Sederhana dan sabar adalah dua kata yang penuh makna

24

Hidup mewah harta melimpah tidak menjamin akan sebuah kebahagiaan. Namaun sebaliknya Meski sedehana hidup apa adanya sabar dalam menghadapi ujian ikhlas mengerjakan apa yang ada, untuk mengharap ridho Allah SWT maka hidup akan terasa indah tanpa bermasalah. Berbicara sederhana tidak terlepas dari kehidupan di pesantren. Pesantren banyak mengajarkan arti sebuah kesederhanaan, banyak hikmah yang bisa kita petik dalam kehidupan pesantren, kesabaran, ketakwaan dan ketekunan adalah hal yang bisa di dapatkan ketika nyantri dalam menimba ilmu syar’i.

Kesederhanaan adalah hal yang lazim di jalani oleh ustad mapun santri karena hakekatnya hidup di pesantren adalah untuk melatih diri menjadi orang yang sederhana dan apa adanya. Kehidupan pesantren berbeda degan kehidupan luar, kita bisa mengambil contoh ketika di pesantren tidak bisa leluasa melakuakan apa saja, semua yang di inginkan kita tahan, kesenangan dunia yang bersifat fana kita tingagalkan dan semua penuh dengan aturan dan larangan yang harus kita patuhi. Berbeda dengan hidup di luar, sebelum mengenyam dunia pesantren kita leluasa melakukan apa saja, semua yang di inginkan asalkan ada uang maka semua bisa terpenuhi, pingin makan yang enak tinggal beli, pingin jalan-jalan tinggal keluar, pingin ini pingin itu semua serba bebas terpenuhi tanpa ada aturan dan larangan yang harus di patuhi.

Di samping belajar kesederhanaan di pesantren juga mengajarkan arti pentingnya kesabaran. Sabar dalam segala bidang yang mencakup rutinitas keseharian, kata sabar tidak terlepas dari kata antri. Sabar dan antri adalah dua kata yang tidak bisa di pisahkan di pesantren, mandi harus antri, makan harus antri semua aktifitas yang dikerjakan membutuhkan kesabaran dan perjuangan. Budaya antri adalah hal yang setiap hari bahkan setiap waktu di jalani oleh semua santri, bayangkan ketika mandi harus antri berdiri di depan pintu dan berbaris untuk menunggu giliran, begitu pula ketika makan harus antri bermeter-meter bergantian satu sama yang lain hanya untuk mendapatkan satu piring nasi di temani sayur dan satu lauk sederhana.

Banyak hikmah yang hampir semua santri tidak berfikir arti kesederhanaan dan kesabaran manakala hidup di dunia pesantren, kenapa untuk setiap hari makan hanya dengan tiga lauk faforit, yaitu tahu ketika pagi hari, tempe siang hari, dan satu butir krupuk dimalam hari serta sayur yang menjadi teman pembasah nasi. Satu minggu sekali ada makanan tambahan atau biasa di sebut dengan perbaikan gizi. Makan hanya ala kadarnya, setiap hari tidak ada bedanya, ada rasa ngrundel yang di tahan karena tahu bahwa apa yang kita makan hanya itu-itu saja, apalagi ketika bertanya kepada teman “ apa lauk malam ini “ Sate, sate di pondok dan diluar berbeda, sate diluar pake daging tapi jikalau sate di pondok biasa kita sebut dengan sayur terong yang tidak ada rasanya.

Pesantren mengajarkan arti kesabaran dan kesederhanaan, makan hanya ala kadarnya, belajar hemat dalam mengelola uang saku, memeneg waktu dengan sebaik mungkin semua sistem yang di terapkan pesantren kepada santri dan santriwatinya untuk melatih mereka menjadi orang-orang yang kuat dan hebat dalam berbagai hal. Antri dalam mandi, antri dalam makan, nasi diambilkan, begitu juga sayur dan lauk dibagi sama rata, di perbolehkan nambah nasi akan tetapi tidak di perbolehkan menambah lauk, artinya kita tidak boleh rakus, tidak boleh egois untuk kepentingan pribadi, kita utamakan kepentingan jama’i dan di situlah kesabaran kita benar benar sedang diuji.

Hampir semua santri menjalankan penuh dengan keikhlasan, mengantri dengan tertib satu-persatu, hal tersebut bukan hanya untuk memenuhi atauran dan larangan yang telah di jalankan, akan tetapi semua sistem yang di terapkan di pesantren agar kelak bagaimana santri ketika hidup di luar atau di masyarakat tidak kaget karena sudah pernah merasakan arti kesederhanaan dan kesabaran ketika hidup di pesantren.

Sederhana dan sabar adalah dua kata yang penuh makna, dimana keduanya adalah jalan menuju puncak apa yang kita inginkan, Kesuksesan tidak bisa di raih dengan semudah membalikkan telapak tangan, tapi semua itu butuh perjuangan, pengorbanan, kesederhanaan dan kesabaran untuk meraih apa yang di inginkan. Kalau semuanya mudah maka bagaiman kita akan merasakan manisnya sebuah perjuangan.

Semoga kesederhanaan dan kesabaran hidup di pesantren dapat menghantarkan kita menjadi orang-orang yang ahlu jannah. Barakallah (Ta’al).

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.