Pentingnya Mendidik Anak Dengan Kesadaran Sifat Muroqobah

28

Pentingnya Mendidik Anak Dengan Kesadaran Sifat Muroqobah

Menanamkan Sifat Selalu Ada yang Mengawasi

 

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang tua saat mendidik anaknya. Di antaranya menganmcam anak seraya berkata, “Awas nanti kalau Bapak tahu kamu melakukan pelanggaran lagi.” Kata-kata ini memang seakan memberi ancaman keras kepada anak agar anak tidak melakukan pelanggaran. Sehingga seakan-akan anak takut dan tidak berani melakukan pelanggaran.

Namun kalau kita cermati ungkapan tersebut terdapat pemahaman, kalau bapak tidak tahu maka tidak mengapa melakukan pelanggaran. Sehingga ketika anak di luar rumah, merasa aman dari pengawasan orang tuanya, maka ia akan melakukan pelanggaran. Karena orang tuanya tidak mengetahui pelanggaran yang dilakukan.

Selain itu, ungkapan tersebut akan menjadikan anak meninggalkan pelanggaran bukan didasari kesadaran, namun karena takut ancaman. Ketika anak sudah merasa aman dari ancaman maka ia akan melakukan pelanggaran.

Oleh karena itu, hendaknya orang tua tidak hanya mengandalkan ancaman ketika mendidik anak-anaknya. Namun hendaknya menanamkan kepada mereka bahwa Allah selalu mengawasi manusia. Allah mengetahui yang dilakukan dan dikatakan manusia. Di mana pun dan kapan pun. Baik ketika sendiri atau di hadapan orang banyak. Di di rumah atau di luar rumah. Inilah yang disebut dengan muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah. Dengan begitu ketika anak akan meninggalkan larangan dan melaksanakan perintah Allah betul-betul didasari kesadaran. Bukan karena takut ancaman dari orang tua.

 

Urgensi Muraqabah

Menanamkan kepada anak sifat muraqabah sangatlah penting. Karena pengawasan orang tua sangat terbatas. Orang tua hanya bisa mengawasi anak ketika di dalam rumah, itu pun kalaulah orang tua tidak sibuk bekerja. Namun ketika di luar rumah mereka tidak dapat mengawasi mereka. Sehingga menanamkan merasa diawasi oleh Allah merupakan solusi agar anak menjadi baik kapan pun dan di mana pun mereka berada.

Selain itu, orang yang hilang dari dirinya muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) akan menjadikan amal shalihnya sia-sia. Sebesar dan sebanyak apapun amal yang dilakukan, Allah akan menjadikan amalnya seperti debu beterbangan (Habaa’an mantsura) kelak pada hari kiamat. Dari Tsauban dari Nabi, sesungguhnya beliau bersabda:

« لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا » (رواه ابن ماجه)

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika mereka sendirian maka terhadap apa yang di haramkan Allah mereka terus mengerjakannya.” (HR. Ibnu Majah)

Demikianlah orang yang tidak bermuraqabah. Ketika sendirian, tidak ada yang melihat ia merasa aman bermaksiat kepada Allah. Ia mengabaikan pengawasan Allah yang tidak pernah alpha sedetik pun. Sehingga ia tinggalkan maksiat ketika di hadapan orang banyak dan kemudian bermaksiat kepada Allah saat sendiri. Allah pun akan menjadikan amalnya yang banyak bagai debu beterbangan.

 

Hal-hal yang Dapat Menumbuhkan Muraqabah

Adapun di antara hal-hal yang dapat menumbuhkan Muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) pada anak adalah menanamkan keyakinan kepadanya bahwa:

1. Allah Mengetahui Semua Perbuatan Manusia

Hendaknya orang tua selalu menanamkan kepada anak, bahwa Allah mengetahui semua yang ia lakukan, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Sebagaimana Allah berfirman:

وَهُوَ ٱللَّهُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ يَعۡلَمُ سِرَّكُمۡ وَجَهۡرَكُمۡ وَيَعۡلَمُ مَا تَكۡسِبُونَ ٣

“Dan Dialah Allah (yang diibadahi), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Al An’an: 3)

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu.”(Al Baqarah: 235)

Seandainya keyakinan ini menghujam kuat dalam hati anak, tentu ia akan malu melanggar perintah Allah atau meninggalkan perintah Allah. Karena ia yakin Allah mengetahui dan melihatnya.

Para salaf pun selalu menanamkan keyakinan ini kepada anak-anak mereka. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin (III/74) bahwa Sahl bin Abdillah At Tastari berkata, “Suatu hari ketika saya berusia tiga tahun pernah bangun malam. Kemudian saya memperhatikan shalat yang dilakukan oleh paman saya yang bernama Muhammad bin Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, “Apakah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?

Sahl menjawab, “Bagaimana saya bisa mengingat-Nya. Sang paman menjawab, “Ucapkanlah dalam hatimu ketika engkau hendak tidur sebanyak tiga kali tanpa henti:

اَللهُ مَعِيْ اَللهُ نَاظَرُ إِلَيَّ اَللهُ شَاهَدِيْ

“Allah bersamaku, Allah memperhatikanku, Allah menykasikanku.”

Maka aku ucapkan kata-kata itu pada malam-malam berikutnya, kemudian saya beritahukan hal itu kepadanya. Ia kemudian berkata, “Ucapkan tujuh kali setiap malam.” Aku pun mengucapkannya sebanyak tujuh kali, lalu aku kabarkan hal itu kepadanya. Ia berkata lagi, “Ucapkanlah sebelas kali setiap malam.”

Maka aku pun mengucapkannya (sebanyak sebelas kali), dan ternyata saya merasakan manis dalam hati saya.”

Sesudah satu tahun berlalu, paman saya berkata kepadaku, “Jagalah terus apa yang aku ajarkan kepadamu dan lakukan terus hingga engkau masuk kubur. Karena sesungguhnya hal itu akan member manfaat bagimu di dunia dan akhirat.”

Maka aku terus melakukan hal itu bertahun-tahun sehingga saya dapatkan manisnya (iman) dalam hati. Selanjutnya paman saya suatu hari berkata, “Wahai Sahl, siapa yang merasa Allah senantiasa bersamanya, memperhatiakannya dan menyaksikannya, apakah ia akan bermaksiat kepada-Nya? Maka jauhilah olehmu kemaksiatan.”

Demikianlah para salaf, selalu menanamkan keyakinan dalam hati anak-anak mereka, bahwa Allah senantiasa bersamanya, memperhatikannya dan menyaksikannya. Dengan demikian mereka enggan bermaksiat kepada-Nya sekalipun dalam keadaan sendiri tanpa pengawasan orang tuanya.

 

2. Allah Mencatat Semua Perbuatan Manusia

Hendaknya orang tua menanamkan keyakinan kepada anak bahwa Allah mencatat semua perbuatan manusia dan mengabarkannya kelak pada hari kiamat. Bahkan Allah akan membalasnya sesuai perbuatannya, sekecil apapun perbuatan tersebut. Keburukan akan dibalas dengan keburukan (neraka) dan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan (surga).

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ١٨

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Jika seorang anak meyakini hal ini maka ia akan takut berbuat maksiat dan pelanggaran. Karena ia yakin bahwa Allah akan mengabarkan perbuatannya bahkan akan membalasnya kelak pada hari kiamat. Allah berfirman:

وَوُضِعَ ٱلۡكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun”

Jika dua keyakinan ini tertanam pada diri anak, maka tentu mereka dengan penuh kesadaran meninggalkan maksiat dan bersemangat melaksanakan perintah-perintah Allah. Karena mereka mengetahui semua yang mereka lakukan dikiethaui dan dilihat oleh Allah. Bahkan Allah akan mencatatnya dan membalasnya kelak pada hari kiamat.

Perhatian Salaf terhadap Muraqabah

Para salaf shalih pun menanamkan muraqabah ini kepada anak-anak mereka sejak dini. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata, “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lalu dia mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lantas di manakah Allah?” Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.” Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut. (Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid)

Diceritakan dari Abu Qasim Al Junaid. Sesungguhnya ia hendak menguji murid-muridnya berkaitan muraqabah ini. Maka beliau berkata kepada mereka, “Besok kita akan pergi ke padang pasir. Hendaknya tiap orang di antara kalian meminta seekor anak burung kepada kedua orang tua kalian. Setelah itu,hendaknya kalian menyembelih burung tersebut di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun. Selanjutnya bawalah kemari sembelihan burung tersebut untuk kita siapkan dan kita masak. Lalu kita makan bersama.

Kemudian mereka pergi semua dan datang pada hari berikutnya. Semua murid telah menyembelih anak burungnya kecuali satu murid yang datang membawa burung yang masih hidup dan tidak ia sembelih. Maka sang guru bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak melaksanakan pesanku? Sang murib menjawab, “Karena engkau mensyaratkan agar kami menyembelih anak burung di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun. Ketika akan hendak melakukan perintahmu aku selalu mendapati-Nya bersamaku. Ketika aku masuk rumah aku mendapati-Nya bersamaku. Ketika aku naik kea tap rumah aku mendapati-Nya bersamaku. Ketika aku pergi ke padang pasir aku mendapati-Nya bersamaku.” Maka Syaikh bertanya, “Siapa Dia, yang selalu bersamamu? Sang murid menjawab, “Allah.” Kemudian syaikh mememeluknya seraya berkata, “Engkaulah muridku yang sebenarnya.” (Lihat Ihya’ Ulumiddin, karya Imam Al Ghazali, IV/284)

Demikianlah di antara cara mendidik anak agar ia selalu baik, di mana pun dan kapan pun. Yaitu dengan menanamkan muraqabah kepadanya. Menanamkan kepada anak kesadaran selalu diawasi oleh Allah. Sehingga tanpa pengawasan orang tua pun anak akan selalu menaati Allah, dengan meninggalkan larangan dan melaksanakan perintan-Nya. Wallahu a’lam bish shawwab.

Majalah Taujih Online di www.majalahtaujih.com

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
1 Comment
  1. […] LePentingnya Mendidik Anak Dengan Kesadaran Sifat Muroqobah20 Sifat Kaum Munafik Yang Wajib Untuk Kita Hindarimahnya […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.