Pentingnya Membekali Anak Ketrampilan Kerja Profesional

158

Di zaman modern ini kita sebagai seorang muslim dihadapkan dengan suatu fakta bahwa jika kita tidak memiliki skill mandiri maka kita akan tertinggal dengan ganasnya kehidupan bebas ini. Kita hanya akan menjadi seorang muslim yang cuma menonton saja akan kesuksesan kehidupan orang lain tanpa bisa mengejarnya.

Nah tentu saja hal ini merupakan kemunduran dan merupakan bentuk kekalahan kita dibandingkan dengan musuh-musuh islam yang hari ini sedang menguasai panggung kekuasaan dunia.

Berangkat dari Pentingnya Membekali Anak Ketrampilan Kerja profesional ini kami majalah taujih akan mengangkat satu artikel dengan tema akan urgensi kenapa kita sebagai seorang orang tua yang beradab harus mengajarkan anak-anak kita untuk memiliki skill profesional untuk menghadapi ganasnya kehidupan yang saat ini sedang dikuasai oleh kaum kafirin.

Membekali Anak Ketrampilan Kerja

Anak merupakan amanah yang diberikan Allah kepada para orangtua. Orangtua harus menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Adapun salah satu cara menjaga amanah tersebut adalah dengan mengajarkan ilmu syar’I dan mendidiknya sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (التحريم : 6)

 

Lihat tafsir Ibnu Katsir

Selain mendidik dan mengajarkan agama Islam, orang tua juga berkewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya keahlian bekerja sebagai sumber penghasilan. Baik mengajarkan berdagang, bertani, berkebun, bengkel, pertukangan dan ketrampilan serta keahlian lainnya. Hal ini dimaksudkan agar anak di masa yang akan datang mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhannya dan tidak mengharap uluran tangan dari orang lain. Sebab makanan terbaik yang dikonsumsi seorang muslim adalah yang berasal dari jerih payahnya.

Sebagian pendidik, seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina menyatakan bahwa sangat baik bila setelah mengajarkan ilmu-ilmu syar’I, orang tua harus memperhatikan kecenderungan anak terhadap profesi yang hendak ditekuni, selama profesi itu tidak bertentangan dengan syar’i.

Dalil Dari Alquran dan Hadist akan Pentingnya membekali anak dengan keahlian kerja

Di dalam Al Qur’an Allah menyebutkan ayat-ayat yang menganjurkan seseorang untuk mencari rezeki dari sumber yang halal. Akan tetapi dengan syarat tidak melalaikan akhirat.

Allah berfirman:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Terjemah Arti: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

(Al Qashash: 77)

Allah juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemah Arti: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(Al Jumu’ah: 9-10)

Rasulullah pun juga menghasung umatnya untuk makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Karena yang demikian lebih baik dan mulia. Sebagaimana diriwayatkan dari Al Miqdam radliallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

 

“Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (HR Bukhari)

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda:

مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ

“Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya sendiri. Dan apa-apa yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, isteri, anak dan pembantunya adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Aisyah RA, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sebaik-baik dari apa yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang berasal dari hasil usahanya, dan anak adalah hasil dari usahanya.” (HR. At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Hiban dan lain-lain)

 

Dari Abu Mas’ud Al Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

“Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah.” (HR. Al Bukhari)

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ

“Orang yang memberi kecukupan kepada para janda dan orang-orang miskin, maka ia seperti halnya seorang mujahid di jalan Allah atau seorang yang berdiri menunaikan qiyamullail dan berpuasa di siang harinya.” (HR. Al Bukhari)

Diriwayatkan dari Sa’ad, Rasulullah bersabda:

وَإِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya apa saja yang kamu keluarkan berupa nafkah sesungguhnya itu termasuk shadaqah sekalipun satu suapan yang kamu masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Al Bukhari)

Aisyah berkata, “Para shahabat Rasulullah adalah pekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, sehingga mereka beraroma kurang sedap Lalu dikatakan kepada mereka, “Seandainya kalian mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).

Bahkan orang yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya termasuk fi sabilillah, di jalan Allah. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata, ‘’Seorang laki-laki berjalan melewati Nabi. Para sahabat melihat ketabahan dan kegiatannya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya jerih payah itu dilakukan di jalan Allah?”

Nabi bersabda, Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan orangtuanya yang sudah renta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia berada di jalan Allah. Namun jika ia keluar untuk bekerja karena riya’ dan kebanggaan, maka ia berada di jalan setan.” (Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dan perawinya dalah perawi yang tsiqah)

 

Larangan Meminta-minta

Tidak sedikit orang yang berilmu namun tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Ia hanya mengharapkan uluran tangan dari orang lain. Padahal meminta-minta merupakan perbuatan tercela yang tidak layak dilakukan seorang muslim kecuali dalam keadaan darurat. Rasulullah memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ“Barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya. Barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran”. (HR. Al Bukhari)

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Apabila seseorang selalu meminta-minta kepada orang lain, maka pada hari qiyamat dia datang (menghadap Allah) sedang di wajahnya tiada sekerat daging pun”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah juga menghasung para shahabatnya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhannya. Bahkan bekerja dengan mencari kayu bakar itu lebi baik dari meminta-minta kepada orang lain. Dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada beliau, kemudian beliau bertanya: “Apakah di rumahmu terdapat sesuatu?” Ia berkata; “Ya, alas pelana yang kami pakai sebagiannya dan kami hamparkan sebagiannya, serta gelas besar yang gunakan untuk minum air.” Beliau berkata: “Bawalah keduanya kepadaku.”

Kemudian ia membawanya kepada beliau, lalu Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam mengambilnya dengan tangan beliau dan berkata; “Siapakah yang mau membeli kedua barang ini?” Seorang laki-laki berkata; saya membelinya dengan satu dirham. Beliau berkata: “Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?” Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata; “Saya membelinya dengan dua dirham.”

Kemudian beliau memberikannya kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham. Beliau memberikan uang tersebut kepada orang anshar tersebut dan berkata: “Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah kapak kemudian bawalah kepadaku.” Kemudian orang tersebut membawanya kepada beliau, lalu Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam mengikatkan kayu pada kapak tersebut dengan tangannya kemudian berkata kepadanya: “Pergilah kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari.”

Kemudian orang tersebut pergi dan mencari kayu serta menjualnya, lalu datang dan ia telah memperoleh uang sepuluh dirham. Kemudian ia membeli pakaian dengan sebagiannya dan makanan dengan sebagiannya. Kemudian Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta datang sebagai noktah di wajahmu pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud)

Penutup akan Urgensi masalah ini

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk mengajarkan ketrampilan kerja kepada anak. Dengan ketrampilan tersebut anak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan memberi nafkah kepada keluarga kelak setelah ia menikah. Tidak meminta-minta dan mengharapa uluran tangan orang lain. Selain itu anak juga mendapat penghasilan yang halal, terhindar dari perkara yang syubhat dan haram. Wallahhu a’lam

 

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!