Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

21

 

Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Apabila sekelompok pasukan bantuan dari Yaman datang, Umar bin Al Khaththab bertanya kepada mereka, “Apakah diantara kalian ada Uwais bin Amir? Uwais bin Amir Al Qarni adalah sebaik-baik tabi’in yang mempunyai seorang ibu dan berpenyakit kusta.

Hingga sampailah dia kepada Uwais dan bertanya, “Apakah kamu Uwais bin Amir? Dia menjawab, “Ya.” Umar bertanya, “(Apakah kamu) dari Murad kemudian dari Qaran? Dia menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Apakah kamu terkena penyakit kusta kemudian kamu sembuh darinya kecuali hanya sebesar uang satu dirham? Dia menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Apakah kamu mempunyai seorang ibu? Dia menjawab, “Ya.”

Umar berkata, aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

يَأتِي عَلَيْكُمْ أُويْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أمْدَادِ أهْلِ اليَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ ، فَبَرَأَ مِنْهُ إلاَّ موْضِعَ دِرْهَمٍ ، لَهُ وَالدةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أقْسَمَ عَلَى الله لأَبَرَّهُ ، فإنِ اسْتَطَعْتَ أنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَل

“Akan datang kepadamu seseorang yang bernama Uwais bin Amir bersama sekelompok pasukan bantuan dari penduduk Yaman, dia dari Murad kemudian dari Qaran, menderita penyakit kusta kemudian sembuh kecuali hanya sebesar uang satu dirham, dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah dengan nama Allah pasti terlaksana. Jika kamu bisa memintanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah), mintalah, oleh karena itu mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku.”

Maka Uwais memohonkan ampun untuknya. Umar berkata kepadanya, “Kemana kamu hendak pergi.” Dia menjawab, “Kufah.” Umar berkata, “Tidakkah sebaikanya kamu saya tuliskan surat pengantar kepada Gubernurnya? Dia menjawab, “Saya lebih menyukai fakir dihadapan manusia.”

Maka pada tahun berikutnya seorang laki-laki dari pembesar mereka berhaji dan bertemu dengan Umar, maka dia bertanya tentang Uwais.” Dia menjawab, “Aku meninggalkan dia dalam keadaan buruk rumahnya dan sedikit perabotnya. Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Akan datang kepadamu seseorang yang bernama Uwais bin Amir bersama sekelompok pasukan bantuan dari penduduk Yaman, dia dari Murad kemudian dari Qaran, menderita penyakit kusta kemudian sembuh kecuali hanya sebesar uang satu dirham, dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah dengan nama Allah pasti terlaksana. Jika kamu bisa memintanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah), mintalah, oleh karena itu mohonkanlah ampunan untukku.”

Kemudian dia datang kepada Uwais dan berkata, “Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku.” Dia menjawab, “Kamu baru saja melakukan safar yang baik (haji) maka mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku.” Dia berkata, “Apakah kamu telah bertemu Umar? Dia menjawab, “Ya.” Kemudian Uwais memohonkan ampunan untuknya. Akhirnya banyak orang yang mengenalnya, sehingga dia segera pergi dari mereka.

Demikianlah di antara buah dari bakti kepada orang tua, khusus ibu. Uwais Al Qarni di mata manusia dianggap biasa-biasa saja namun ternyata mempunyai kedudukan istimewa di sisi Allah. Kalau bersumpah, pasti akan terlaksana sumpahnya dan kalau berdoa maka Allah mengabulkannya serta kalau memohon ampun maka Allah mengampuninya. Sampai orang sekelas Umar pun memintanya agar memohonkan ampun kepada Allah. Sungguh berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Allah berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra’: 23)

Dari Abu Hurairah, dia berkata, seseorang laki-laki datang kepada Rasulullah kemudian berkata:

يَا رَسُول الله ، مَنْ أحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ: (أُمُّكَ) قَالَ: ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ: (أُمُّكَ) ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ: (أُمُّكَ) ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ: (أبُوكَ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya pergauli dengan baik? Beliau bersabda, “Ibumu.” Dia berkata, “Kemudian siapa.” Beliau bersabda, “Ibumu.” Dia berkata, “Kemudian siapa.” Beliau bersabda, “Ibumu.” Dia berkata, “Kemudian siapa.” Beliau bersabda, “Bapakmu.” (Muttafaqun’alahi).

Sehingga mari berbakti kepada kedua orang tua kita, khususnya kepada ibu. Semoga kita termasuk orang-orang yang mustajab doanya dan diampuni dosa-dosanya dengan berbakti kepada kedua orang tua. Hingga kita dapat meraih jannah kelak pada hari kiamat. Amiin. Wallahu a’lam bish shawwab.

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.