Taujih Singkat : Keimanan Membawa Kemudahan Dunia

261

Di artikel kali ini majalah taujih akan memberikan sedikit taujih singkat dengan tema keimanan membawa kemudahan di kehidupan dunia ini.

Semoga dengan adanya taujih singkat ini memberikan manfaat kepada kita semua akan manfaat dan hakekat akan keimanan dalam mempermudah kehidupan kita sebagai seorang hamba Allah SWT di bumi ini.

Taujih Singkat : Keimanan Membawa Kemudahan Dunia

Selain secara kejiwaan seorang mukmin mendapatkan ketenangan kerena keimanannya, dalam kenyataan hidup,seorang mukmin akan menjadi baik dan mudah urusan kehidupannya. Allah berfirman keadaan seorang mukmin :

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى و هو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة و لنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا سعملون

“ Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS.An-Nahl,16:97).

Dalam tafsir ibnu katsir disebutkan bahwa “kehidupan yang baik” yaitu rezeki yang baik dan halal. Demikian menurut Ibnu Abbas. Sedangkan Ali bin Abu Thalib memaknainya dengan sifat Qona’ah. Sedangkan Ali bin Abi Thalhah memaknainya dengan kebahagiaan. Semua makna itu bisa saling melengkapi dan meliputi. (lihat Mishbahul Munir Tahdzib Ibnu Katsir).

Rasulullah juga pernah bersabda :

من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه و جمع له شمله و أتته الدنيا وهي راغمة ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه وفرق عليه شمله و لم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

“ Barang siapa yang menjadikan akherat sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kekayaan berada di hatinya. Dia akan memudahkan urusannya dan dunia akan mendatanginya dengan cara yang mudah. Siapa yang menjadikan dunia sebagai niatnya Allah akan cerai beraikan urusannya, kefakiran berada pada pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan kepadanya.”(HR.Abu Darimi:231 dengan perawi dapat dipercaya).

Bahkan kesejahteraan hidup tersebut bukan saja pada tataran kehidupan individual. Jika bumi saja dihuni oleh mayoritas orang-orang beriman, jika para pemimpin negeri terdiri dari orang-orang beriman, maka akibat pastinya adalah kemakmuran di dalam kehidupan manusia. Ini berdasarkan nash syar’i Allah berfirman :

ولو أن أهل القرى ءامنوا و اتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء و الأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS.Al A’raf :96).

Kenyataan sejarah yang bisa dijadikan contoh adalah saat pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Khalifah bani Umayah yang oleh ssebagian ulama’ dimasukkan sebagai khalifah rasyidah ke lima ini mengatur negara hanya dua setengah tahun. Namun, bekal keimanan & ketakwaan beliau yang kemudian diikuti rakyatnya, menjadikan negeri penuh kecukupan. Sampai-sampai dalam masa itu hampir-hampir sulit menerima penerima zakat karena makmurnya negeri. Umar bin Suwaid berkata,”Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal sehingga seorang laki-laki datang kepada kai dengan membawa sejumlah besar harta. Ia berkata,”Salurkanlah harta ini sekehendakmu.” Ternyata telah tiada lagi yang berhak menerima harta itu. Sungguh Umar telah membuat manusia berkecukupan. (Tarikh Khulafa’, imam suyuti : hal 279 ed. Terjemah ).

Bahkan ketakwaan dan keshalihan tidak hanya berakibat baik bagi kalangan manusia. Sampai kalangan hewan pun menikmatinya. Malik bin Dinar bercerita, Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, para pengembala dan kambing berkata,”Siapa orang shalih yang sekarang menjadi khalifah ummat ini? Keadilannya telah mencegah serigala-serigala itu memakan domba kami.” Ya ternyata serigala dan domba pun berdamai saat pemimpinnya shalih dan diikuti oleh rakyatnya. (Tarikh Khulafa’, Imam Suyuti : hal 276ed. Terjemah).

“Didatangkan orang yang di dunia kehidupannya paling nikmat namun ia termasuk penduduk neraka pada hari kiamat. Lalu ia dimasukkan ke neraka sesaat. Kemudian dikatakan kepadanya : Wahai anak adam, apakah engkau pernah melihat kebaikan meski sekali? Apakah engkau pernah mengenyam kenikmatan meski sekali? Ia menjawab : Demi Allah ya Robbi, tidak pernah.”(HR.Muslim, no:5021).

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!