Profil Alumni Ustadz Ahmad Qaribun

Beramal Sesuai Kondisi Yang Allah Karuniakan

1.495

USTADZ AHMAD QORIBUN

Beramal Sesuai Kondisi Yang Allah Karuniakan

Kesemangatan adalah satu dari kunci-kunci kesuksesan. Semangat identik dengan berjuang, berhasil dan sukses. Maka tak jarang kata itu dikaitkan dengan usaha dan kerja keras. Berbicara mengenai ‘semangat’, ada alumni kita yang terkenal akan kesemangatannya. Walaupun kondisi fisik terbatas namun semangat berkualitas.

Terlahir di Temanggung, 08 September 1980. Ustadz yang gemar berdiskusi ini memulai belajar di TK Bustanul Athfal. Kemudian melanjutkan di MIM Bonjor. Dan jenjang selanjutnya di Ponpes Al Mu’min Muhammadiyyah Temanggung. Lulus tahun 1995.

Setelah lulus dari pesantren, anak ke-3 dari 5 bersaudara ini tidak melanjutkan sekolah. Beliau memilih untuk bekerja dan membantu kedua orangtuanya. Bekerja sebagai pedagang dan membantu orangtua menggarap sawah.

Kurang lebih 14 tahun beliau menjalani rutinitas sebagai pedagang, muncul keinginan beliau untuk memperdalam ilmu agama. Beliau berfikir bahwa pendidikannya selama 3 tahun di Al Mu’min belumlah cukup. Masih banyak ilmu agama yang belum beliau ketahui. Umur bukanlah penghalang. Selagi semangat itu masih membara, tidak ada kata cukup dalam menuntut ilmu.

Beliau terinspirasi perkataan Muadz bin Jabal, “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

Beliau tidak mempersoalkan umur. Diusia yang sudah memasuki angka 30 ini tidak membuat beliau putus asa. “Kalau untuk kebaikan kenapa harus malu. Umur tidak menjadi masalah, yang penting keinginan yang kuat untuk menuju yang lebih baik.” Tegas beliau.

“Ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para asatidzah menyampaikan ilmu yang berharga. Dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia 80 atau 90 tahu baru mulai belajar. Namun mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai ‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi dalam belajar). Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia.” Sambung beliau.

Kecintaan beliau akan ilmu sudah terpatri dalam hati. Seorang yang sudah menciantai sesuatu, maka ia akan berusaha mendapatkannya walau rintangan setebal baja. Beliau mengutip perkataan Imam Syafi’i Rahimahullah, “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.”

Maka di tahun 2010, beliau memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di sebuah pondok pesantren. Di Darusy Syahadah inilah beliau belajar. Sebuah pesantren yang menerima santri lulusan SMA, bahkan yang sudah menikah sekalipun. Umur bukanlah tolak ukur. Hanya kesungguhan dan keseriusan dalam belajar yang menjadi syarat.

Beliau memberikan beberapa alasan kenapa beliau memilih Darusy Syahadah. Yang pertama dikarenakan proses masuk melalui seleksi, artinya santri yang masuk adalah pilihan, bukan merupakan tempat buangan. Kedua, pesantren sudah memiliki nama besar, banyak alumni yang terbukti sukses dalam berdakwah. Ketiga, proses pendidikan berjalan sangat kompetitif, dan tidak diskriminasi. Keempat, suasana pondok sangat kental dengan suasana belajar, artinya tidak ada keberhasilan dengan cara instan, semua harus melalui usaha dan kerja keras. Kelima, penekanan pada kemandirian dan kesederhanaan. Dan keenam, pesantren mengajarkan pada santri untuk bisa berlatih ta’limul qurro’ (praktek dakwah di desa).

Dua tahun beliau curahkan waktunya di Darusy Syahadah. Banyak pelajaran berharga yang beliau dapatkan. Beliau memang terkenal dengan santri yang semangat. Tak sedikit dari teman-temannya yang termotivasi dengan keberadan beliau walau dengan kondisi yang serba terbatas. Waktu 2 tahun yang terbilang singkat ini mampu membentuk kepribadian beliau yang lebih matang.

Di pertengahan tahun 2012, beliau lulus dan dinyatakan sebagai alumni. Itu artinya beliau akan mengemban tugas yang lebih berat. Beliau ditugaskan di Pondok pesantren Islam Ulul Albab Sukoharjo. Sebuah ponpes berbasis tahfidz untuk mencetak generasi penghafal Al qur’an.

Bagian kesantrian, amanah yang disematkan kepada beliau. Sebuah bagian di pesantren yang memiliki tugas mengatur aktivitas santri, dari mulai bangun hingga tidur lagi. Amanah yang besar, yang harus diemban dengan segenap jiwa dan raga.

“ Di pesantren itu asatidzah mendidik kehidupan, bukan sekedar mengatur kehidupan. Mengatur kehidupan itu seperti menejer, yang penting ada sistem dan SOP tinggal jalankan. Akan tetapi mendidik kehidupan itu ketekunan, keikhlasan, keteladanan dan keterpanggilan yang dilandasi oleh nilai-nilai, jiwa, falsafah hidup dan sakralitas. Bukan sekedar mengatur bagaimana santri makan, tidur dan sekolah, akan tetapi mendidik mereka cara makan yang benar, cara tidur yang benar, cara belajar yang benar dengan niat dan orientasi yang lurus. Dan itu bukan sekedar diomongkan, tetapi diteladankan. Itulah mendidik. Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”. Ujar beliau menggambarkan tugas seorang ustadz.

Terakhir beliau mengucapkan terima kasih kepada segenap pengurus Ponpes darusy Syahadah. “Keramahan yang kau pancarkan setiap hari, tak akan pernah hilang dalam ingatan kami. Perjuangan dan pengorbanan tak akan pernah luput dari ingatan kami, kau adalah guru terhebatku. Ayunan langkah engkau hentakan tiap hari. Keringat dingin tercucur deras di atas letih tubuhmu. Namun engkau tidak pernah lelah dengan semua itu. Kau ingin kami sukses di masa depan nanti. Dengan ilmumu kita akan hidup lebih baik di masa depan. Seuntai kata kami haturkan teruntuk engkau pahlawan umat, pembimbing tiap manusia dan penerang kehidupan. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan wahai asatidzah . Jasa-jasamu akan selalu kami kenang hingga kapanpun.”

 

Beliau akan selalu mengingat wejangan para asatidzah tercinta yang selalu menginspirasi dalam amal iqomatudin ini.

Ya Di pondok itu jangan berfikir apa dan berapa yang didapat. Saya dapat apa, keluarga dan anak saya dapat apa, fasilitas apa, itu namanya sampah perjuangan. Yang berlaku di pondok adalah, apa yang bisa aku lakukan untuk santri dan pesantren. Tidak ada transaksi materialistik, tidak ada kontrak-kontrakan, karena semua yang di pondok ini berangkatnya dari keterpanggilan. Bukan mencari pekerjaan, bukan mencari popularitas!”

Kepada santri beliau berpesan agar mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Santri-santri yang mayoritas besar di lingkungan pondok membutuhkan sebuah latihan dakwah dan berinteraksi dengan masyarakat. Sebab, ke depan, selepas dari ma’had ini, mereka pasti terjun ke daerahnya masing-masing. Kelak, dengan izin Allah, mereka akan masuk ke medan dakwah yang begitu luas. Sebuah medan yang bisa diibaratkan seperti hutan belantara. Medan yang penuh dengan semak belukar, pohon-pohon liar, binatang buas, hewan berbisa, dan sejuta tantangan yang tidak pernah terbayangkan. Oleh karena itu, santri perlu diberi bekal untuk menghadapi semua itu. Bekal yang tidak sedikit. Bekal ilmu syar’i, bekal kedewasaan, bekal kerja sama dalam sebuah tim, bekal berkomunikasi, bekal kepedulian, dan bekal-bekal yang lain.

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.