Profil Ust Umair Khaz “ Hidup Untuk Berdakwah, tapi  jangan mencari hidup di dalamnya”

 

profil ust umair khaz

Muda bertakwa, bermanfaat untuk umat berdakwah untuk menyampaikan apa yang di sampaikan Rasulullah itulah kewajiban bagi manusia. Memulai pendidikan di kota Surakarta jawa Tengah, beliau adalah alumni Darusy Syahadah Simo, Boyolali jawa tengah. Menilik setatusnya sebagai da’i dan Direktur Pelaksana sekaligus dosen di pusat Pendidikan Da’i dan imam masjid Ma’had Aly Akademik Al Quran Klaten Jawa Tengah. Di samping sebagai direktur Ma’had Aly AAQ beliau juga sebagai aktifis serta relawan  yang bergerak di bidang sosial untuk membantu umat islam.

 

Terlahir di solo 22 September 1991, ustadz yang memiliki hobi menulis dan hobi berdakwah, mengawali pendidikanya di SD Takmirul Islam Surakarta 1998-2003, kemudian melanjutkan ke SMP Al Islam Surakarta lulus tahun 2006. Ketika SMP beliau sangat mengusai tiga mata pelajaran Pokok. Diantaranya, Matematika, Fisika dan Bahasa Inggris. Setelah lulus dari SMP beliau merasa bingung akan melanjutkan kemana. Ego yang tinggi sempat menguasai dirinya untuk melanjutkan pendidikan selain ke pondok pesantren. Tapi ego saya kalah dengan wejangan dari sang ayah. ayah memberikan nasehat kepada saya “ Kalau kamu sekolah di luar, dunia bisa kamu genggam sesuka hatimu, tapi tidak ada jaminan dengan akhiratmu. Kalau kamu di pesantren, kamu kenal Allah, Allah bukan hanya rajanya akhirat, Allah rajanya dunia dan akhirat. Kalau kamu sudah kenal Allah, kamu tidak hanya bisa meminta akhirat, bahkan minta dunia ke Allah sesuka hatimu, pasti Allah kasih”  Wejangan ayah membuat saya berfikir, Benar apa yang di sampaikan beliau, ketika saya hanya berbekal ilmu  dunia saja, maka itu tidak membuat saya  sukses di akhirat. Kita ini hanya musafir, sukses atau tidak di dunia, kita tetap saja pulang. Pulang ke kampung yang kekal  yaitu kampung akhirat.

Ilmu dunia saja itu tidak akan cukup untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, pada tahun 2006 beliau memutuskan untuk masuk ke ma’had Darusy Syahadah. Selama empat tahun beliau Belajar menimba ilmu syari, setiap hari berjibaku dengan buku dan bolpoin, memeras keringat dan fikiran melalui bimbingan para asatidz yang menemani belajar di setiap waktunya.

Di pondok Darusy Syahadah saya merasakan kebersamaan dalam ketaatan yang sangat sulit di dapatkan di dunia luar. Keikhlasan asatidz dalam mendidik, tidak kenal lelah dan putus asa, setiap waktu ia lakukan demi untuk menjadikan santri-santrinya yang alim muttaqin. Di Darusy Syahadah saya mempunyai pengalaman yang tidak bisa di lupaka, saat kelas satu KMI saya dan temen-temen menduduki kelas esbes. Kelas yang biasa kita sebut sebagai kelas open raksasa, terbukti setiap jam 10.00 open seperti di hidupkan seakan-akan sedang memanggang roti. Keringat bercucuran kantukppun semakin menjadi, tapi itu semua tidak menjadi penghalang bagi saya untuk tetap belajar mendengarkan apa yang di sampaikan asatidz.

Himah yang kuat dalam belajar, beliau termasuk santri yang cerdas. Memang beliau tidak pernah berprestasi, akan tetapi karena kesungguhanya, terbukti selama masa pendidikan di pondok pesantren, beliau tidak pernah keluar dari peringkat dua besar. Jiwa pemimpin yang terbentuk, semangat juang yang tinggi, kecerdasan yang mumpuni, menjadikan beliau mendapat amanah untuk memimpin Idarotu Syu’unit Tholabah ( Ketua OSIS ) di ma’had Darusy Syahadah.

Tahun 2010 adalah tahun kelulusan beliau, beliau dan ratusan alumni siap di lepas di medan dakwah baik di lembaga maupun di masyarakat, guna mengamalkan ilmu yang telah di pelajari ketika di pesantren. Pada saat itu beliau di tugaskan di pondok tempat belajarnya yaitu Darusy Syahadah. Berkat kepemimpinanya di IST, beliau mendapat amanah sebagai bagian keamanan. Di samping itu beliau juga mengajar Bahasa Inggris unit KMI dan mengajar Ushul At-Tafsir unit TID. Banyak pengalaman yang beliau dapat ketika masa-masa wiyata bakti di Darusy Syahadah baik ketika menagajar maupun menangani para santri.

Merasa kurang puas tahun 2012  beliau melanjutkan setudinya kembali ke jenjang perguruan tinggi LIPIA dengan tujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang islam. Perlu di ketahui, LIPIA itu bukan nama makanan, LIPIA merupakan salah satu perguruan tinggi yang bertaraf internasional yang terletak di Ragunan, Jakarta Selatan. LIPIA merupakan kepanjangan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab. Nama resminya yaitu Jami’atul Imam Muhammad Ibnu Suud Al Islamiyah, atau Al-Imam Muhammad Ibnu Suud Islamic University. LIPIA merupakan Universitas milik kerajaan Arab Saudi, dan pusat utamnya di Ibukota Arab Saudi Riyadh.

Di Lipia beliau juga aktif mengkuti beberapa organisasi mahasiswa baik yang bergerak dalam dunia dakwah mupun sosial, diantaranya beliau pernah menjadi ketua Hawari ( Forum Dakwah Kampus Mahasiswa Lipia Jakarta). Di tengah perkembanggan zaman dan banyaknya godaan dalam menjalani lika- liku kehidupan,  pada  tahun 2015 beliau memantapkan untuk menyempurnakan separuh agamanya yaitu menikah, kemudian melanjutkan stadinya kembali. Untuk meraih gelar L.c, yang biasa di tempuh dengan waktu delapan tahun, beliau berhasil menyelesaikan studinya dalam jangka waktu yang singkat yaitu lima tahun, satu tahun takmili dan empat tahun di fakultas syariah. Ketika di LIPIA beliau lebih mendalami ilmu Sirah dan Dirasatul Firaq.

Disamping sebagai da’i yang berdakwah di dunia nyata beliau juga penggiat dakwah di dunia maya, dunia dengan kecanggihan yang setiap waktu semakin berkembang bertambah maju, baik W.a, Facebook Twiter dan lain sebagainya.

Untuk aktifitas sekarang beliau adalah Direktur Pelaksana dan Dosen Pendidikan da’i Akademik Al Quran Klaten, Mudir majelis mulazamah Mahasiswa Mus’ab bin Umair Solo, Sekjen Aliansi Nasional Anti siah ( Annas Solo ), pengajar Mahad Aly Lid Dirosah Al Islamiyah Shofwan Plupuh, Sragen. Pengurus Yayasan Peduli Mualaf islam pedalaman Az-Zahro Surakarta. Pembina Wisma Mahasiswa FKAM LIPIA Jakarta, dan sedang menyelesaikan penulisan tesis di perguruan tinggi pasca sarjana UMS dengan jurusan Fiqih dan Ushul Fiqih, mohon doanya segera selesai.

Ustadz yang memiliki motto “ Hidup adalah dakwah, tapi jangan mencari penghidupan darinya” memberikan pesan kepada asatidz “ tanpa kalian, kami mungkin tidaka akn pernah tahu bagaiman cara mengaggungkan Allah secara total, teguh berjalan di atas ketaatan, dan risih melihat dosa dan kemungkaran. Tanpa kalian, kami takkan pernah tahu wajibnya menjaga agama Allah, kami takkan pernah tahu mengapa harus mengasihi dan mencintai saudaramu muslim, kami takkan pernah tahu bagaimana tegas dan menyatakan perang kepada musuh-musuh Allah. Tetaplah tegar di jalan panjang ini, terimakasih atas segala pengorbanan untuk kami santrimu

Untuk yang terakhir beliau memberikan pesan kepada para santri semua “ Kesungguhan dan pahit getir antum dalam menuntut ilmu di mahad hari ini adalah cerminan darimu di jalan dakwah kelak, menjadi penggawa dakwah atau hanya menjadi penonton”.

Demikian untuk profil alumi Darusy Syahadah yang sibuk dengan berdakwah, memimpin dan mengajar lembaga yang di binanya, mudah-mudahan membawa keberkahan untuk kehidupan dunia dan akhirat seta menjadi motifasi bagi santri dan santri wati untuk senantiasa bersungguh sungguh dalam belajar karena sejatintya untuk meraih apa yang kita inginkan butuh perjuangan dan kesabaran. ( @Ta’al )

 

 

 

 

Ingin Menjadi Orang yang Atqiya’ Akhfiya’

Ada sebagian orang  tua yang menyekolahkan anaknya ke pesantren, dengan harapan kelak anaknya menjadi ustadz dan ustadzah. Mereka berharap, anaknya menjadi pengajar atau penceramah yang mendakwahkan agama ke berbagai pelosok Nusantaran. Perlu dipahami, tidak semua alumni Pondok Pesantren Islam menjadi Ustadz dan Ustadzah. Banyak Alumni Pondok Pesantren yang menjadi pengusaha, ahli IT, Entepreneur, pedagang dan lain sebagainya.

Untuk edisi kali ini Team Risalah Taujih Darusy Syahadah mengangkat profil seorang Alumni yang mempunyai keahlian dalam bidang usaha. Beliaulah yang menahkodai Perusahaan Ivorie, perusahaan yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Beliau adalah Muhammad Anwar As-Shidiqi.

Muhammad Anwar As-Shidiqi adalah salah satu Alumni Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah Gunung Madu, Kedunglengkong, Simo, Boyolali, Jawa Tengah. Alumni yang biasa disapa Ust. Anwar ini terlahir di kota Magelang Jawa Tengah. Beliau bersama Ust. Toyyib Pranoto yang merintis Perusahaan Ivorie Salah satu unit usaha Ponpes Darusy Syahadah yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Ust. Anwar merupakan alumni angkatan ke-empat yang mahir dalam menejemen perusahaan, khususnya dalam bidang ekonomi syariah.

Perjalanan pendidikan beliau dimulai dari kota kelahiranya, yaitu di SD Muhammadiyah Secang Kabupaten Magelang. Untuk jenjang menengah pertama beliau belajar di Ponpes Al-Mukmin Ngruki, sebuah lembaga pendidikan Islam yang terletak di kota Solo. Setelah tamat dari bangku menengah pertama, beliau memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu di Simo, Boyolali. Kuliayatul Mualimin Al Islamiyyah (KMI) Ponpes Darusy Syahadah merupakan program pendidikan yang beliau pilih.

Beliau pun sangat berkesan mondok di Darusy Syahadah. Di antara moment yang paling berkesan bagi beliau adalah bersama teman seangkatan yang usianya lebih tua. Santri DS yang usianya 30an, biasa dipanggil pak. Sehingga ketika dipanggil kak, agak risi dan gimana gitu, ujarnya.

Kemudian masuk sapala adalah kebanggaan tersendiri bagi seorang santri. Dan apalagi jumat keluar makan ayam di terminal. Pada saat itu seharga Rp. 1.500 nikmatnya tidak terlupakankenangnya.

Empat tahun beliau belajar di ponpes Darusy Syahadah. Setelah puas meminum air dari lautan ilmu di Darusy Syahadah, beliau mendapat amanah untuk wiyata bhakti di Pondok Pesantren Al-Muttaqin Jepara. Pada tahun ke dua penugasan, beliau pindah tugas di pondok tercinta yaitu Darusy Syahadah.

Di sela-sela tugasnya, beliau senantiasa belajar dan belajar. Beliau sadar tidak ada ilmu yang didapat dengan bersantai-santai. Karena haus terhadap ilmu, beliau memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau melanjutkan kuliah di Universitas Abu Bakar Karachi Pakistan. Dengan harapan beliau mampu menjadi manusia yang berguna bagi kaum muslimin. Di negeri Seribu Cahaya tersebut beliau belajar kepada masyayikh. Beliau menghadiri masjlis taklim, mendatangi rumah masyayikh meskipun harus berjalan jauh demi untuk mendapatkan sebuah ilmu. Susah senang dalam menuntut ilmu beliau nikmati bersama beberapa teman karibnya, di antaranya Ust. Auliya’ Syuhada (Direktur Fundraising Darusy Syahadah saat ini).

Baru tiga bulan di Pakistan, karena suhu politik di negeri tersebut, beliau tidak dapat melanjutkan studi. Beliau harus meninggalkan bangku kuliah dan majelis taklim bersama masyayikh. Sedih dan kecewa yang beliau rasakan. Karena harus kehilangan kesempatan emas mendulang ilmu dari ulama’-ulama’ Pakistan. Akhirnya beliau pun pulang ke Indonesia.

Banyak pengalaman dan pelajaran selama di Pakistan. Mulai dari perjuangan menuntut ilmu, jauh dari sahabat dan keluarga. Setelah pulang ke Indonesia beliau kembali mengabdikan dirinya di Darusy Syahadah. Beliau sadar dari Darusy Syahadah lah satu persatu mimpinya terwujud.

Tahun 2004 merupakan moment bersejarah bagi Beliau. Beliau menyempurkan separuh agamanya, yaitu menikah dengan seorang wanita asal Magetan. Dan saat ini beliau telah dikaruniai lima orang anak, 1 laki-laki dan 4 perempuan. Semoga anak-anak beliau, kelak menjadi anak yang sholih dan sholihah. Aamiin.

Aktvitas beliau saat ini sebagai pimpinan percetakan Ivorie, salah satu unit usaha milik Darusy Syahadah. Selain itu beliau juga menjadi ketua IKADS 2.0 (Ikatan Alumni Darusy Syahadah).

Beliau berpesan kepada santri-santri Darusy Syahadah, dengan mengutip perkataan dari sahabat Umar bin Khathab, “Wahai anak-anakku belajarlah ilmu agama yang benar dan luangkan waktu untuk itu, jikalau seandainya hari ini engkau menjadi orang yang kecil maka suatu waktu Allah akan jadikan kalian orang yang besar karena ilmu. Dan sungguh buruk sekali apakah ada orang tua yang lebih bodoh, tidak mengerti agamanya? Hati-hati jangan pernah kalian melihat amal yang kalian kerjakan atau shodaqoh yang kalian keluarkan, jangan anggap remeh tapi jadikanlah shodaqoh itu sebagai hadiah yang kalian berikan kepada Allah SWT. Dan janganlah kalian memberikan hadiah untuk Allah yang engkau malu untuk memberikan kepada pemimpin kaum atau pejabatnya kaum, karena Allah adalah zat yang paling pantas untuk dimuliakan. Dia adalah dzat yang paling layak dan pantas untuk memberikan balasan yang lebih mulia dan yang paling pantas kalian berikan hadiah yang terbaik.

Kemudian beliau mengatakan, “Wahai anak-anakku kalau kalian melihat seseorang dari perbuatan baiknya maka pasti jadikan orang itu baik. Berprasangka baiklah kepada orang itu, walaupun di mata orang ia dianggap buruk, karena perbuatan baiknya pasti punya saudara-saudara kebaikan yang lain. Kalau kalian melihat perbuatan buruk dari seseorang laki-laki hati-hatilah dari orang itu, walaupun di mata manusia dia adalah orang yang baik. Karena perbuatan buruk itu punya saudara-saudara yang ikut denganya. Ketahuilah!! bahwasanya kebaikan itu akan mendatangkan saudara-saudaranya dan seluruh dosa-dosa memiliki saudara-saudaranya”.

Terakhir beliau meminta kepada Asatidzah yang telah mendidiknya, “Jangan bosan-bosan menasihati kami agar menjadi orang-orang yang Al Adzkiya Al Akhfiya (orang yang bertaqwa dan tidak terkenal)”

Di kalangan santri maupun asatidzah Darusy Syahadah beliau mungkin tidak begitu dikenal. Hanya sedikit yang mengenal beliau. Tapi andil beliau bagi Ponpes Darusy Syahadah sangat besar. Beliau menjadi nahkoda di salah unit usaha pondok yaitu percetakan Ivorie. Inilah salah satu sosok Alumni Darusy Syahadah yang sangat luar biasa. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari profil alumni pada edisi kali ini dan semoga menjadi pelecut semangat dalam bertholabul Ilmi dan berkhidmat untuk umat.(afillah)

Diedit dan di posting oleh : hafidz bey

 

Profil  Ust Mas’ud Izzul Mujahid

( Kalau itu untuk Allah Perjuangkan Semaksimal Mungkin )

 

Muda, multitalenta. Itulah kata yang agaknya amat cocok disematkan pada tokoh alumni kita kali ini. Dialah ustadz Mas’ud Izzul Mujahid. Da’i sekaligus penulis muda asli Nusa Tenggara. Di usianya yang baru menginjak 32 tahun, beliau sudah menjadi pimred sebuah majalah Islam nasional.

Terlahir di Bima NTB  2 Oktober 1984 silam, ustadz yang bernama asli Mas’ud ini menempuh pendidikan formal dari SD, MTs hingga SMA nya di lembaga pendidikan negri di tanah kelahirannya. Lalu masuk pada tahun kedua di jenjang SMA beliau memutuskan untuk pindah sekolah di pesantren. Darusy Syahadah itulah nama tempat yang dipilihnya.

Masuk di Darusy Syahadah di angkatan ke 7 unit KMI (Kuliyyatul Mu’allimin Al Islamiyah) tahun 2000. Dan beliau lulus pada tahun 2004. Tak lama setelah kelulusan, pemilik banyak tropi lomba karya tulis ini ditugaskan di tempat beliau diluluskan. Darusy syahadah.

Satu setengah tahun ustadz Mas’ud menjadi pengajar wiyata bakti di pesantren sendiri. Selepas selesai masa tugas tersebut beliau memilih untuk kembali belajar. Menambah bekal dengan status mahasiswa. “Ya.. Saya ketika itu langsung masuk di ma’had Aly An Nur, Weru, Sukoharjo. Ketika itu saya masuk angkatan ke empat. Jadi sempat menikmati perpindahan kampus dari Gading, Solo ke Sukoharjo.”terangnya.

Di An Nur-lah bakat menulis yang sudah beliau miliki sejak MTs kembali terasah. Diklat-diklat kepenulisan yang sering diadakan di sana dimanfaatkannya dengan baik. Hasilnya sejak masih berstatus sebagai mahasiswa, artikel beliau sudah sering dimuat di berbagai majalah Islam. Terutama di majalah An najah. Majalah yang beliau pimpin sekarang.

Hingga sekarang, di sela-sela jadwal beliau sebagai da’i, pimred sekaligus pimpinan perusahaan An Najah pemilik nama pena Akrom syahid ini bisa rutin menelurkan 4-5 artikel setiap bulannya.  “Kalo sekarang saya fokus nulis di An Najah saja.” jawab beliau ketika kami tanya tentang persebaran semua artikel tadi.

Diakuinya tugas sebagai pimpinan perusahaan yang merangkup pimpinan redaksi cukup berat. Karena selain harus menyetir seluruh isi majalah tiap edisi yang itu berarti tiap bulannya, Ayah satu anak ini juga harus memikirkan progress majalah ke depannya. “Yaa karena pimred itu mengurus bagaimana agar isi dari majalah tersebut menarik. Kalau pimpinan perusahaan yaa mikirnya progress perkembangan perusahaan ke depannya”.

Tentu ada problem problem tersendiri bagi ustadz Mas’ud dengan dua jabatan tinggi sekaligus di An Najah. Termasuk dicantaranya beberapa tayangan berita yang menayangkan densus 88 menjadikan majalah yang beliau kelola tersebut sebagai barang bukti dari tersangka terorisme. “Kalau seandainya majalah ini menyebabkan tindak terorisme.  Maka tentu bukan satu dua pembaca saja yang jadi teroris. Tapi ribuan. Karena oplah bulanan An Najah hampir 10.000 ex. ” ujar beliau menanggapi.

Menjabat pimpinan redaksi sejak 2011, pemilik motto “Kalau itu untuk Alloh, perjuangkan semaksimal mungkin” ini juga tercatat sebagai da’i kampus. “Itu dulu perintisannya dari anak-anak SMA yang kita bina ketika masih di ma’had Aly An Nur“. Tukasnya. Disamping itu pembina dakwah kampus di UNS dan UMS sejak 2007 ini juga aktif sebagai staff di Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS) dan Majelis Intelek dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Beliau mengakui bahwa waktu sehari hari beliau habis untuk menulis, dan berdakwah di berbagai wadah yang beliau ikuti. Bahkan dalam satu kesempatan ustadz dengan pembawaan supel ini pernah diberangkatkan ke suriah. Sebagai penerjemah di tim relawan kemanusiaan HASI yang ke 4. Selama satu bulan pada 2013 silam.

Pendidikan di Darusy Syahadah yang berbasis pada keikhlasan dan kesederhanaan dari pengurus dan ustadz-ustadznya beliau akui amat membekas pada karakter pribadi beliau. Sehingga bisa membekali dalam beratnya beban iqamatuddin. Contoh-contoh sikap wara’ khas para salaf yang dulu beliau jumpai tak lupa beliau ceritakan dalam jumpa singkat kami.

Terakhir sebagai alumni.. Tak lupa beliau berpesan “Para santri harus sadar. Bahwa menuntut ilmu itu termasuk iqamatuddin. Maka butuh keikhlasan dan kesabaran.” Lalu beliau pesankan juga bagi pengurus untuk menjaga keikhlasan dan kesederhanaan. Karena dari keduanyalah keberhasilan suatu pendidikan bisa diraih.” Selain itu, menurut beliau, inti dari pendidikan islam adalah transfer ilmu dan Adab.

Demikian artikel profil alumni kita yang share di website majalah taujih ini (edited by : hafidz)