Profil Alumni , Muhammad Anwar Ash-Shidiqi

48

 

Ingin Menjadi Orang yang Atqiya’ Akhfiya’

Ada sebagian orang tua yang menyekolahkan anaknya ke pesantren, dengan harapan kelak anaknya menjadi ustadz dan ustadzah. Mereka berharap, anaknya menjadi pengajar atau penceramah yang mendakwahkan agama ke berbagai pelosok Nusantaran. Perlu dipahami, tidak semua alumni Pondok Pesantren Islam menjadi Ustadz dan Ustadzah. Banyak Alumni Pondok Pesantren yang menjadi pengusaha, ahli IT, Entepreneur, pedagang dan lain sebagainya.

Untuk edisi kali ini Team Risalah Taujih Darusy Syahadah mengangkat profil seorang Alumni yang mempunyai keahlian dalam bidang usaha. Beliaulah yang menahkodai Perusahaan Ivorie, perusahaan yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Beliau adalah Muhammad Anwar As-Shidiqi.

Muhammad Anwar As-Shidiqi adalah salah satu Alumni Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah Gunung Madu, Kedunglengkong, Simo, Boyolali, Jawa Tengah. Alumni yang biasa disapa Ust. Anwar ini terlahir di kota Magelang Jawa Tengah. Beliau bersama Ust. Toyyib Pranoto yang merintis Perusahaan Ivorie Salah satu unit usaha Ponpes Darusy Syahadah yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Ust. Anwar merupakan alumni angkatan ke-empat yang mahir dalam menejemen perusahaan, khususnya dalam bidang ekonomi syariah.

Perjalanan pendidikan beliau dimulai dari kota kelahiranya, yaitu di SD Muhammadiyah Secang Kabupaten Magelang. Untuk jenjang menengah pertama beliau belajar di Ponpes Al-Mukmin Ngruki, sebuah lembaga pendidikan Islam yang terletak di kota Solo. Setelah tamat dari bangku menengah pertama, beliau memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu di Simo, Boyolali. Kuliayatul Mualimin Al Islamiyyah (KMI) Ponpes Darusy Syahadah merupakan program pendidikan yang beliau pilih.

Beliau pun sangat berkesan mondok di Darusy Syahadah. Di antara moment yang paling berkesan bagi beliau adalah bersama teman seangkatan yang usianya lebih tua. Santri DS yang usianya 30an, biasa dipanggil pak. Sehingga ketika dipanggil kak, agak risi dan gimana gitu, ujarnya.

Kemudian masuk sapala adalah kebanggaan tersendiri bagi seorang santri. Dan apalagi jumat keluar makan ayam di terminal. Pada saat itu seharga Rp. 1.500 nikmatnya tidak terlupakankenangnya.

Empat tahun beliau belajar di ponpes Darusy Syahadah. Setelah puas meminum air dari lautan ilmu di Darusy Syahadah, beliau mendapat amanah untuk wiyata bhakti di Pondok Pesantren Al-Muttaqin Jepara. Pada tahun ke dua penugasan, beliau pindah tugas di pondok tercinta yaitu Darusy Syahadah.

Di sela-sela tugasnya, beliau senantiasa belajar dan belajar. Beliau sadar tidak ada ilmu yang didapat dengan bersantai-santai. Karena haus terhadap ilmu, beliau memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau melanjutkan kuliah di Universitas Abu Bakar Karachi Pakistan. Dengan harapan beliau mampu menjadi manusia yang berguna bagi kaum muslimin. Di negeri Seribu Cahaya tersebut beliau belajar kepada masyayikh. Beliau menghadiri masjlis taklim, mendatangi rumah masyayikh meskipun harus berjalan jauh demi untuk mendapatkan sebuah ilmu. Susah senang dalam menuntut ilmu beliau nikmati bersama beberapa teman karibnya, di antaranya Ust. Auliya’ Syuhada (Direktur Fundraising Darusy Syahadah saat ini).

Baru tiga bulan di Pakistan, karena suhu politik di negeri tersebut, beliau tidak dapat melanjutkan studi. Beliau harus meninggalkan bangku kuliah dan majelis taklim bersama masyayikh. Sedih dan kecewa yang beliau rasakan. Karena harus kehilangan kesempatan emas mendulang ilmu dari ulama’-ulama’ Pakistan. Akhirnya beliau pun pulang ke Indonesia.

Banyak pengalaman dan pelajaran selama di Pakistan. Mulai dari perjuangan menuntut ilmu, jauh dari sahabat dan keluarga. Setelah pulang ke Indonesia beliau kembali mengabdikan dirinya di Darusy Syahadah. Beliau sadar dari Darusy Syahadah lah satu persatu mimpinya terwujud.

Tahun 2004 merupakan moment bersejarah bagi Beliau. Beliau menyempurkan separuh agamanya, yaitu menikah dengan seorang wanita asal Magetan. Dan saat ini beliau telah dikaruniai lima orang anak, 1 laki-laki dan 4 perempuan. Semoga anak-anak beliau, kelak menjadi anak yang sholih dan sholihah. Aamiin.

Aktvitas beliau saat ini sebagai pimpinan percetakan Ivorie, salah satu unit usaha milik Darusy Syahadah. Selain itu beliau juga menjadi ketua IKADS 2.0 (Ikatan Alumni Darusy Syahadah).

Beliau berpesan kepada santri-santri Darusy Syahadah, dengan mengutip perkataan dari sahabat Umar bin Khathab, “Wahai anak-anakku belajarlah ilmu agama yang benar dan luangkan waktu untuk itu, jikalau seandainya hari ini engkau menjadi orang yang kecil maka suatu waktu Allah akan jadikan kalian orang yang besar karena ilmu. Dan sungguh buruk sekali apakah ada orang tua yang lebih bodoh, tidak mengerti agamanya? Hati-hati jangan pernah kalian melihat amal yang kalian kerjakan atau shodaqoh yang kalian keluarkan, jangan anggap remeh tapi jadikanlah shodaqoh itu sebagai hadiah yang kalian berikan kepada Allah SWT. Dan janganlah kalian memberikan hadiah untuk Allah yang engkau malu untuk memberikan kepada pemimpin kaum atau pejabatnya kaum, karena Allah adalah zat yang paling pantas untuk dimuliakan. Dia adalah dzat yang paling layak dan pantas untuk memberikan balasan yang lebih mulia dan yang paling pantas kalian berikan hadiah yang terbaik.

Kemudian beliau mengatakan, “Wahai anak-anakku kalau kalian melihat seseorang dari perbuatan baiknya maka pasti jadikan orang itu baik. Berprasangka baiklah kepada orang itu, walaupun di mata orang ia dianggap buruk, karena perbuatan baiknya pasti punya saudara-saudara kebaikan yang lain. Kalau kalian melihat perbuatan buruk dari seseorang laki-laki hati-hatilah dari orang itu, walaupun di mata manusia dia adalah orang yang baik. Karena perbuatan buruk itu punya saudara-saudara yang ikut denganya. Ketahuilah!! bahwasanya kebaikan itu akan mendatangkan saudara-saudaranya dan seluruh dosa-dosa memiliki saudara-saudaranya”.

Terakhir beliau meminta kepada Asatidzah yang telah mendidiknya, “Jangan bosan-bosan menasihati kami agar menjadi orang-orang yang Al Adzkiya Al Akhfiya (orang yang bertaqwa dan tidak terkenal)”

Di kalangan santri maupun asatidzah Darusy Syahadah beliau mungkin tidak begitu dikenal. Hanya sedikit yang mengenal beliau. Tapi andil beliau bagi Ponpes Darusy Syahadah sangat besar. Beliau menjadi nahkoda di salah unit usaha pondok yaitu percetakan Ivorie. Inilah salah satu sosok Alumni Darusy Syahadah yang sangat luar biasa. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari profil alumni pada edisi kali ini dan semoga menjadi pelecut semangat dalam bertholabul Ilmi dan berkhidmat untuk umat.(afillah)

Diedit dan di posting oleh : hafidz bey

 

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.