Kata syariat yang sering kita dengar dalam keseharian baik ketika membaca buku, mendengar rekaman ceramah para ustadz, menyimak pengajian, kultum, ataupun khutbah adalah kata berbahasa arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online (KBBI daring), syariat adalah hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah Swt., hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar berdasarkan Alquran dan hadis. Bentuk kata tidak bakunya: sarengat, sariat, sereat, syariah.

Sebagai sebuah khas agama, istilah syariat selalu identik dengan teologi Islam. Seperti kalimat, Al-Quran adalah sumber pertama dari syariat Islam. Meskipun sebenarnya istilah ini sudah ada sejak sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, namun di lingkungan masyarakat Indonesia istilah syariat lebih populer identik dengan Islam.

Untuk mendapatkan definisi lebih jelas tentang makna syariat dalam Islam, maka kita perlu merujuk kepada kamus literatur bahasa Arab.

Syariat berasal dari kata dasar sya-ra-‘a (شَرَعَ – يَشْرعُ) yang artinya memulai, mengawali, memasuki, memahami. Atau diartikan juga dengan membuat peraturan, undang-undang, syariat. Syar’un (شَرْع) dan syir’atan (شِرْعَة) memiliki arti yang sama: ajaran, undang-undang, hukum, piagam.

Ibnu Manzhur berkata: “Syari’at, syara’, dan musyarra’ah adalah tempat-tempat di mana air mengalir turun ke dalamnya. Syir’ah dan syari’ah dalam percakapan bangsa Arab memiliki pengertian syir’atul ma’, yaitu sumber air, tempat berkumpulnya air, yang didatangi manusia lalu mereka meminum airnya dan mengambil airnya untuk minum…. Bangsa Arab tidak menamakan tempat-tempat berkumpulnya air tersebut syari’at sampai air tersebut banyak, terus mengalir tiada putusnya, jelas dan bening, dan airnya diambil tanpa perlu menggunakan tali.” (Lisanul ‘Arab, 8/174)

Masih dalam tinjauan etimologi, syariat juga diartikan dengan mazhab atau ath-Thariqah al-Mustaqimah: metode yang lurus. (Al-Mukhtar min Shihhatil Lughah, 265; Al-Madkhal li Dirasati asy-Syari’ah, Abdul Karim Zaidan, 38)

 

KATA SYARIAT DALAM AL-QURAN

Ternyata, kata syariat juga terdapat dalam al-Quran. Dalam al-Quran, kata syariat baik berbentuk kata kerja (verb), kata benda, ataupun kata sifat terdapat dalam beberapa ayat.

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu)…” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah: 48)

إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا

“…ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu…” (QS. Al-A’raf: 163)

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu…” (QS. Asy-Syura: 13)

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)

 

 

SYARIAT + ISLAM

 

Dalam khazanah ilmiah Islam, para Ulama mendefinisikan istilah syariat Islam dengan kalimat yang cukup beragam. Imam Al-Qurthubi mendefinisikan syariat Islam sebagai agama yang Allah syariatkan kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 19/154)

Ibnu Taimiyah mendefinisikan syariat Islam sebagai menaati Allah, menaati Rasul-Nya, dan para pemimpin dari kalangan kita (orang-orang beriman). Pada hakekatnya syariat adalah menaati para rasul dan berada di bawah ketaatan kepada mereka. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 19/309)

Imam Ibnu Atsir Al-Jazari menitikberatkan definisi Syara’ dan syariat kepada agama yang Allah syariatkan atas hamba-hamba-Nya, yaitu agama yang Allah tetapkan bagi mereka dan Allah wajibkan atas diri mereka. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, 2/460)

Sementara Dr. Umar bin Sulaiman Al-Asyqar mengungkapkan definisi yang lebih rinci bahwa syariat adalah hukum-hukum yang Allah tetapkan di dalam kitab-Nya atau datang kepada kita melalui jalan rasul-Nya di dalam sunnah beliau, tidak ada bedanya apakah hukum-hukum tersebut dalam bidang akidah, amal, ataupun akhlak.” (Al-Madkhal ila Asy-Syari’ah wa Al-Fiqh Al-Islami, 14)

Doktor Athiyah Fayyadh dalam tulisannya yang berjudul Kaidah dan Neraca dalam Memahami Syariat dan Filsafatnya membagi terminologi syariat ke dalam dua definisi:

 

Pertama, Syariat dalam makna umum

Menurut Athiyah Fayyadh, dari segi makna umum, syariat adalah seluruh hukum-hukum yang dibebankan Allah ‘azza wajalla kepada hamba-Nya yang telah dijelaskan kepada mereka dalam wahyu-Nya dan oleh lisan rasul-Nya.

Definisi ini beliau simpulkan melalui hasil penelitian (Istiqra’) terhadap beberapa definisi yang telah dijelaskan oleh para Ulama seperti Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Manna’ Qathan, dan Abdul Karim Zaidan.

Keluasan cakupan definisi syariat yang menjangkau seluruh aktivitas manusia (akidah, moral, ibadah, pekerjaan, politik, hukum, kekuasaan, dan warisan atau pemberian) ini mengindikasikan bahwa syariat itu adalah sempurna dan dengan sumber yang sudah jelas-jelas valid; firman Allah ‘azza wajalla dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh sebab itu, Syaikh Abdul Karim Zaidan menyebut syariat sebagai padanan dari kata al-Millah dan kata ad-Diin. Hukum-hukum yang disyariatkan Allah ‘azza wajalla adalah sebagai syariat dari segi sumber, deskripsi, dan kelurusannya, dan disebut ad-Diin dari segi kepada siapa ketundukan dan peribadatan ditujukan, dan disebut al-Millah dari segi perintah pelaksanaannya bagi manusia.

 

Kedua, Syariat dalam makna khusus

Sebagian ulama menggunakan istilah syariat secara lebih khusus yang hanya mencakup makna sebagian saja dari hukum-hukum syar’i karena sebab dan kebutuhan tertentu.

Ada ulama yang menggunakan istilah syariat untuk dihadapkan dengan istilah akidah (al-Aqidah) sehingga dalam konteks tersebut definisi syariat bergeser sedikit menjadi hukum-hukum fisik (al-Ahkam al-‘Amaliyah) dan definisi akidah menjadi persoalan-persoalan keyakinan (al-I’tiqad) dan iman (al-Iman).

Contoh penggunaan definisi ini adalah nama kitab yang ditulis oleh syaikh Syaltut, “Al-Islam ‘Aqidatan wa syari’atan”. Dalam buku tersebut, Syaikh Syaltut mendefinisikan syariat sebagai aturan (nidzam) yang disyariatkan oleh Allah ‘azza wajalla sebagai sebuah aturan untuk dirinya dalam merawat hubungan antara diri manusia dengan Rabbnya, hubungan manusia dengan saudara sesama muslim, hubungan manusia dengan sesama manusia (non-muslim), hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan kehidupan.

 

Selain itu, ada pula yang menggunakan istilah syariat untuk dihadapkan dengan istilah fikih (Al-Fiqh) sehingga dalam konteks ini syariat didefinisikan dengan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah ‘azza wajalla, sementara fikih bermakna hukum hasil ijtihad para mujtahid. Definisi seperti ini digunakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah (Asy-Syar’u al-Mu’awwalu).

Istilah syariat juga digunakan oleh sebagian ulama dalam definisi sebagai hukum-hukum yang sumbernya adalah wahyu, ketika istilah syariat ini dihadapkan dengan istilah Qanun dimana dalam konteks ini Qanun didefinisikan sebagai hukum-hukum yang dibuat oleh manusia dan diterapkan untuk diri mereka pula.

Syaikh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (19/309) menjabarkan dengan kalimat yang cukup menarik tentang hakikat syariat,

لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَخْرُجَ عَنْ الشَّرِيعَةِ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِهِ بَلْ كُلُّ مَا يَصْلُحُ لَهُ فَهُوَ فِي الشَّرْعِ مِنْ أُصُولِهِ وَفُرُوعِهِ وَأَحْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَسِيَاسَتِهِ وَمُعَامَلَتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

“Manusia tidak lepas dari syariat dalam urusan apapun sepanjang kehidupannya, bahkan setiap hal yang mengantarkannya kepada kebaikan semua ada dalam syariat. Mulai dari perkara ushul, perkara furu’, persoalan kehidupan, pekerjaan, politik, muamalah, dan lainnya.” (Shodiq/dakwah.id)

Jika kita membuka trending di Youtube beberapa hari terkahir, maka akan didapati deretan video yang berisi tentang video lagu yang tengah viral. Lagu itu berjudul Aisyah Istri Rasulullah. Seminggu terakhir lagu ini menjadi trending topik yang meramaikan jagat media sosial.

Lagu Aisyah Istri Rasulullah ini menjadi populer karena banyak dinyanyikan ulang (dicover) oleh para penyanyi dan para  Youtuber. Sebut saja; Nisa Sabyan yang kerap mencover lagu-lagu dengan nuansa islami,  video covernya atas lagu ini telah ditonton sebanyak 19 juta penonton dalam waktu satu minggu.

Sedangkan di urutan pertama ada cover dari kanal Youtube Syakir Daulay dengan penonton sebanyak 20 juta dalam waktu enam hari. Kemudian disusul dengan video-video  dari berbagai kanal Youtube lainnya dengan viewer yang juga mencapai angka jutaan.

Melihat fenomena ini, ada pesan positif dari lagu yang sudah muncul sejak 2017 ini, sekilas jika dilihat sambutan penonton Indonesia, menunjukkan lagu ciptaan Mr. Bie, penyanyi asal Malaysia ini membawa pesan positif sebagai upaya mengenalkan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada kaum muslimin.

Meskipun, sebagian kalangan kontra dengan hadirnya lagu ini, yang dinilai tidak etis dari segi lirik karena menggambarkan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha terlalu hiperbolis. Walaupun jika diteliti dengan seksama, sebenarnya lirik lagu ini ternyata tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat shahih yang menggambarkan hal tersebut.

Hadirnya lagu Aisyah Istri Rasulullah ini perlu disikapi dengan bijak. Sisi negatifnya memang ada, namun perlu juga melihat sisi positifnya. Dan juga tidak menutup mata dari niat baik penulis lagu yang (mungkin) menjadikan lagu ini sebagai sarana dakwah.

Terlepas dari itu semua, tulisan ini tidak ingin membahas hukum bermusik—yang telah disepakati oleh ulama atas hukum haramnya, atau pro-kontra lagu ini sebagai sesuatu yang pantas atau tidak pantas untuk dinyanyikan—dari sisi penekanan konten maupun cara penyampaiannya.

Paling tidak ada dua hal positif yang penulis tangkap dari viralnya lagu ini,

Pertama, sebuah pesan bahwa memuliakan dan mencintai istri Nabi yang juga sebagai ibu orang-orang beriman adalah kewajiban.

Kedua, upaya melawan kampanye aliran Syiah di Indonesia maupun di dunia yang membenci sahabat dan istri-istri Nabi shalallahu ’alahi wa salam. Terlebih lagi kebencian mereka terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan ibunda Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Celaan Syiah terhadap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan ‘Aisyah Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Kalau ada yang sangat benci secara berlebihan atas viralnya lagu ini—di luar faktor musik yang mengiringi atau cara penyampaiannya, bahkan boleh jadi membenci hingga ke dalam hati, pastilah orang-orang tersebut adalah kelompok sesat Syiah.

Bukan bermaksud mengeneralisir kepada mereka yang kontra dengan adanya lagu ini. Akan tetapi, tulisan ini ingin menampakkan kesesatan mereka berupa kebencian dan celaan mereka terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi.

 

Bagi syiah lagu ini sangat menampar wajah mereka. Doktrin kebencian yang selama ini mereka sebarkan rusak dalam hitungan hari, karena lagu ini digandrungi banyak orang.

Pasalnya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  yang selama ini mereka citrakan buruk, justru hari ini dibicarakan banyak kaum muslimin. Bahkan tak sedikit dari kalangan muda yang menghafal lirik lagu Aisyah Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.

Syiah, pada awal kemunculannya adalah mereka yang lebih mengutamakan Ali radhiyallahu ‘anhu atas seluruh sahabat atau atas tiga khalifah sebelumnya; Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum.

Namun seiring berjalannya waktu, penyimpangan dan kesesatan mereka semakin menjadi. Mereka mulai mengkafirkan para sahabat, menghina mereka dengan hinaan yang buruk. Mereka juga berlebihan dalam memposisikan ahlu bait, bahkan pada sekte aliran Syiah tertentu, mereka menuhankan Ali radhiyallahu ‘anhu. (Lihat: Nashir bin Abdul Karim al-Uqal, Dirasah fi al-Ahwa’ wa al-Firaq wa al-Bida’, 182)

Kebencian mereka terhadap para sahabat bisa dilihat dalam literatur-literatur yang menjadi rujukan utama mereka. Dalam kitab-kitab tulisan tokoh-tokoh mereka, terdapat riwayat-riwayat palsu yang mereka jadikan dalil legitimasi kebencian mereka kepada para sahabat Nabi yang mulia.

Seperti yang disebutkan oleh al-Kulaini, salah satu Imam rujukan kelompok Syiah, ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ja’far ash-Shadiq yang berkata,

“Semua orang (para sahabat) murtad sepeninggal Rasulullah, kecuali tiga orang, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kaafi, hlm. 115)

Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa kaum Syiah Rafidhah adalah mereka yang mencela para sahabat Nabi yang mulia, melaknat mereka, mengkafirkan seluruh sahabat atau sebagian dari mereka. (Muhammad Khalil Harras, Syarhu al-Aqidah al-Wasathiyah. Hlm.192)

Kebencian mereka terhadap para sahabat sudah menjadi bagian dari keyakinan dan iman. Bahkan kebencian terhadap para sahabat menjadi tolok ukur iman dan kufurnya seseorang.

Al-Majlisi, salah seorang tokoh rujukan pengikut aliran sesat Syiah, menuliskan sebuah riwayat dari Abu Hamzah ats-Tsumali bahwa dia pernah bertanya kepada Ali bin Husain tentang Abu Bakar dan Umar, maka dia menjawab,

“Mereka berdua kafir, dan kafir pula yang setia kepada keduanya.” (Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 69/ 137-138)

Tentu riwayat-riwayat yang mereka sandarkan kepada ahlu bait Nabi adalah palsu. Bahwa sesungguhnya Ali bin Husain dan ahlu bait berlepas diri dari kedustaan yang mereka buat. (Abdullah bin Muhammad as-Salafi, Min ‘Aqaidi asy-Syiah, 20)

Kelompok ini juga tidak segan membuat tafsiran-tafsiran menyesatkan yang berisi cacian mereka terhadap Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Seperti Al-Qummi, salah satu ulama tafsir kawakan syiah, ketika menafsirkan surat an-Nahl ayat 90:

وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِ

“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”

Al-Qummi menafsirkan maksud dari perbuatan keji adalah Abu Bakar, kemungkaran adalah Umar bin Khattab, dan Permusuhan adalah Utsman bin ‘Affan. (Lihat: Ali bin Ibrahim al-Qummi, Tafsir al-Qummi, 1/390)

Mereka juga menyebut Abu Bakar ash-Siddiq dan Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhuma sebagai jibt dan thagut. (Lihat: Al-Kulaini, Usul al-Kafi, 1/429.)  Kebencian mereka terhadap Abu Bakar dan Umar dilandasi tuduhan bahwa keduanya adalah perampas hak Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah.

sumber : dakwah. id

Sejak tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memikul tugas berat memperbaiki dan membangun masyarakat Islam dan daulah Islam yang selanjutnya akan mewarisi dua daulah besar; Persia dan Romawi.

Langkah-Langkah Rasulullah Membangun Masyarakat Islam

Lima langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterapkan untuk membangun benih peradaban baru pembentukan masyarakat Islam di Madinah antara lain:

PERTAMA: MENDIRIKAN MASJID

Langkah pertama dalam perbaikan dan pembangunan masyarakat Islam di Madinah adalah mendirikan masjid dan beberapa ruang untuk tempat tinggal keluarga beliau.

Melalui masjid inilah yang akhirnya dijadikan sebagai basis dan pusat kendali seluruh aktivitas masyarakat Islam di Madinah. Sehingga, masjid menjadi icon persatuan masyarakat Islam hingga sekarang.

KEDUA: MENDATANGKAN DUA KELUARGA

Langkah berikutnya adalah mendatangkan dua keluarga mulia; keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beberapa sahabat lain yang memungkinkan, untuk dihijrahkan dari Mekah ke Madinah. Di antaranya, Zaid bin Haritsah serta keluarganya.

iklan Khutbah Jumat V 8 hal yang perlu kita ketahui tentang ibadah shalat-dakwah.id

Hal yang sama juga dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ia mengirim seseorang untuk mencari keluarganya untuk dibawa ke Madinah. Begitu seterusnya hingga hampir seluruh umat Islam Mekah dipindahkan ke Madinah.

KETIGA: MEMBANGUN KOMUNIKASI

Menjalin komunikasi dengan kaum Yahudi melalui orang yang ditokohkan oleh mereka dan mendakwahi mereka untuk masuk Islam. Saat itu yang didekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abdullah bin Salam. Ia adalah seorang pendeta yang terhormat di kalangan Yahudi Madinah.

Saat beliau tiba di Madinah, Abdullah bin Salam datang untuk menguji kebenaran nubuwah dan risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ia mengajukan sejumlah pertanyaan. Ia berkata, “Aku akan menanyakan tiga hal kepadamu. Tidak ada yang mengetahui jawabannya selain Nabi. Apa tanda-tanda pertama Kiamat? Apa makanan pertama yang dimakan para penghuni surga? Kenapa anak mirip dengan ayah atau ibunya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu membeberkan jawaban yang barusan dikabarkan oleh malaikat Jibril. “Tanda pertama kiamat adalah api yang keluar dari timur, menghalau manusia menuju barat. Makanan pertama yang dimakan penghuni Surga adalah tambahan hati ikan Paus. Adapun anak, jika air mani lelaki mendahului air mani perempuan, anak mirip ayahnya. Jika air mani perempuan mendahului air mani laki-laki, anak mirip ibunya.”

Mendengar jawaban tersebut, saat itu juga Abdullah bin Salam mengucapkan dua kalimat syahadat.

Saat Abdullah bin Salam masuk Islam dan keislamannya mulai membaik, kesempatan terbuka lebar untuk menjalin komunikasi lebih lanjut dengan orang-orang Yahudi dan mengajak mereka untuk masuk Islam.

KEEMPAT: MEMBUAT PERJANJIAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perjanjian untuk kaum Muhajirin dan Anshar yang memuat perjanjian dengan kalangan Yahudi di Madinah.

Isi perjanjian itu beliau buat sedetail mungkin dan memuat kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pemeliharaan stabilitas posisi masyarakat Islam di Madinah saat itu.

Melalui perjanjian tersebut pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk menyatukan seluruh elemen penduduk Madinah yang terdiri dari kalangan Muhajirin-Anshar dan tetangga mereka dari kalangan Yahudi.

Dengan perjanjian tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat mereka semua dan menjadikan mereka satu kelompok yang mampu menghadapi siapapun yang berniat jahat terhadap mereka.

KELIMA: MEMPERSAUDARAKAN ANTAR GOLONGAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar dengan ikatan yang lebih kuat lagi. Generasi dari kalangan Muhajirin dinikahkan dengan generasi dari kalangan Anshar.

Di mana saat itu kalangan Muhajirin berada dalam situasi yang sangat memerlukan bantuan untuk meringankan segala beban hidup di tempat yang asing, dengan kondisi ekonomi yang masih lemah, dan pengaruh psikologis lantaran berpisah dengan keluarga besar mereka di Mekah.

Langkah ini merupakan bentuk sikap yang lurus, kesempurnaan nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kematangan politik beliau, dan kebijaksanaan yang dapat diterima semua kalangan.

Walhasil, melalui konsep persaudaraan seperti itu masyarakat Islam Madinah saling menyatu dan menjadi satu tubuh untuk sama-sama memikul beban yang ditanggung.

Ketika persatuan mereka tumbuh baik dan kokoh, itu artinya mereka juga akan siap untuk memikul beban pengumuman perang melawan seluruh umat yang berseberangan dengan Islam, memerangi orang yang dekat ataupun yang jauh dari kalangan musyrikin dan kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 39)

(Disadur dari kitab Hadzal Habib Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ya muhib, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 174-181) wallahu a’lam [Shodiq/dakwah.id]