ke arah lantai. Selalu dan kapan saja, mereka akan membicarakan hal-hal yg terkait dgn keahlian mereka itu.

 

Orang yg mencintai Allah otomatis juga sering mengingatNya. Adapun orang munafik, maka hal yg paling dibencinya adalah mengingat Allah. Ia melupakan Allah, dan Allah pun melupakannya. Arti dari ungkapan,”Allah melupakan mereka”, yaitu meninggalkan mereka.

 

20. Menyangkal Janji Allah dan Rosulullah

Mereka mengatakan sebagaimana yg ditegaskan oleh Allah di dlm firman-Nya :

 

وإذ يقول المنافقون والذين في قلوبهم مرض ما وعدنا الله ورسوله الا غرورا

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yg hatinya berpenyakit berkata,”Yang dijanjikan Allah dan Rosul-Nya kpd kami hanya tipu daya belaka.

QS al Ahzab 12

Sebab turunnya ayat diatas, saat perang Ahzab, Rosulullah صلى الله عليه وسلم ikut datang ke penggalian parit Khondaq bersama para sahabat. Para sahabat menggali parit, sementara Rosulullah صلى الله عليه وسلم menemukan sebongkah batu karang. Rosulullah صلى الله عليه وسلم segera turun dgn membawa kapak besar, lalu memukulnya ke batu karang itu, sehingga memercikkan api. Lalu beliau memukulkannya lagi, kembali keluar percikan api. Lalu beliau memukulkannya lagi, kembali keluar percikan api. Beliau berkata, *”Aku diperlihatkan dua bentuk harta karun, merah dan putih. Keduanya itu akan dianugerahkan kpd umatku.”* Setidaknya demikianlah makna sabda Nabi صلى الله عليه وسلم tsb. Kaum munafik kontan saling memberi isyarat dgn kedipan mata kpd teman-teman mereka. Kala itu mereka berada disekeliling parit tsb. Mereka berkata, *”Lihatlah, ia memberikan kita angan-angan memperoleh harta karun Kisra dan Kaisar, padahal diantara kita masih ada yg tdk bisa terkencing saking takutnya.”*

 

Lalu, Allah merealisasikan janji tsb, dan memberikan pertolongan kpd umat Islam dan para sahabat Rosulullah صلى الله عليه وسلم, sehingga mereka dapat melakukan berbagai penaklukan diberbagai belahan bumi. Segala puji dan karunia hanyalah milik Allah.

اللهم اجعلنا هداة مهتدين

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yg memberi petunjuk (ilmu) yg mendapatkan petunjuk.

 

Abu Mu’tashim billah

 

Hari ini banyak kaum muslimin yang ketika dikritik akan perbuatan yang telah dilakukannya dia tidak terima dan marah. Padahal kritikan yang ditujukan kepada kita pasti memiliki alasan dan sebab musababnya.

Nah kali ini majalah taujih akan memberikan artikel mengenai Adab-adab seorang muslim ketika sedang dikritik, apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang harus dihindari.

Terima Kritikan dengan Lapang Dada

Betapa banyak orang  yang tidak mau menerima kritikan dari orang lain. Mereka mengangap kritikan sebagai sikap merendahkan harga diri. Sehingga mereka enggan dan gengsi menerimanya. Padahal kritikan adalah obat bagi diri. Dengan kritikan seseorang akan bisa mengoreksi kekurangan-kekurangannya kemudian memperbaikinya. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang pencari ilmu selalu membuka diri untuk menerima kritikan dari orang lain.

Apalagi Rasulullah SAW  telah bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ

“Orang mukmin itu merupakan cermin bagi mukmin lainnya.”  (HR. Abu Dawud)

Atau dalam lafazh lain disebutkan:

إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِنْ رَأَى بِهِ أَذًى فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ

“Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya.” (HR. At Tirmidzi)

Seorang mukmin sebagai cermin bagi mukmin lainnya artinya ia berfungsi untuk melihat kebaikan dan keburukan saudaranya dan menjelaskannya. Dan penjelasannya berupa nasehat yang jelas. Demikian pula ia bisa melihat pada saudaranya apa yang tidak bisa dilihat pada dirinya. Sebagaima ketika menulis di atas cermin, maka akan ada bayangan pada cermin tersebut, sehingga ia bisa melihatnya. Sesungguhnya seseorang akan mengetahui aib dirinya dengan diberi tahu oleh saudaranya. Sebagaiamana ia mengetahui sesuatu yang ada di wajahnya dengan melihat cermin. (Aunul Ma’bud)

Begitu pula diriwayatkan Bukhari :

إِذَا اسْتَنْصَحَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَنْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu minta nasehat maka nasehatilah.”

Demikianlah di antara sifat orang mukmin. Yaitu mau menerima kritikan, nasehat dan peringatan dari orang lain. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانً

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)

Imam Jalaluddin Al-Mahalli rhm berkata, “Maksudnya, (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan) diberi nasihat dan pelajaran (dengan ayat-ayat Rabb mereka) yakni Alquran (mereka tidak menghadapinya) mereka tidak menanggapinya (sebagai orang-orang yang tuli dan buta) tetapi mereka menghadapinya dengan cara mendengarkannya sepenuh hati dan memikirkan isinya serta mengambil manfaat daripadanya.” (Tafsir Jalalain, vol. 6, hal. 427)

Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i Ad-Dimasyqi RHM berkata, “Adapun firman Allah pada ayat ini, hal ini pun merupakan salah satu dari sifat dan ciri khas orang-orang mukmin, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)

Para salaf pun begitu lapang dada menerima kritikan dari orang lain. Salah satunya adalah Amirul Mukmini Umar bin Al Khaththab. Beliau merespon positif nasehat, peringatan dan kritikan, tanpa memandang dari siapa kritikan tersebut berasal.

Al Imam Al-Hafidz Jaluliddin As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya, Ad-Durrul Mantsûr fî Tafsîril Ma’tsûr, saat menjelaskan Surat an-Nisa’ ayat 20 menyinggung kisah respon seorang perempuan terhadap isi pidato Umar bin Khaththab.

Suatu hari Umar bin Al Khaththab naik ke atas mimbar lalu berpidato di depan khalayak. “Wahai orang-orang, jangan kalian banyak-banyak dalam memberikan mas kawin kepada istri. Karena mahar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sebesar 400 dirham atau di bawah itu. Seandainya memperbanyak mahar berniliai takwa di sisi Allah dan mulia, jangan melampaui mereka. Aku tak pernah melihat ada lelaki yang menyerahkan mahar melebihi 400 dirham.”

Dalam riwayat lain, Sayyidina Umar mengancam akan memangkas setiap kelebihan dari mahar itu dan memasukkannya ke baitul mal.

Seorang perempuan Quraisy berdiri lalu melontarkan protes ketika Sayyidina Umar turun dari mimbar. “Hai Amirul Mu’minin, kau melarang orang-orang memberikan mahar kepada istri-istri mereka lebih dari 400 dirham?”

“Ya.” Jawab khalifah Umar.

Wanita itu menukas “Apakah kau tak pernah dengar Allah menurunkan ayat:

وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا

“… Kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar)…” (QS an-Nisa’: 20)

Mendapat protes dari seorang wanita, Umar pun membaca istighfar dan berujar, “Tiap Orang lebih paham ketimbang Umar.”

Ini adalah ungkapan Umar bin Al Khaththab yang rendah hati dan karakter kepemimpinannya yang tidak antikritik. Dalam riwayat lain ia mengatakan, “(Kali ini) perempuan benar, lelaki salah.”

Selanjutnya khalifah kedua ini kembali ke atas mimbar dan berkata, “Wahai khalayak, tadi aku larang kalian memberikan mahar kepada istri melebihi 400 dirham. Sekarang silakan siapa pun memberikan harta (sebagai mahar) menurut kehendaknya.”

Dan ini merupakan akhlak para salafus shalih kita radhiyallahu anhum, mereka sangat mudah sekali tunduk dan patuh terhadap nasihat dan ayat-ayat Allah, tidak ada rasa gengsi atau merasa harga dirinya direndahkan. Bahkan walaupun yang menasihatinya adalah seorang wanita.

Oleh karena itu jangan malu minta nasehat dan kritikan dari orang-orang yang agama, wawasan dan amanahnya dapat dipercaya. Jika ada seseorang yang hendak menasehatimu maka terimalah dengan baik. Jika apa yang dikatakannya benar maka pujilah Allah. Sedangkan jika apa yang dikatakannya salah maka pahalanya bagimu dan dosanya bagi dia. Jangan pernah menutup diri dari kritikan orang karena itu adalah wahana untuk selalu memacu berbenah diri.  Wallahu a’lam bish shawwab.

 

 

 

Beratnya menjadi seorang pendidik sudah tidak dipertanyakan lagi. Amanah berat , butuh bekal yang mantab. Bekal yang tidak sedikit  seperti  ilmu , mental perwira , kerja keras , dan satu lagi , keteladanan.

Kata pepatah , “ guru terbaik adalah pengalaman “ memang , dan pelajaran terbaik ialah sebuah keteladan

Keteladanan tidak boleh luput dari sebuah proses Pendidikan . sebab , ia adalah jantung utama terbentuknya generasi yang kita harapkan juga merupakan kunci daripada keberhasilan seorang pendidik. Tumpukan materi pelajaran yang banyak , teori yang setiap hari diberikan  , nasehat-nasehat emas tak akan berarti apa-apa selama keteladanan yang baik belum dapat ditularkan.

Apalagi , disebuah lembaga Pendidikan yang berbasis pesantren , keteladanan menjadi “ PR “ wajib bagi para pendidik di pesantren tersebut.  Terlebih , para ustadz atau ustadzah muda , yang notabennya 24 jam Bersama para santri. Keteladanan harus menjadi objek yang perlu untuk lebih diperhatikan.

Jangan sampai ada santri yang melakukan suatu pelanggaran , namun mengelak ketika disidang dengan berdalih . “ ustadz nya aja juga kayak gitu kok,, masak kita gak boleh “

Jangan meremehkan hal-hal yang mungkin kita anggap kecil dan tak berarti , namun sejatinya hal tersebut begitu membekas pada diri para santri.

Tularkan dan tunjukkan keteladanan yang baik , sekecil apapun walaupun hanya sekedar memberi salam dan  sapaan atau senyuman manjs ketika kita bertemu dengan santri. Atau hal-hal baik lainnya seperti kepekaan , kebersihan atau berupa kebaikan- kebaikan semisal , bukan sebagai ajang pamer diri , tapi memang ini adalah salah satu tahapan dari proses Pendidikan yang harus  dijalani.

Berat memang , tapi itulah resiko sebagai seorang pendidik sejati. Harus dengan maksimal dapat menjalankan segala kebaikan yang telah diajarkan.

Intinya , mari segera perbaiki diri juga memantaskan diri agar bisa menjadi sosok pendidik yang kebaikannaya dapat mewarnai jiwa – jiwa para santri.

Mentelaah siroh para Nabi , para shahabat , para shalafus sholih , menjelajahi kisah hidup mereka , Insya Allah akan dapat kita temui berbagai macam akhlaq mulia mereka yang dapat kita jadikan contoh dan pedoman hidup.

Jangan mentang-mentang sudah bergelar ustadz atau ustadzah lalu beranggapan bahwa semua hal dapat dilakukan.

Semoga , ini dapat menjadi cambukan bagi diri saya pribadi juga pembaca sekalian.  Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita kekuatan dan keistiqomahan dalam mengemban amanah mulia ini. Amiin

نسأل الله من فضله العظيم

Penulis Fathimah Khofifah diposting oleh majalah Taujih

Hidup mewah harta melimpah tidak menjamin akan sebuah kebahagiaan. Namaun sebaliknya Meski sedehana hidup apa adanya sabar dalam menghadapi ujian ikhlas mengerjakan apa yang ada, untuk mengharap ridho Allah SWT maka hidup akan terasa indah tanpa bermasalah. Berbicara sederhana tidak terlepas dari kehidupan di pesantren. Pesantren banyak mengajarkan arti sebuah kesederhanaan, banyak hikmah yang bisa kita petik dalam kehidupan pesantren, kesabaran, ketakwaan dan ketekunan adalah hal yang bisa di dapatkan ketika nyantri dalam menimba ilmu syar’i.

Kesederhanaan adalah hal yang lazim di jalani oleh ustad  mapun santri karena hakekatnya hidup di pesantren adalah untuk melatih diri menjadi orang yang sederhana dan apa adanya. Kehidupan pesantren berbeda degan kehidupan luar, kita bisa mengambil contoh ketika di pesantren tidak bisa leluasa melakuakan apa saja, semua yang di inginkan kita tahan, kesenangan dunia yang bersifat fana kita tingagalkan dan semua penuh dengan aturan dan larangan yang harus kita patuhi.  Berbeda dengan hidup di luar, sebelum mengenyam dunia pesantren kita leluasa melakukan apa saja, semua yang di inginkan asalkan ada uang maka semua bisa terpenuhi, pingin makan yang enak tinggal beli, pingin jalan-jalan tinggal keluar, pingin ini pingin itu semua serba bebas terpenuhi tanpa ada aturan dan larangan yang harus di patuhi.

Di samping belajar kesederhanaan di pesantren juga mengajarkan arti pentingnya kesabaran. Sabar dalam segala bidang yang mencakup rutinitas keseharian, kata sabar tidak terlepas dari kata antri. Sabar dan antri adalah dua kata yang tidak bisa di pisahkan di pesantren, mandi harus antri, makan harus antri semua aktifitas yang dikerjakan membutuhkan kesabaran dan perjuangan. Budaya antri adalah hal yang setiap hari bahkan setiap waktu di jalani  oleh semua santri, bayangkan ketika mandi harus antri berdiri di depan pintu dan berbaris untuk menunggu giliran, begitu pula ketika makan harus antri bermeter-meter bergantian satu sama yang lain hanya untuk mendapatkan satu piring nasi di temani sayur dan satu lauk sederhana.

Banyak hikmah yang hampir semua santri tidak berfikir arti kesederhanaan dan kesabaran manakala hidup di dunia pesantren, kenapa untuk  setiap hari makan hanya dengan tiga lauk faforit, yaitu tahu ketika pagi hari, tempe siang hari, dan satu butir krupuk dimalam hari serta sayur yang menjadi teman pembasah nasi. Satu minggu sekali ada makanan tambahan atau biasa di sebut dengan perbaikan gizi. Makan hanya ala kadarnya, setiap hari tidak ada bedanya, ada rasa ngrundel yang di tahan karena tahu bahwa apa yang kita makan hanya itu-itu saja, apalagi ketika bertanya kepada teman “ apa lauk malam ini “  Sate, sate di pondok dan diluar berbeda, sate diluar pake daging tapi jikalau sate di pondok biasa kita sebut dengan sayur terong yang tidak ada rasanya.

Pesantren mengajarkan arti kesabaran dan kesederhanaan, makan hanya ala kadarnya, belajar hemat dalam mengelola uang saku, memeneg waktu dengan sebaik mungkin semua sistem yang di terapkan pesantren kepada santri dan santriwatinya untuk melatih mereka menjadi orang-orang yang kuat dan hebat dalam berbagai hal. Antri dalam mandi, antri dalam makan, nasi diambilkan, begitu juga sayur dan lauk dibagi sama rata, di perbolehkan nambah nasi akan tetapi tidak di perbolehkan menambah lauk, artinya kita tidak boleh rakus, tidak boleh egois untuk kepentingan pribadi, kita utamakan kepentingan jama’i dan di situlah kesabaran kita benar benar sedang diuji.

Hampir semua santri menjalankan penuh dengan keikhlasan, mengantri dengan tertib satu-persatu, hal tersebut  bukan hanya untuk memenuhi atauran dan larangan yang telah di jalankan, akan tetapi semua sistem yang di terapkan di pesantren agar kelak bagaimana santri ketika hidup di luar atau di masyarakat tidak kaget karena sudah pernah merasakan arti kesederhanaan dan kesabaran ketika hidup di pesantren.

Sederhana dan sabar adalah dua kata yang penuh makna, dimana keduanya adalah jalan menuju puncak apa yang kita inginkan, Kesuksesan tidak bisa di raih dengan semudah membalikkan telapak tangan, tapi semua itu butuh perjuangan, pengorbanan, kesederhanaan dan kesabaran untuk meraih apa yang di inginkan. Kalau semuanya mudah maka bagaiman kita akan merasakan manisnya sebuah perjuangan.

Semoga kesederhanaan dan kesabaran hidup di pesantren dapat menghantarkan kita menjadi orang-orang yang ahlu jannah. Barakallah (Ta’al).

AGAR ANAK TAKUT KEPADA ALLAH

Urgensi takut kepada Allah dalam pendidikan anak

Anak adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yang paling agung dalam kehidupan ini. Memiliki anak adalah karunia dan hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, terlebih anak-anak yang shalih dan shalihah, mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara dan penolong bagi kedua orang tuanya. Di samping itu, anak juga merupakan ladang bagi orangtua yang dapat digunakan untuk menanam cita-cita atau harapan-harapan yang bisa membahagiakan orang tua, baik di dunia terlebih di akhirat.

Jika orangtua menganggap anak-anak sebagai sebuah karunia, tentunya mereka akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendidik, membina, dan mengarahkan kehidupanya kepada kebaikan-kebaikan. Hal ini sangatlah penting karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan anak yang sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, perilaku, serta kepribadian yang baik pada anak. Salah satu pendidikan yang harus diberikan orang tua kepada anak selain mengenalkan mereka tentang Dzat Allah Ta’ala dan mendidik mereka agar selalu taat kepada Allah adalah menanamkan rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mendidik mereka bahwa tidak ada satupun perbuatan, perkataan seorang hamba melainkan Allah Maha mengetahuinya, sehingga tertanam kekuatan ruhiyah yang kuat pada diri seorang anak.

Terlebih Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menjaga keluarga kita dari siksa api neraka, tentunya termasuk anak-anak kita, firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At Tahrim:6)

Takut kepada Allah dan adzab-Nya dapat mengantarkan seseorang  untuk senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Takut kepada Allah berbeda dengan takut seseorang terhadap makhluk Allah Ta’ala. Jika takut terhadap binatang buas atau musuh yang ganas, kita harus menjauhi dan menghindarinya, sedangkan takut kepada Allah maka kita harus lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semakin besar rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, maka semakin bertambah kedekatan kita kepada-Nya. Bahkan ketika seorang hamba mampu menghiasi kehidupanpannya dengan rasa takut kepada Allah maka rasa takut tersebut akan membawanya kepada kebaikan-kebaikan, salah seorang ulama tabiin Fudhail bin Iyadh pernah berkata,

من خاف الله دله الخوف على كل خير

“barangsiapa yang takut kepada Allah, maka rasa takutnya akan menunjukkan dia kepada kebaikan”

Maka penting bagi orang tua untuk selalu menjaga hati ini senantiasa takut kepada Allah Ta’ala, dengannya kita tanamkan pula rasa takut kepada Allah terhadap anak-anak kita. Karena ketika kita memberikan pendidikan kepada anak sehingga nampak secara dhahir ia menjadi anak yang berprestasi, banyak menghafal ayat-ayat Al Qur’an, hadits, dan prestasi-prestasi yang lainnya, akan tetapi jikalau semua itu tidak mengantarkan mereka untuk selalu takut kepada Allah maka sesungguhnya ada yang salah dalam pendidikan dan orientasi belajar yang kita berikan kepada mereka. Maka jangan sampai kita menjadi orang tua yang banyak menuntut hak kepada anak untuk berbuat kebaikan-kebaikan sedangkan kita lalai dengan kewajiban orang tua yang harus diberikan kepada anak. Salah satunya adalah pendidikan yang baik, pendidikan yang mengantarkan kepada anak-anak kita untuk selalu takut kepada Allah Ta’ala.

Takut kepada Allah benteng kemaksiatan

Takut kepada Allah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu dapat menjaga semua ucapan dan tindakannya dari perbuatan tercela. Selain itu, orang yang takut kepada Allah  akan mendapatkan berbagai manfaat dan keuntungan dalam hidupnya, ia akan mudah untuk beribadah dengan ikhlas karena Allah Ta’ala tidak terbetik di dalam hatinya untuk mencari dan mendapatkan pujian manusia semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat telah menjadikan sifat takut kepada Allah sebagai perisai bagi keimanan mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Dari Salim bin Basyir, bahwa Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu menangis di kala sakit, lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat anda menangis ?” Beliau menjawab, ”Aku bukan menangis terhadap dunia kalian ini, tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan bekalku sedikit. Aku akan berjalan mendaki dan turun, mendaki menuju jannah atau turun menuju neraka. Aku tidak tahu mana yang akan kutuju.” (Siyar al-a’lam an-nubala’, 2/625)

Bahkan Imam At-Thabari ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

“sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan adzab Tuhan mereka” (QS. almu’minun: 57)

Beliau menerangkan bahwa khasyatullah adalah perasaan takut yang menyebabkan seseorang akan berusaha untuk terus berbuat baik guna meraih ridha Allah Ta’ala dan sebisa mungkin menjauhi larangan-laranganNya sehingga mudah bagi seseorang untuk menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Maka dari itu penting bagi kita selaku orang tua selain berusaha untuk menjadikan hati kita dekat kepada Allah maka tanamkan rasa khosyah ini kepada anak-anak kita sedini mungkin.

Banyak kisah-kisah  para salafusshalih dalam memberikan keteladanan untuk selalu takut kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana kisah yang disebutkan oleh Abdullah bin Dinar, beliau berkata: Saya pergi bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ke Makkah, di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk istirahat. Tiba-tiba ada seorang penggembala turun dari bukit menuju ke arah kami. Ibnu Umar bertanya kepadanya,” Apakah kamu penggembala?” “Ya”, jawabnya. (Ingin mengetahui kejujuran sipenggembala itu) Ibnu Umar melanjutkan, “Juallah kepada saya seokor kambing saja.” Sipenggembala itupun menjawab, ”Saya bukan pemilik kambing-kambing ini, saya hanyalah hamba sahaya.” “Katakan saja pada tuanmu, bahwa seekor kambingnya dimakan serigala”, kata Ibnu Umar kepada pengembala tersebut, Maka seorang pengembala itu pun menjawab dengan satu pertanyaan yang menjadikan berlinangnya air mata sahabat Ibnu Umar “Lalu di manakah Allah ‘Azza wa-Jalla yang Maha Melihat?”  Kemudian beliau pun menangis dan dibelinya hamba sahaya tadi lalu dimerdekakan. (HR. Thabrany, lihat kitab Siyaru A’laamin Nubala, Imam Adz-dzahabi, II/216).

Menanamkan dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah pada diri seorang anak merupakan salah satu kewajiban orangtua dalam mendidik anaknya, karena dengannya mereka akan menyadari hakekat kehidupan yang sebenarnya sehingga tidak mudah bagi mereka untuk memperturutkan hawa nafsunya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Apabila seorang tidak memilliki rasa takut kepada Allah maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya dan hawa nafsunya akan menuntunnya melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan diri dan memuaskan semua keinginannya. Berdzikir dan beribadah kepada Allah tidak lagi menjadi kesenangan dan ketenangan baginnya maka dia pun memilih mencari kesenangan dengan hal-hal yang diharamkan Allah, berbuat keji, meminum khamr, berkata dusta, dan kemaksiatan-kemaksiatan mereka lakukan.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 1/54,55)

Takut kepada Allah pertanda ilmu bermanfaat

Salah satu tanda ilmu yang bermangfaat adalah semakin bertambah ilmu seseorang maka semakin bertambah rasa takut dia kepada Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala menegaskan dalam firmannya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤا

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama” (QS. Fathir: 28)

Imam As-Sa’di Rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut beliau berkata, “Semakin seseorang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula rasa takut kepada-Nya. Rasa takutnya kepada Allah menyebabkannya meninggalkan kemaksiatan serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Ini adalah dalil yang menunjukkan ilmu yang bermangfaat, dengannya tumbuh rasa takut ia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh hanya orang yang takut kepada-Nyalah orang yang mendapatkan kemuliaan-Nya. (lihat tafsir Taisirul Karim fi tafsiri kalamil mannan fi syuroti Fatir, 28)

Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan mengatakan,” Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengkhususkan dan mensifati para ulama dengan rasa takut kepada-Nya, karena mereka adalah orang yang paling mengenal Allah. Semakin besar pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya, semakin besar raja’ (rasa harap) dan khauf (rasa takut) dia kepada Allah, dengan ilmunya menjadikan mereka semakin dekat kepada Alla. (Ma`alim fi Thariq Thalabi al-`ilmi, 13). Dalam artian seseorang tidak dikatakan mendapatkan ilmu yang bermangfaat sebatas kuantitas ilmu yang iya peroleh, akan tetapi pertanda ilmu yang bermangfaat  adalah ilmu yang membawa kepada rasa takut kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang semakin bertambah ilmunya namun tidak bertambah rasa khosyah dia kepada Allah maka tidak akan bertambah baginya kecuali semakin bertambah jaunya dia dari Allah Ta’ala.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang menunjukkan dua perkara, pertama, ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala), Asmaul Husna yang dimiliki-Nya, sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan. Hal ini menumbuhkan sikap pengagungan, pemuliaan, rasa takut kepada-Nya, rasa cinta, berharap, bertawakal, dan ridha dengan ketetapan-Nya, serta bersabar atas musibah yang menimpanya. Kedua, berilmu tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan dimurkai-Nya, baik keyakinan, amalan, dan ucapan baik yang lahir maupun batin. (Lihat Fadhlu Ilmi as-Salaf, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali, hlm. 73)

Dari ulasan di atas jelas bahwa ilmu yang hakiki, ilmu yang memberi manfaat kepada pemiliknya adalah yang menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kiat-kiat membuhkan rasa takut keapada Allah dalam pendidikan anak

            Menumbuhkan rasa takut  kepada Allah pada diri seorang anak tidak semudah membalik telapak tangan, banyak hal yang harus diusahakan untuk menjadikan mereka takut kepada-Nya. Memang rasa takut kepada Allah adalah bagian dari mawahib hidayah taufiq Allah Ta’ala, namun pemberian tersebut tidak menafikan kasb atau usaha kita selaku orang tua sebagai bentuk ikhtiyar kita kepada Allah. Karena bagaimana mungkin kita menginginkan seorang anak yang memiliki kepribadian yang shalih akan tetapi pendidikan yang kita berikan adalah jalan yang mengantarkan mereka kepada jurang kebinasaan. Maka penting kirannya  memperhatikan beberapa hal kiat-kiat menumbuhkan rasa takut kepada Allah dalam pendidikan anak, diantarannya :

Pertama: menanamkan pada diri anak bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas perbuatan hambanya.

Penting bagi oangtua untuk mengingatkan anak  bahwa kita adalah hamba yang lemah dan hina di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan Allah adalah Al-Aziz (Maha Perkasa), Al-Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al-Matiin (Maha Perkasa), Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba). Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai manusia durhaka kepada Allah sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. Allah Ta’ala berfirman “Dan kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)

Kedua : baiti jannati, menjadikan rumah sebagai lingkungan yang Islami

Rumahku adalah surgaku, merupakan ungkapan yang indah sebagai bentuk bangunan rumah tangga seorang muslim. Sungguh gambaran yang luar biasa, yang memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan yang selalu dirindukan semua orang untuk diwujudkan. Sebuah surga didunia yang hadir dalam sebuah rumah dan dari sanalah lahir sosok anak yang shalih dan shalihah yang selalu takut kepada Allah. Namun haruslah dipahami, bahwa baiti jannati tidak akan terwujud begitu saja, tanpa adanya usaha.  Usaha untuk mewujudkannya pun bisa jadi merupakan usaha yang luar biasa dan membutuhkan banyak energi dan menguras pikiran. Usaha ini haruslah berasal dari kedua belah pihak, yaitu suami dan istri. Sebagai orang tua memiliki sebuah tuntutan menjadikan rumah sebagai lingkungan yang islami, sehingga darinya lahir seorang anak yang memiliki kepribadian yang baik tumbuh menjadi anak yang takut kepada Allah.

Mustahil rasanya menginginkan baiti jannati yang akan melahirkan sosok anak yang taat dan takut kepada Allah sedangkan mereka bangun neraka di dalam rumah mereka. Mereka biasakan di dalam rumah-rumah mereka perkataan yang kotor, perilaku yang keji, mendengarkan lantunan musik-musik jahiliyah atau bahkan mereka asyik duduk bersama melihat tontonan televisi yang tidak mendidik atau melihat aurat dan hal-hal yang telah Allah haramkan. Maka keinginan orangtua untuk menjadikan anak yang shalih harus dimulai dari lingkungan keluarga yang shalih juga. Mereka hadirkan di tengah-tengah mereka qiroatul Qur’an, Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik, serta saling berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan surga dunia dan akhirat.

Ketiga : mengingatkan tentang pedihnya siksa api neraka

 Mengingatkan anak tentang adzab neraka jahannam merupakan salah satu cara menumbuhkan rasa khosyah pada seorang anak. Menjelaskan kepada mereka bahwa penderitaan atau musibah seberat apapun di dunia ini tidak lebih dahsyat dibandingkan siksa dan adzab Allah di neraka bagi mereka pelaku maksiat. Seseorang yang bangga dan tidak takut keapada Allah maka Allah akan mencampakkan mereka ke dalam neraka dalam kondisi sangat ketakutan, dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala dan sangat dalam jurangnya. Tak terbayang betapa takutnya orang yang dilempar ke dalam api yang menjilat-jilat dan panasnya yang luar biasa. Allah Ta’ala mengambarkan kondisi manusia ketika dilempar ke dalam neraka, firman Allah,

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ، تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (QS. Al-Mulk : 7-8)

Keempat : memberikan nafkah dari cara yang halal

            Bagian dari kewajiban orang tua kepada anak adalah memberikan nafkah yang halal. Memastikan tidak ada makanan yang ia makan, minuman yang ia minum, sampai pakaian yang ia kenakan melainkan dari cara sesuatu halal. Makanan yang halal sangat berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian baik seorang anak. Sebaliknya jika seorang bapak memberikan kepada mereka makanan, minuman, dan pakaian yang haram maka cukup hal tersebut untuk mengantarkan mereka kepada keburukan dan kebinasaan. Ibnu Katsir rahimahullah berkata “bahwa makanan yang halal sangat berpengaruh terhadap amal shaleh seseorang.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/126)

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan kita,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)

Sungguh daging yang tumbuh dari makanan dan minuman yang haram cukup menjadikan kehidupan seseorang tidak berkah dan hilangnya kebaikan-kebaikan dalam keluarga dan ke hidupannya. Maka jangan pernah kita menghilangkan keberkahan di dalam keluarga kita dengan memasukkan makanan dan minuman bahkan pakaian dari sesuatu yang diharamkan Allah.

Dari ulasan di atas mengajak kepada orang tua untuk menyadari bahwa sebagai orang tua memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Di antaranya adalah menanamkan rasa takut kepada Allah sejak usia dini, sehingga terbentuk anak yang shalih, ‘alim, dan muttaqi. Dan tentunya semua itu membutuhkan ikhtiyar orang tua selaku pendidik untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan-kebaikan. Semoga kita diberikan kemudahan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari siksa api neraka,  amiin.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan kita gambaran akan pentingnya mendidik anak-anak kita agar takut dan memiliki rasa khouf dan khosyah kepada Allajh swt. Wallahu a’lam bisshawab.

Di edit dan dipublish oleh abdullah hafidz

 

 

Tanamlah Kebaikan Maka kau akan Panen Kemuliaan

Al Hafidz Ibnu Rojab Rahimahullah berkata :

 

إِنَّ الإِنْسَانَ يَزْرَعُ بِقَوْلِهِ وَعَمَلِهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ يَحْصُدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا زَرَعَ ، فَمَنْ زَرَعَ خَيْرًا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ حَصَدَ الْكَرَامَةَ وَمَنْ زَرَعَ شَرًّا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ حَصَدَ النَّدَامَةَ

 

“Seseorang itu menanam kebaikan dan keburukan dengan perkataan dan perbuatannya, dan kelak pada hari kiamat ia akan memanen apa yang telah ditanam, maka barangsiapa menanam kebaikan dengan perkataan dan perbuatannya, ia akan memanen kemuliaan, dan barangsiapa menanam keburukan dengan perkataan dan perbuatannya, ia akan memanen penyesalan”

(Ghidzaul Albab Syarhu mandhumatil Aadab, Muhammad bin Ahmad bin Salim Assifaarini Al Hanbali, I/51)

 

Dunia adalah ladang tempat bercocok tanam. Sedangkan akhirat adalah tempat untuk memanen apa yang telah kita tanam di dunia. Banyak para ulama yang mengatakan bahwa “Ad Dunya Daarul ‘amal, wa laisatid dunya daaral jaza’. Wal aakhiroh daarul jazaa’, wa laisatil aakhiroh daarol ‘amal” (Dunia adalah tempat untuk beramal dan bukan tempat menerima balasan amal. Sedangkan akhirat adalah tempatnya menerima balasan, bukan tempatnya beramal).

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam QS. Al Zalzalah : 7-8 yang artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. Juga dalam QS. Al Baqoroh : 110 yang artinya : “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.

Kedua ayat di atas cukup untuk menjadikan kita senantiasa sadar bahwa dunia ini tempat bercocok tanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen apa yang telah kita tanam.  Sehingga mampu memotifasi dan memberikan dorongan semangat dan kekuatan yang hebat untuk semangat beramal kebaikan, menanam kebaikan sebanyak mungkin, kita rawat dari hama riya’ dan sum’ah yang bisa menyebabkan gagal panen. Mendorong kita untuk senantiasa mengharap balasan amal di akhirat kelak tak terkurangi sedikitpun. Mampu menumbuhkan keikhlasan bahwa amal sholih itu tak selalunya harus dibayar kontan di dunia. Jika seorang muslim yang beramal sholih atau kebaikan harus dibayar kontan di dunia, maka apa yang akan ia panen kelak di akhirat. Tentunya ia akan menggigit jari penyesalan tak menyisakan panen sedikit pun.

Lalu dengan apa kita menanam kebaikan ?? perkataan Ibnu Rojab Rahimahullah di atas memberikan satu pencerahan kepada kita bahwa manusia itu menamam kebaikan maupun keburukan dengan lisan dan perbuatannya. Maka hendaklah kita berhati-hati dengan lisan dan perbuatan kita. Jangan sampai salah penggunaannya. Dengan senantiasa memohon kepada Allah untuk membimbing lisan dan perbuatan kita agar senantiasa bisa kita gunakan untuk menanam kebaikan di mana saja dan kapan saja. Karena betapa banyak manusia yang kurang berhati—hati dalam menggunakannya sehingga lisan dan perbuatannya banyak menanam keburukan. Na’udzubillah. Maka wahai saudara-saudariku seiman, tanamlah kebaikan, niscaya kau akan panen kemuliaan, janganlah kau tanam keburukan karena sungguh engkau akan memanen penyesalan. Wallahu a’lam.

MajalahTaujih.com

Diupload dan di edit oleh hafidzbey

 

 

 

 

( رب صائم حظه من صيامه الجوع و العطش (الترغيب و الترهيب, صحيح)

Berapa banyak orang yang shiyam bagiannya hanya lapar dan dahaga (shahih Targhib dan tarhib)

Ibadah Ramadhan adalah ibadah spesial bagi ummat Islam. Sebulan penuh diminta untuk taat pada Ar Rahman dengan meninggalkan hal hal yang pada bulan lainnya dihalalkan. Ibadah yang seharusnya bisa mengantarkan pelakunya pada derajat ketakwaan.

Hanya, realita yang terjadi, ibadah shiyam ini ternyata tidak banyak membawa bekas kepada para pelakunya. Seakan Ramadhan hanya untuk melaksanakan kewajibanmeninggalkan makan dan minum. Tetapi rahasia rahasia hikmah dari ibadah agung ini kurang tergali dan terealisasikan.

Seharusnya pelaku shiyam Ramadhan ini semakin menguat rasa ikhlasnya karena ia dilatih shiyam tanpa pamrih , kecuali hanya dipersembahkan untuk Rabbnya. Shiyam juga melatih pelakunya untuk menahan diri dari sifat sifat buruk seperti amarah, mencela kehormatan mukmin, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Karena esensinya bukan sekedar tidak makan dan minum tetapi menahan hawa nafsu dari segala keburukan.

Shiyam juga seharusnya menguatkan  sikap kasih sayang kepada sesama, terutama kepada fakir miskin, karena ia telah merasakan bertapa rasa lapar menerpanya saa melakukan shiyam. Lalu bagaiimana halnya dengan kaum papa yang kadang kesehariannya tidak berteman makan dan minuman?

Kejujuran juga mestinya menjadi hiasan ahli shiyam. Ia telah jujur kepada Allah, tidak mau memanipulasi shiyamnya dengan minum air di kamar mandi misalnya. Ia relalapardan haus demi menggapai ridha Ar rahman.  Maka kepada siapapun kejujuran menjadi kebiasaannya.

 

Namun realita kaum muslimin pelaku tarbiyah ramadhan setiap tahun, ternyata masih banyak yang jauh panggang daripada api. Betapa kita saksikan aksi penipuan dan pencitraan masih mendominasi kehidupan muslim. Apalagi jika melihat ke dunia politik. Tentu hal tersebut menjadi satu kelaziman. Yang penting meraih kemenangan. Bukan bagaiamana memenangkan agamanya, tetapi memenangkan kelompok dan kepentingannya.

Demikian pula sikap ego kelompok yang akhirnya tega menjatuhkan kehormatan muslim lainnya masih cukup nyaring terdengar, bahkan bukan di level awam muslim. Melainkan kelompok kelompok kajian yang saling menjatuhkan. Asal tidak sesuai dengan yang ia pahami, dengan mudah menuduh kelompok lain sebagai kelompok sesat, khawarij, anjing anjing neraka dan sederet tuduhan lain tanpa klarifikasi.

Realita realita tersebut menunjukkan buah tarbiyah Ramadhan perlu  ditingkatkan. Oleh karena itu marilah sedari sekarang bersiap menghadapi tarbiyah Ramadhan. Agar muncul alumni alumni Ramadhan yang betul betul meningkat derajat taqwa,  keimanan dan akhlak kesehariannya.

Diedit dan di publikasikan oleh hafidzbey

www.majalahtaujih.com

MENJAGA ANGGOTA BADAN

Syaikh Khalid Husainani v

(Ulama dari Kuwait)

Penyunting: Sulthon Abu Hazimah, S.Psi

الحمد لله ربّ العالمين حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه و أشهد أنّ محمدا عبده ورسوله

Saudara-saudaraku seiman pada pertemuan ini kami akan berbicara tentang satu tema ‘Menjaga anggota badan’.  Maksud anggota badan adalah anggota badan manusia yaitu pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Itulah anggota badan kita.   Rasul kita ` telah mengajarkan kepada kita untuk meminta perlindungan kepada Allah l dari kejahatan anggota badan kita, supaya kita tak menggunakan anggota badan itu untuk bermaksiat kepada Allah l namun dalam ketaatan pada Allah. Di antara do’a Rasulullah `

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan telingaku, kejahatan mataku, kejahatan lisanku, kejahatan hatiku dan kejahatan maniku.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’I, Ahmad dan yang lainnya  dan dihasankan oleh Al-Hakim dan dinyatakan shahih oleh  Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud No. 1387)

Dalam hadits di atas Rasulullah ` berlindung kepada Allah l, menyandarkan diri kepada-Nya, berpegang teguh kepada-Nya dari kejahatan anggota badan tersebut. Mengapa? Bila manusia tak mampu menjaga anggota badan tersebut maka akan menyeretnya ke api neraka, akan mengundang murka Allah k . Berapa banyak kebinasaan, musibah dan ujian yang dipicu oleh anggota badan tersebut baik mata, penglihatan maupun yang lainnya.

Perhatikan bagaimana manusia harus memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan pendengaran, yaitu dari mendengar hal-hal yang haram baik ghibah, kedustaan,  nyanyian   maupun musik. Berlindunglah kepada Allah dan mintalah kepada-Nya agar Dia menjaga pendengaran anda dari sesuatu yang tidak ada manfatnya bagi anda baik dunia maupun akhirat.

Kemudian Rasulullah ` mengajarkan kepada kita agar berlindung kepada Allah l dari kejahatan penglihatan. Sebab bila manusia memandang hal-hal yang haram, misalnya memandang wanita, maka hal itu merupakan salah satu panah setan. Rasulullah ` bersabda:

اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ

 “Pandangan mata adalah salah satu panah beracun Iblis.” (Hadits dha’if dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/313 dan Al-Qadha’I dalam Musnad Asy-Syihab 1/265)

Betapa banyak laki-laki yang memandang wanita kemudian terjerumus dalam perkara yang haram  yang berupa zina (kita berlindung kepada Allah). Hal itu berawal dari kekaguman terhadap wanita kemudian berakibat terjerumusnya ia dalam dosa besar.

Dosa mata yang lain adalah memandang  rendah orang lain.  Seringkali terpedaya dan ujub telah membuat seseorang memandang rendah orang lain. Misalnya karena merasa memiliki gelar kesarjanaan yang tinggi, kedudukan tinggi atau harta yang banyak, kemudian ia memandang orang lain dengan remeh, bila berpapasan dengan orang lain lewat begitu saja tapa mau mengucapkan salam.

Padahal Rasulullah ` bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِم

“Seseorang cukup dinilai buruk bila ia merendahkan saudara muslim lainnya.” (HR Muslim No. 4650)

Maksudnya seandainya anda tak memiliki keburukan sedikitpun, tak memiliki dosa sedikitpun  namun dalam waktu yang sama anda memandang orang lain dengan rendah, anda merasa lebih dibanding orang lain maka hal itu sudah cukup menjadi keburukan anda yang membinasakan. Hal itu semua termasuk perkara yang Rasulullah meminta perlindungan kepada Allah.

Selanjutnya Rasulullah ` bersabda: “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan lisanku”. Perhatikan wahai saudara sekalian! Bagaimana Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan lisan. Lisan merupakan salah satu sebab utama terjerumusnya seseorang dalam jurang neraka. Banyak kemaksiatan dan dosa yang disebabkan oleh lisan. Dusta disebabkan oleh lisan, ghibah disebabkan lisan, namimah (adu domba) juga disebabkan oleh lisan dan masih banyak lagi. Semua itu menegaskan perlunya manusia untuk meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan lisan.  Rasulullah ` tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan”.

Poin selanjutnya Rasulullah ` berlindung kepada Allah dari kejahatan hati, yaitu hati yang tak berorientasi kepada Alah. Hati yang hasad dengan apa yang ada pada orang lain. Banyak sekali penyakit hati, penyakit kemunafikan, penyakit riya’, penyakit was-was dan lain sebagainya. Semua itu karena hanya Allah l saja yang mengetahu hati seseorang.

Terakhir beliau berlindung kepada Allah dari kejahatan air mani, dari menumpahkannya dalam perbuatan yang diharambakn, yaitu zina atau apa saja yang menjadi pintu menuju perzinaan.  Perhatikan, semoga Allah merahmatimu, Rasulullah memohon perlindungan dari kejahatan seluruh anggota badan tersebut di atas. Ingatlah bahwa semua itu akan menjadi saksi di hadapan Allah l kelak pada hari perhitungan. Oleh karena itu marilah kita semua lebih waspada dan mari kita hapalkan doa ini serta kita ulang-ulang do’a ini kapanpun dan di manapun kita berada. Bila Allah telah menjaga kita dari itu semua kita akan menjadi manusia-manusia yang siap untuk mendapatkan rahmat Allah, masuk ke surga-Nya. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan taufik kepada kita agar mampu melaksanakannya. Walhamdulillahirabbil alamin.