Teungku Fakinah Ulama yang Menjadi Panglima Perang

Perang Aceh merupakan salah satu perang terhebat di Nusantara dalam melawan penjajah Belanda. Perang yang meletus di tahun 1873-1904 ini merupakan perang yang menelan korban serdadu Belanda paling banyak. Belanda sendiri mengakui bahwa perang  Aceh adalah  perang yang paling pahit, melebihi pahitnya pengalaman mereka dalam Perang Napoleon. Hal ini bisa dibuktikan oleh saksi bisu sejarah, yaitu kuburan Kerkhof.

Kuburan Kerkhoff  Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Belanda. Kuburan tentara ini adalah salah satu yang terluas di dunia. Sekitar 2.200 tentara termasuk empat orang jenderal dimakamkan di sini. Serdadu-serdadu Belanda tersebut menjadi saksi kegigihan perjuangan rakyat Aceh yang tak pernah lelah mengobarkan jihad melawan “kaphee” (si kafir)  Belanda.

Bahkan Belanda sempat putus asa dalam menghadapai perlawanan rakyat Aceh, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk memadamkannya. Atas jasa Dr. Christiaan Snouck Hurgronje lah Belanda dapat mengusai Kesultanan Aceh. Snouck Hurgronje berpura-pura masuk Islam untuk  mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kelemahan rakyat Aceh. Selama dua tahun ia berbaur dengan rakyat Aceh. Dari hasil penelitiannya yang dibukukan dalam buku berjudul De Acehers (Rakyat Aceh) ia memberi pandangan bahwa pemimpin perang sebenarnya bukanlah sultan Aceh tetapi para ulama. Ia menyarankan agar tentara Belanda berkonsentrasi dalam menumpas dan memberangus para ulama. Setelah para ulama tertangkap dan diasingkan atau bahkan dibunuh barulah perjuangan rakyat Aceh bisa dipadamkan. Saran Snouck Hurgronje dijalankan oleh Belanda, dan ternyata berhasil dengan baik. Perang Aceh bisa dipadamkan sedikit demi sedikit.

Tak ada yang menyangkal keheroikan rakyat Aceh dalam berjuang. Bahkan ketika Sultan Aceh, Sultan Muhammad Daud Syah menyerah pada tahun 1904, rakyat Aceh tetap melanjutkan perang secara gerilya. Mereka berjuang bukan demi Sultan, tetapi karena panggilan jihad suci mempertahankan tanah air. Perang gerilya tetap berlangsung hingga tahun 1942, tahun berakhirnya penjajahan Belanda karena kedatangan tentara Jepang.

Perang Aceh telah begitu banyak melahirkan para pahlawan, tak hanya laki-laki tetapi juga pahlawan perempuan. Salah satu pahlawan tersebut adalah Teungku Fakinah, seorang ulama perempuan yang menjadi panglima perang di daerahnya.

Teungku adalah sebutan bagi alim ulama Aceh. Sedangkan Teuku adalah gelar kebangsawanan. Teungku Fakinah merupakan salah satu ulama perempuan yang hidup sezaman dengan Cut Nyak Dien. Ia sahabat karib Cut Nyak Dien dalam berjuang. Ia juga sering menjadi penasihat spiritual Cut Nyak Dien.

 

Biografi Teungku fakinah

Teungku Fakinah dilahirkan tahun 1856 di desa Lam Krak. Ayahnya bernama Datuk Mahmud, seorang pejabat pemerintahan kesultanan Aceh. Sedangkan ibunya bernama Teungku Muhammad Sa’at pendiri pesantren Lam Pucok. Ibunya adalah seorang ulama. Pesantren Lam Pucok menghasilkan banyak pejuang gigih Aceh, salah satunya adalah Teungku Chik Ditiro.

Teungku Fakinah tidak pernah menempuh pendidikan formal. Ia menempuh pendidikan agama di pesantren milik kedua orang tuanya. Ia belajar agama dengan tekun seperti ilmu Tauhid, tafsir, hadits, Bahasa Arab. Sedangkan ilmu keputrian ia peroleh dari ibunya.

Masa Kecil Teungku Fakinah

Teungku Fakinah dibesarkan dalam kondisi perang Aceh. Semua masyarakat Aceh bersatu padu mengobarkan semangat jihad. Tua, muda, laki-laki, perempuan semuanya membenci kaphee Belanda. Terlebih lagi ketika Masjid Agung Baiturrahman di kuasai Belanda, semua rakyat Aceh bersumpah untuk merebutnya kembali. Tercatat terjadi empat kali pertempuran besar dalam merebut Masjid Agung Baiturrahman.

Meskipun perempuan, tetapi Teungku Fakinah memiliki keberanian yang tidak kalah dengan laki-laki. Ia dikarunia wajah yang rupawan. Kecantikan wajahnya tidak membuat ia lupa diri. Tidak membuat ia mengeksploitasi dirinya sendiri untuk kepentingan duniawi semata. Kecantikan wajahnya ia lengkapi dengan kecantikan hatinya. Teungku Fakinah memegang teguh prinsip-prinsip Islam dalam kehidupannya. Ia hanya mau menerima pinangan pemuda yang taat beragama.

Pernikahan Teungku Fakinah

Ketika berusia 16 tahun, yaitu di tahun 1872, Teungku Fakinah menggenapkan separuh agamanya. Ia menikah dengan Teungku Ahmad, seorang pemuda shalih dari kampung Lam Beunot. Pasangan suami istri ini telah mewakafkan dirinya untuk berjuang bersama di jalan Allah. Mereka mendirikan pesantren di Lam Beunot. Di samping aktif mengajar di pesantren, Teungku Ahmad juga gigih berjuang  mengusir Belanda. Ia bersumpah untuk berjuang di jalan Allah hingga syahid menjelang.

Tatkala pecah perang Aceh untuk pertama kalinya di tahun 1873, tanpa ragu Teungku Ahmad turut berjuang memenuhi panggilan jihad suci. Ia memperkuat barisan pasukan Panglima Polim (Panglima Kesultanan Aceh). Meskipun masih pengantin baru dan mempunyai istri cantik, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk berjihad. Ia berjuang dengan gagah berani di garis depan. Pertempuran terjadi dengan dahsyatnya. Banyak kaum mujahidin yang syahid, termasuk di dalamnya Teungku Ahmad.

Teungku Fakinah berduka sekaligus bangga memiliki suami yang syahid di jalan Allah. Ia menjadi janda dalam usia yang sangat muda yaitu 17 tahun. Teungku Fakinah adalah tipe mukmin sejati yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk berjuang di jalan Allah. Meskipun suaminya telah tiada, bukan berarti ia harus larut dalam kedukaan. Ia bahkan bangkit  meneruskan perjuangan suaminya.

Kiprah Perjuangan Teungku Fakinah

Kiprah pertamanya adalah membentuk Badan Amal bagi kaum mujahidin. Ia mengkoordinir para perempuan terutama para janda untuk bangkit berjuang. Ia berkeliling Aceh mengumpulkan sumbangan untuk menyokong perang Aceh. Berbagai sumbangan yang ia peroleh baik berupa uang, makanan, senjata, ataupun pakaian diserahkan sepenuhnya bagi kepetingan kaum mujahidin. Ia juga mendirikan dapur umum dan tenda darurat bagi mujahidin yang terluka.

Ketika Kutaraja (Banda Aceh) berhasil dikuasai Belanda, para pejuang memindahkan pertahanannya di Lam Bhouk. Tetapi pertahanan tesebut tidak bisa bertahan lama, Lam Bhouk berhasil dikuasai Belanda pada tahun 1883. Para pejuang kemudian bergerilya dan memindahkan pusat pertahanannya di Aneuk Galung. Dengan dipimpin oleh Teungku Cik Di Tiro, para pejuang berjuang mati-matian mempertahankan daerah Aneuk Galung. Dahulunya, daerah Aneuk Galung ini merupakan markas pertahanan Panglima Polim. Tetapi Panglima Polim berhasil ditangkap Belanda pada tahun 1878.

Satu-satunya Panglima Perempuan

Tengku Fakinah merupakan satu-satunya panglima perang perempuan. Ia memimpin langsung pembangunan benteng di daerah Cut Weue. Ia mengerahkan anak buahnya untuk memasang pagar, menggali parit dan memasang ranjau. Ia memiliki pasukan perempuan yang hebat, pasukan perempuan berani mati. Tercatat nama-nama hebat seperti Cutpo Fatimah Blang Preh, Nyak Raniah, Cutpo Habi, Cutpo Nyak Cut, dan Cut Puteh menjadi anggota pasukannya.

Semua pejuang menghormati Teungku Fakinah. Semua rakyat Aceh mencintai Teungku Fakinah. Ia sering menghadiri rapat koordinasi dengan para panglima perang daerah lain. Waktu itu Teungku Fakinah adalah seorang janda. Adat dan tradisi masyrakat Aceh memandang kurang baik apabila seorang perempuan menghadiri pertemuan dengan para panglima laki-laki seorang diri. Atas desakan anak buahnya, akhirnya Teungku Fakinah menikah untuk kedua kalinya dengan Teungku Nyak Badai, seorang pejuang dari Pidie.

Sepeninggal suaminya, Teungku Fakinah tidak mundur setapak pun dari jalan perjuangan. Salah satu jasa besar yang tercatat oleh sejarah adalah ketika Teungku Fakinah berhasil mengembalikan Teuku Umar (suami Cut Nyak Dien) untuk insyaf berjuang kembali melawan kaphee Belanda.

Kiprah Tengku Fakinah Meyakinkan Teuku Umar Untuk Berjuang Melawan Belanda

Waktu itu Teuku Umar sempat membelot, memihak kepada Belanda. Ia bahkan dianugerahi gelar Johan Pahlawan oleh Belanda atas jasa-jasanya menumpas pemberontakan rakyat Aceh. Padahal sebelumnya Teuku Umar adalah seorang pejuang yang gigih melawan Belanda. Entah karena alasan taktik atau bukan, Teuku Umar sempat membelot. Rakyat Aceh sangat bersedih dengan keadaan ini, mereka kehilangan sosok Teuku Umar yang selama ini memimpin perjuangan.

Sesudah jatuhnya markas pertahanannya, Teungku Fakinah berpindah-pindah tempat. Mula-mula ia tinggal  di Lammeulo. Setelah itu ia tinggal di  Blang Peuneuleun (Pucok Peuneuleun). Daerah ini merupakan daerah yang sangat indah dan lahan yang sangat subur, sehingga ditempat ini dijadikan perkampungan dan sekaligus membuka lahan pertanian. Teungku Fakinah pun sempat membuka pesantren di daerah ini. Akan tetapi pada tahun 1899 Belanda menyerbu tempat ini dan memporak-porandakan semua bangunan yang ada. Teungku Fakinah berhasil lolos dari pengepungan.

Sejak saat itu Teungku Fakinah tidak pernah membuat markas pertahanan lagi. Ia mengobarkan perang gerilya bersama perempuan hebat lainnya seperti Pocut  Awan (ibunda Panglima Polim), Pocut Lam Gugob (kerabat sultan),dll. Mereka mengarungi hutan belantara, berpindah-pindah sampai kepegunungan Pasai, Gayo Luas, serta tempat-tempat lain di sekitar Laut Tawar. Sekalipun Teungku Fakinah tidak lagi memegang peranan sebagai Panglima Perang, namun beliau tetap aktif dalam bidang pendidikan agama, terutama mengajar wanita-wanita yang turut bergerilya. Ia mengobarkan semangat jihad mujahidah-mujahidah hebat tersebut.

Setelah Panglima Polim dan Kesultanan Aceh menyerah, Teungku Fakinah kembali ke kampung halamannya pada tanggal 21 Mei 1910. Dia kembali ke kampung halamannya di desa Lam Kraak dalam usia 54 tahun. Kemudian ia pun mendirikan pesantren  pada tahun 1911. Teungku Fakinah sangat dihormati dan dicintai rakyat Aceh. Banyak tokoh masyarakat yang menyumbangkan dana untuk pembangunan pesantren tersebut. Teungku Fakinah pun mengisi hari tuanya dengan mengajar agama di pesantren. Murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru Aceh.

Kematian dan Wafatnya Teungku Fakinah

Teungku Fakinah menghembuskan nafas terakhir  pada tahun 1938 di usianya yang ke-75 . Aceh berduka. Seorang ulama perempuan sekaligus panglima perang telah tutup usia. Teungku Fakinah telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengibarkan panji-panji Islam. Meski namanya tak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah Indonesia, tetapi namanya tetap abadi di sisi pencipta alam semesta. Salam penuh takzim untuk sang ulama panglima perang.

Ust. Syahidan Sulthoni, S.Psi

(Dari berbagai sumber)

Bagi seorang hamba yang mau untuk Mengikuti Hawa nafsunya, maka dia tidak akan pernah puas dan merasa cukup. Karena hakekat dari hawa nafsu itu adalah untuk dikekang dan diatur dengan aturan-aturan yang telah diwajibkan oleh Allah swt dan diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Hakekat nafsu yang ada pada diri kita adalah untuk diatur dengan syariat yang telah diturunkan oleh Allah SWT, yakni dengan syariat islam.

Dan sudah selayaknya seorang muslim tahu akan batasan-batasan yang diperbolehkan oleh agama dalam memenuhi hawa nafsunya. Karena didalam memenuhi hawa nafsu tersebut ada yang diperbolehkan dan ada yang dilarang oleh agama.

Kita harus tahu mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak boleh kita lakukan, agar kelak ketika sudah datang ajal menghampiri diri kita. Kita bukan termasuk orang yang merugi karena menuruti hawa nafsu yang terlarang olehNya.

Berikut ini ada kisah islami yang menarik tentang  seorang yang terjerumus ke dalam gemerlapnya kehidupan dunia karena mengikuti hawa nafsu yang terlarang, semoga kisah ini berguna dan memberikan manfaat kepada kita semua.

Kisah seorang yang terjerumus ke dalam gemerlapnya kehidupan dunia

            “BINTANG KEJORA DARI TIMUR”

Ia adalah seorang wanita yang di juluki “bintang kejora dari timur”,ia bernama Ummu Kutsum .Para penggemarnya mengatakan bahwa ia adalah biduanita yang sangat mengagumkan .Mereka juga mengatakan bahwa kecintaan mereka terhadap bangsa Arab terhadapnya sama dengan kecintaan mereka terhadap bangsa Palestina .Mereka juga mengatakan bahwa Ummu Kultsum pengharum abad ini.

Wanita yang namanya melejit lewat seni tarik suara ini telah membuat para penulis dan penya’ir menciptakan lirik-lirik lagu dan sya’ir-sya’ir yang penuh dengan cinta dan asmara.Lewat lagu dan penampilannya ia mampu mengajak orang bergadang sampai menjelang pagi.

Mustofa Amin,seorang penulis mesir berkata,”Aku pernah melihat Ummu Kultsum setelah berhasil membuat pemberontakan besar-besaran ,ia mengatakan bahwa dirinya bersedia mengeluarkan setengah dari harta kekayaan yang di milikinya,hanya untuk mendapat izin memakan satu butir telur setiap hari .Rupanya dahulu para dokter melarangnya memakan telur yang merupakan makanan kesukaan yang paling di senanginya .Aku pun selalu ingat bahwa setiap kali Ummu Kultsum bertemu denganku ,ia selalu berkata bahwa hari-harinya melarat ,sewaktu di desa dahulu merupakan hari-hari yang paling bahagia yang ia rasakan sepanjang hidupnya.”

Adapun tentang kematian perempuan ini ,semoga menjadi renugan bagi kita semua ,yakni ia menderita dalam kurun waktu yang cukup lama. Satu persatu anggota tubuhnya dimatikan oleh Allah.(Tajaribuhum Ma’as sa’adah ,di ringkas dari buku ‘Taubat Surga Pertama Anda ‘ Pustaka Imam Syafi’i.)

Kesungguhan para ulama terdahulu untuk mendalami ilmu pengetahuan sangatlah besar. Mereka rela mengorbankan banyak waktu dan tenaga mereka untuk membaca dan mendalami ilmu-ilmu syar’i.

Membaca merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh para penuntut ilmu jika mereka ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan berkah.

Alasan kenapa kita sebagai penuntut ilmu harus membaca adalah karena ilmu itu didapat dengan banyak cara. Dan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca buku-buku pengetahuan yang ada.

berikut ini kita akan membahas satu ulama dari ribuan ulama yang ada, yang mana ulama ini memiliki kekuatan yang luar biasa, memiliki semangat yang sangat membara untuk menuntut ilmu dan mempelajarinya.

Al Khatib Al Baghdadi Khatam Shahih Al-Bukhari dalam 3 Kali Pertemuan

Ada sebuah Mahfudzat atau kata mutiara arab yang berbunyi:

                                                  خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ

“Sebaik-baik teman duduk setiap waktu adalah buku”

Dari kata mutiara di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa buku sangat bermanfaat untuk manusia. Buku akan memberikan kebahagiaan bagi manusia yang mau berteman denganya.

Al Jahizh seorang cendikiawan arab merangkai sebuah ungkapan indah untuk menggambarkan tentang buku, ia berkata “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kamu miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan”.

Di Antara kebiasaan para ulama adalah mengisi waktu duduk “mereka dengan membaca buku-buku tebal dari berbagai disiplin ilmu} yang ada (terutama dari buku-buku hadits yang bersanad). Maka tidak mengherankan jika banyak manusia yang mengambil buku-buku hadits tersebut dari pengarangnya secara langsung, atau dari seseorang yang memih‘ki riwayat bersambung sanadnya. Baik dia menden’garkan semua atau sebagian darinya, atau melalui rekomendasi sebagian atau seluruhnya. Semakin berkurangnya majelis ilmu serta pengkajian buku-buku para ulama itu menjadi satu paket dengan semakin mundurnya zaman yang disebabkan. Di samping semakin surutnya peredaran buku bacaan yang membahas hadits, terutama buku-buku yang sudah masyhur, atau yang ditulis oleh ulama tersohor yang tidak diragukan lagi keilmuannya.

Sebuah majelis ilmu bisa berlangsung lama, juga bisa berlangsung singkat, yaitu sesuai dengan tujuan dari pengkajian, senggangnya waktu sang syaikh, kesiapan penuntut ilmu, serta sulit mudahnya tema buku yang dibahas.“”1

Tidakdiragukanlagibahwa membaca danmembahas buku-buku tebal hanya dalam beberapa pertemuan, tentunya membutuhkan banyak faktor, baik faktor tersebut dari syaikh maupun penuntut ilmu itu sendiri. Di antara faktor tersebut adalah pengetahuan terhadap buku yang dibaca, kuatnya ingatan, kefasihan bahasa, serta kecepatan membaca. Faktor lain yang juga ikut menentukan adalah tekad kuat, cita-cita tinggi, dan kesabaran. Barangsiapa telah memenuhi semua kriteria ini, niscaya besi yang keras akan menjadi lunak, dan perkara yang sulit akan menjadi mudah.

Nama beliau adalah Abu Bakar Muhammad Ahmad bin Ali bin Tsabit, terkenal dengan nama “Al Khathib Al Baghdadi”. Ia yang menulis kitab terkenal Kitab Tarikh Baghdad.

Ia lahir pada tahun 392 H di Iraq  dan  Ayahnya bernama Khatib Darzanjan menyuruh anaknya memperdalam ilmu hadits sejak kecil (tahun 403H). Ia mengembara ke bebagai wilayah untuk memperdalam ilmu hadits.

Ia menyimak hadits dari sejumlah besar kalangan muhadditsin yang tsiqah dari berbagai wilayah seperti Baghdad, Bashrah, Naisabur, Ashbahan, Dainur, Hamadan, Kufah, Haramain, Damaskus, al Quds dan lain lainnya. Ia juga merantau ke Syam (Syiria) pada tahun 451 H dan menetap disana selama 11 tahun.

Dalam Tarikh Baghdad163 pada biogran Ismail bin Ahmad lbnu Abdullah Adh-Dharir Al-Khiri (w. 430 H), Al-Khatib menceritakan bahyvasanya beliau ingin memperdengarkan bacaan Shahfh AlBukhari-‘Lyang dia dengar dari AI-Kusymihani164 yang bersumber dari AI-Firabri‘SS-pada Ismail bin Ahmad. Kemudian Syaikh Ismail pun memenuhinya. Dalam ceritanya itu Al-Khatib berkata, “Aku membaca seluruhnya dalam tiga kali pertemuan, dua darinya pada dua malam, yang aku mulai sesudah shalat Maghrib dan aku hentikan ketika shalat Subuh hampir tiba. Pada pertemuan ketiga sebelum aku membaca, Syaikh Ismail bin Ahmad beserta rombongan pergi ke tepi timur dan bersinggah di pasar Yahya di sebuah pulau. Maka aku pun mengikuti beliau bersama teman-temanku yang ikut hadir pada pembacaan pertama dan keduaku yang Ialu. Pada kesempatan ketiga inflah aku membaca di hadapannya sejak waktu Dhuha hingga menjelang Maghrib di pulau tersebut. Kemudian dilanjutkan setelah Maghrib sampai terbit fajar Subuh. Aku pun mengkhatamkan Shahfh Al-Bukhari pada hari itu. Dan keesokan hafinya Syaikh melanjutkan perjalanannya bersama rombongan.”

Sungguh alangkah tinggi dan jauhnya cita-cita ini! Apakah Anda pernah mendengar seseorang yang memiliki cita-cita dan tekad seperti beliau? Di hari ketiga beliau habiskan waktunya » untuk membaca (dari waktu Dhuha sampai Maghrib, dari Maghrib sampai menjelang shalat Subuh). Dengan cita-cita ini, Al-Khatib telan menggapai apa yang diidam-idamkannya. Dengan cita-cita in; juga beliau\mendapat julukan Hafizh AI-Masyriq. Dengan cita-cita ini pula beliau menjadi rujukan dan sandaran para ahli hadits. Bahkan, mereka sangat bergantung dengan buku-buku yang beliau tulis, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Nuqthah.167

 

Komentar-komentar tentang kisah ini:

  1. Al-Hafizh Adz-Dzahabi di dalam As-Siyar168 mengomentari kisah ini, “Demi Allah, ini adalah bacaan tercepat yang belum pernah terdengar sebelumnya.”
  2. Dalam Tarfkh AI-Islam‘69 beliau juga menuturkan, “Menurutku ini adalah bacaan yang tak seorang pun mampu melakukannya pada zaman ini.”
  3. Dalam AI-Jawahir Wa Ad-Durar FT Tariamah Syaikh Al-lslam lbn Hajar‘7° As-Sakhawi pernah bertanya kepada gurunya, Ibnu Hajar, “Apakah Anda pernah menghabiskan waktu seharian penuh untuk membaca? (maksudnya seperti yang dilakukan oleh AI-Khatib).” Ibnu Hajar menjawab, “Tidak pernah. Tetapi aku pernah mengkhatamkan Shahfh Al-Bukhdrf da’lam sepuluh kali pertemuan. Sekiranya dahulu dirutinkanmungkinakankurangdarisepuluhharitersebut.Bagaimana mungkin bintang yang ada di Iangit disamakan dengan tanah yang selalu di bawah? Sungguh AI-Khatib as sangat bagus bacaannya¢ bisa dimengerti, dan dipahami oleh para pendengarnya.”

 

Banyak ulama yang meriwayatkan hadits darinya termasuk gurunya sendiri Ahmad al Bargani (Baghdad), Ibnu Makula berkata,” Al Khatib adalah tokoh terkenal terakhir yang kami akui kepintarannya, hapalannya, ke dhabith annya tentang hadits hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, juga kelihaiannya dalam mengetahui illat illat dan sanad sanadnya, serta mengetahui akan shahih, gharib, ahad, mungkar atau matruknya sebuah hadits”. Ia melanjutkan ,” Tidak ada orang Baghdad setelah Daraquthni yang sekaliber al Khatib”.

Sebelum wafatnya ia menyedekahkan seluruh harta nya senilai 200 Dinar kepada para Ulama dan Kaum Faqir, bahkan ia berwasiat agar menyedekahkan kitab kitabnya kepada kaum muslimin.

Ia wafat pada tahun 463 H

 

 

 

Kesungguhan Ulama Dalam Menuntut ilmu

Kisah Semangat Sufyan ats-Tsaury Dalam Belajar

Kemiskinan tidak menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan ats-Tsaury (ulama generasi tabi’ tabi’in) rahimahullah. Ia menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari denganamirul muknin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi kedudukannya.

 

Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah), ‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada Allah kecukupan’.

 

Sufyan ats-Taury adalah seorang yang miskin dan belajar butuh modal. Fokus belajar, membuatnya tidak punya harta untuk belajar. Tapi jika belajar sambil bekerja, ilmu yang didapatkan hanya setengah-setengah, tidak optimal. Kemudian Allah ﷻ memberikan jalan keluar dan mengabulkan doanya. Doa tulus untuk mempelajari agama-Nya. Ibunya berjanji menanggung keperluannya belajar. “Wahai anakku, belajarlah! Aku yang akan mencukupkanmu dari hasil usaha tenunanku ini”, kata ibunya (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya. 6/370).

 

Dengan usaha menenun, ibunya membelikan buku dan mencukupi kebutuhannya dalam belajar. Tidak hanya mendanai Sufyan, ibunya juga selalu memberi semangat dan menasihatinya agar terus giat memperoleh ilmu. Ibunya mengatakan, “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, perhatikan… apakah ada pada dirimu perasaan semakin takut (kepada Allah), semakin lembut, dan semakin tenang. Jika engkau tidak merasakannya, ketahuilah apa yang kau pelajari memudharatkanmu. Tidak bermanfaat untukmu.” (Ibnul Jauzi dalam Sifatu Shafwah, 3/189).

Nasehat Ibunda Sufyan ats-Tsaury Dalam Belajar

Nasihat ibu Sufyan juga sangat layak kita jadikan renungan. Introspeksi diri yang mungkin jarang kita lakukan. Sudahkah ibadah kita makin giat, akhlak semakin baik, dan rasa takut serta tawakal kepada Allah kian kuat, setelah kita belajar?

 

Ibu Sufyan menjadikan 10 huruf, hanya 10 huruf, untuk introspeksi sejauh mana pengaruh ilmu untuk dirinya.

 

Dengan lantaran ibunya, Sufyan ats-Tsaury menjadi Sufyan ats-Tsaury yang kita tahu. Seorang pemimpin dalam ilmu dan imam dalam agama.

 

Jabir bin Abdillah

 

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki semangat luar biasa dalam mempelajari agama. Ia dan ulama-ulama lainnya tidak mencukupkan diri belajar di negerinya sendiri. Mereka bersafar, melangkahi jalan-jalan, menghilangkan ketidak-tahuan.

 

Kisah perjalanan mereka ini seperti dongeng. Karena mereka berjalan bermi-mil hanya untuk sesuatu yang menurut sebagian orang adalah kecil. Tantangan mereka pun berat dan fasilitas mereka tidaklah hebat. Perjalanan pun tetap beralangsung.

 

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu melakukan perjalanan sebulan menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, hanya untuk satu hadits. Jabir bercerita, “Aku mendengar ada satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang dari sahabat Rasulullah ﷺ. Lalu aku membeli seekor onta, dan kuikat bekalku sebulan pada onta itu. Tibalah aku di Syam. Ternyata sahabat tersebut adalah Abdullah bin Unais. Aku berkata kepada penjaga pintunya, ‘Katakan kepadanya, Jabir sedang di pintu’. Dia bertanya, ‘Jabir bin Abdillah?’ Aku menjawab, ‘Ya’.

 

Lalu Abdullah bin Unais keluar dan dia merangkulku, aku berkata, ‘Sebuah hadits, aku mendengarnya ada padamu, kamu mendengarnya dari Rasulullah ﷺ, aku khawatir mati atau kamu telah mati sementara aku belum mendengarnya. Lalu ia menyebutkan hadits tersebut…” (Riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 970, Ahmad 16085, dan al-Hakim 3638).

 

Setelah mendangar hadits tersebut, Jabir langsung pulang, kembali ke Madinah. Tidak ada motivasi lain bagi dirinya, berangkat menuju Syam kecuali satu hadits tersebut.

 

Abu Ayyub al-Anshari

 

Abu Ayyub al-Anshari pernah bersafar dari Madinah ke Mesir. Untuk menemui Uqbah bin Amir al-Juhni. Ia ingin meriwayatkan satu hadits darinya. Sesampainya di Mesir, bertemu Uqbah dan mendengar haditsnya, ia langsung kembali ke Madinah (Riwayat Ahmad 17490, Abdurrazzaq 18936, Ibnu Abi Syaibah 13729).

 

Asad bin Furat

 

Asad bin Furat rahimahullah adalah seorang ahli fikih madzhab maliki. Ialah yang membukukan madzhab Imam Malik rahimahullah. Asad adalah hakim di Qairawan. Ia juga seorang mujahid. Turut serta membebaskan wilayah Sicilia di Italy pada tahun 213 H. Asad bercerita tentang perjalanannya belajar agama:

 

Ia pergi ke Madinah, belajar kepada Imam Malik. Lalu menuju Irak dan belajar dari murid-muridnya Imam Abu Hanifah. Di Irak pula ia belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Ribuan orang hadir di majelis Muhammad bin Hasan, sulit bagi Asad untuk bertanya sesuatu yang ia inginkan. Akhirnya ia bisa menyampaikan uneg-unegnya kepada Muhammad bin Hasan. “Aku adalah orang asing (bukan orang Irak) yang sedikit bekalnya. Mendengar ucapanmu (di majelis) sangat sulit karena padatnya jamaah. Dan orang-orang yang belajar denganmu banyak. Adakah solusi untukku?”

 

Muhammad bin Hasan rahimahullah menjawab, “Dengarkanlah bersama orang-orang Irak di siang hari. Malam harinya kukhususkan untukmu saja. Menginaplah di tempatku. Aku akan memperdengarkanmu (ilmu).”

 

Asad bin Furat mengatakan, “Aku pun menginap di rumahnya. Kuletakkan di hadapanku suatu wadah yang berisi air. Mulailah aku belajar. Apabila malam larut, dan aku merasakan kantuk, kubasahi tanganku dan kuusapkan di wajahku, aku pun segar kembali. Itulah caranya dan caraku. Sampai akhirnya aku merasa puas mendengarkan ilmu darinya.”

 

Perhatikanlah kesungguhan dua ulama ini. Bagaimana Muhammad bin Hasan meluangkan waktunya siang dan malam untuk mengajar. Dan ia khususkan malam untuk Asad bin Furat. Mengapa? Karena ia tahu, melalui Asad ilmu yang ia miliki akan tersebar ke negeri yang tidak mampu ia jangkau.

 

Lihat pula kesungguhan Asad bin Furat rahimahullah, ia tidak merasa cukup belajar dari ulama sekelas Imam Malik rahimahullah. Padahal apa yang dia dapat dari Imam Malik sangat banyak. Ia tetap merasa haus dan lapar akan ilmu agama. Sehingga senantiasa mempelajarinya selama masih bernyawa.

 

Diriwayatkan oleh ad-Darimi dengan sanad yang shahih, mursal dari Thawus bin Kaisan rahimahullah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ pernah ditanya, ‘Wahai Rasulllah, siapa orang yang paling berilmu?’ Beliau ﷺ menjawab, ‘Orang yang mengumpulkan ilmu banyak orang menjadi ilmunya. Setiap pelajar ilmu agama adalah ghartsanu (orang yang lapar, tidak merasa cukup) terhadap ilmu.” (HR. Ad-Darimi, Husain Silmi seorang muhaqqiq Sunan ad-Darimi berkata, “Sanadnya shahih”.).

 

Imam al-Bukhari

 

Al-Bukhari rahimahullah terbangun dalam satu malam. Kemudian ia menghidupkan lenteranya. Ia menulis pelajaran. Kemudian ia padamkan lenteranya. Lalu terbangun lagi, lagi, dan lagi. Hingga hampir 20 kali (Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 11/25).

 

Imam an-Nawawi

 

Imam an-Nawawi rahimahullah bercerita tentang dirinya, “Pernah selama dua tahun aku tidak pernah membaringkan pungguku di bumi (lantai). Apabila rasa kantuk menghampiriku, aku tersandar pada buku-buku sesaat, kemudian bangun kembali.” (Ibnu Qadhi Syubhah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah).

 

Beliau tidak pernah tidur berbaring selama dua tahun. Duduk menelaah buku-buku, lalu tertidur dan segera bangun kembali. Untuk apa beliau lakukan itu? Untuk ilmu yang berharga, warisan Nabi ﷺ, ilmu agama.

 

Fakhruddin Muhammad as-Sa’ati

 

Fakhruddin Muhammad adalah seorang ilmuan kedokteran dalam sejarah Islam. Ia menceritakan bagaimana ia mempelajari ilmu kedokteran dengan mengatakan, “Kaumku hasad kepadaku atas apa yang telah kuperbuat. Karena antara aku dan mereka adalah tempat tidur. Aku bergadang di malam hari. Sementara mereka terkantuk-kantuk. Tentu tidak sama antara orang yang belajar dan yang ngantuk.” (Ibnu Abi Ushaibi’ah dalam Uyunul Anba fi Thabaqat al-Atibba, 4/162).

 

Imam Ahmad

 

Imam Ahmad bercerita tentang masa kecilnya, “Aku berangkat pagi-pagi untuk hadits”, yakni beliau keluar dari rumahnya di saat pagi untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuknya saat belajar hadits. “Ibuku menyimpan pakaianku hingga saat adzan subuh (berkumandang).” (adz-Dzahabi dalam Siyar Alamin Nubala).

 

Imam Ahmad di masa kecilnya telah menyiapkan diri untuk belajar hadits sebelum datangnya waktu subuh. Tapi ibunya takut kalau anaknya keluar sebelum waktu subuh tiba. Karenanya, bajunya baru ia berikan setelah adzan subuh berkumandang.

 

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel www.KisahMuslim.com