Pentingnya Pendidikan Shalat untuk Anak

Anak merupakan anugrah dan karunia Allah yang begitu besar bagi hamba-Nya. Kehadirannya mampu menjadikan orang tua bahagia dan menjadikannya penyejuk mata. Anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, pelanjut, penerus dan pewaris orang tua dengan harapan kebaikan-kebaikan yang menyertainya. Sesungguhnya anak adalah amanah yang telah Allah limpahkan kepada orang tua, dan tentunya kita semua menginginkan mereka menjadi anak yang shalih, dan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat. Akan tetapi orang tua haruslah menyadari bahwa selain anak adalah karunia Allah yang begitu besar anak adalah bagian dari ujian yang Allah berikan. Banyak kewajiban yang harus dilaksanakan dan banyak pula amanah yang harus ditunaikan. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. at-Taghabun : 15)

Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat tersebut beliau menjelaskan bahwa anak adalah bagian dari ujian dan amanah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dengannya apakah seorang hamba semakin taat kepada Allah dengan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya ataukah sebaliknya justru mereka melalaikannya. Bagi mereka pahala yang besar jikalau mereka mampu mengemban amanah tersebut dengan baik. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/139)

 

Pentingnya pendidikan shalat bagi anak sejak dini

Anak merupakan amanah dan titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebagai orang tua haruslah menjaga anak-anak mereka dengan baik. Kita juga harus mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Salah satu kewajiban orang tua adalah mengajarkan kepada anak akan kewajiban mendirikan shalat, karena shalat adalah kewajiban yang harus dikenalkan kepada anak-anak sejak usia dini. Shalat adalah bagian dari rukun Islam dan pilar agama Islam, bahkan Shalat merupakan perkara yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ فَإِنَّ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائَرُ عَمَلِهِ

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan Albani dalam kitab shahihnya no. 2573)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa shalat adalah bukti benarnya keislaman dan keimanan seseorang. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَة

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Maka dari itu sudah seharusnya orang tua sadar akan kewajiban dan tanggung jawab mereka untuk mengajarkan tata cara pelaksanaan shalat yang baik dan benar kepada anak-anak mereka. Karena ketidakpedulian orang tua terhadap pendidikan shalat anak akan  berakibat buruk, di mana seorang anak akan meremehkan ibadah shalat bahkan mereka cenderung ‘asal-asalan’ dalam melaksanakannya. Sehingga hal itu bisa memberikan dampak yang buruk bagi pembentukan karekter dan kepribadian anak. Sahabat Umar bin Al Khathab berkata:

إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِى الصَّلاَةُ فَمَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا حَفِظَ دِينَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

”Sesungguhnya perkara yang paling penting untuk diperhatikan seorang hamba adalah shalat. Barangsiapa yang menjaganya ia telah menjaga agamanya, barangsiapa meremehkannya maka terhadap urusan yang lain ia akan lebih meremehkannya.” (Limadza Nushalli, 1/3)

 

Mengajarkan shalat kepada anak            

Selain kasih sayang orang tua, perhatian, dan pengertian yang dibutuhkan seorang anak sejak dini adalah pendidikan yang benar dengan mengenalkan kewajiban-kewajiban serta larangan Allah Ta’ala. Salah satu kewajiban yang dibebankan oleh syari’at agama ini kepada para orang tua adalah mendidik dan mengajari anak-anak untuk mendirikan shalat dengan baik dan benar. Mengenalkan kepada mereka syariat ibadah shalat dan mengajarkankan kepada mereka tata cara pelaksanaan shalat yang benar.

Memang adakalanya orang tua sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas-aktivitas yang menuntut untuk tidak selalu menyertai anaknya dalam mengajarkan shalat, atau adakalanya orang tua merasa  tidak mampu mengajarkan tata cara shalat secara sempurna karena keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Akan tetapi keadaan-keadaan tersebut tidak boleh mengorbankan pendidikan anak dan menjadi sebab ketidaktahuan seorang anak akan ibadah shalat yang benar. Orang tua tentunya harus memikirkan cara bagaimana agar anak sejak usia dini benar-benar mendapatkan pendidikan shalat yang benar, baik secara langsung diajarkan oleh orang tua mereka maupun dengan media atau perantara orang lain untuk mengajarinya.

Pendidikan bukanlah pendadakan sehingga dalam mendidik tentunya akan ada proses dan tahapan-tahapan termasuk mengenai metode pendidikan dan penerapannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).

Memerintahkan anak untuk shalat saat berusia tujuh tahun dan memukulnya jika ia menolak setelah berusia sepuluh tahun merupakan bagian tahapan pendidikan shalat untuk anak yang telah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berikan. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua sebelum anak memasuki umur 7-10 tahun tersebut, diantaranya:

Pertama,  kedua orang tua harus mampu memberikan tauladan yang baik karena ini merupakan tahapan pendidikan paling awal bagi seorang anak. Bagaimanapun orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak, seberapa banyak contoh kebaikan yang ia lihat akan memberikan pengaruh yang begitu besar bagi seorang anak untuk menjadi baik. pada tahapan ini orang tua harus berusaha menanamkan nilai-nilai keislaman termasuk mengajarkan kepada mereka tauhid yang benar. Mengajarkan kewajiban shalat kepada anak di usia dini bukanlah perkara yang mudah,  sebab pada usia tersebut seorang pendidik atau orang tua harus mendidik mereka melalui pendekatan  psikologis dan figur untuk diteladani seorang anak.

Kedua,  mengenalkan dan mengajarkan anak shalat. Karena  bagaimana mungkin anak akan menjalankan shalat jika belum dikenalkan dan diajarkan shalat sebelumnya, di mana oran tua tertuntut untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana memperagakan tata cara shalat yang benar. Termasuk mengajarkan kepada mereka terutama bagi laki-laki terkait kewajiban shalat berjamaah di masjid, tentunya setelah orang tua menimbang jikalau memang kehadiran mereka tidak membuat kegaduhan atau menggangu stabilits pelaksanaan shalat berjamaah, akan tetapi jika di usia ini justru mereka bertindak yang sebaliknya atau kurang adanya kontrol dari orang tua maka alangkah baiknya seorang ibu mengenalkan dan mengajarinya di dalam rumah terlebih dahulu.

Ketiga, memberi semangat dan motivasi anak untuk shalat. Termasuk di dalamnya adalah mengenalkan kepada mereka akan keutamaan-keutamaan dan kedudukan shalat di dalam Islam, bahkan jika perlu bisa dengan memberikan hadiah untuk menarik perhatian anak. Selain itu orang tua juga bisa memberikan motivasi  kepada anak untuk shalat dengan cara  mengemas pesan tersebut dengan cerita atau cerpen sehingga mudah untuk mereka terima dan tidak terkesan monoton. Di usia ini pula orang tua tidak perlu marah dan menyalahkan anak ketika melihat kurang tepatnya mereka mengerjakan shalat, tapi justru keadaan tersebut menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk menunjukkan tata cara shalat yang benar dengan penuh kasih dan cinta.

Adapun ketika anak telah mencapai umur tujuh tahun inilah saatnya orang tua harus meyuruh dan membiasakan mereka melaksanakan shalat. Pada masa ini mengharuskan orang tua mengulang-ulang permintaan shalat dari anak-anak yang tentunya dengan halus, lemah-lembut dan penuh kecintaan. Pada masa ini seorang anak harus memulai belajar terkait hukum-hukum shalat baik bacaan maupun pergerakan mulai dari syarat, rukun, wajib dan sunnah-sunah shalat. Kemudian saat anak usia sepuluh tahun, maka ia diperintahkan dengan perintah yang bersifat wajib, agar anak mau mengerjakan shalat. Jika anak enggan atau tidak memenuhi seruan orang tua, maka orang tua boleh memberikan pukulan mendidik yang bisa membuat mereka jera dan tidak menyakiti. setelah itu orang tua harus terus mngontrol pelaksanaan shalat anaknya dan wajib mengingatkannya ketika mereka lalai.

Maka dari itu bagi orang tua yang telah mendapatkan amanah berupa anak yang dianugrahkan kepada mereka, berusahalah semaksimal mungkin menjadi orang tua yang bertanggung jawab akan pendidikan anaknya terutama pendidikan shalat. Jika orang tua mampu berlaku amanah dengan tanggung jawab tersebut, baginya pahala jariyah di sisi Allah Ta’ala yang begitu besar, sebaliknya jika orang tua mengabaikan amanah tersebut kelak akan mempertanggung jawabkan atas kelalaian mereka. Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

 

 

SEBAB KESHALIHAN ORANG TUA

Ali Shodiqin

 

Tidak ada modal berharga yang patut kita seriusi agar anak-anak kita tumbuh menjadi shalih selain berusaha untuk menjadi pribadi shalih terlebih dahulu. Surat al-Kahfi ayat 82 menarik untuk kita renungi.

Allah Ta’ala berfirman, “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar agar supaya mereka sampai pada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu.”

Ayat di atas merupakan di antara fragmen kisah perjalanan Nabi Musa mendampingi seorang lelaki shalih dalam mencari ilmu. Banyak ulama menyebut lelaki shalih tersebut bernama Khidir. Alur ayat di atas adalah jawaban atas pertanyaan Nabi Musa atas perbuatan yang dilakukan lelaki shalih yang ia dampingi.

 

Disebutkan dalam al-Qur`an bahwa mereka berdua tiba di suatu negeri dan meminta penduduknya untuk menjamu mereka lantaran bekal yang mereka miliki telah habis. Namun, penduduk negeri itu enggan untuk menjamu. Akan tetapi tatkala keduanya melanjutkan perjalanannya di negeri tersebut dan menemukan dinding rumah yang hampir roboh. Tanpa berfikir panjang, lelaki shalih itu bergegas menegakkan dinding itu dan memperbaikinya.

 

Ibnu Katsir bertutur ketika mengomentari ayat tersebut, “ayat tersebut merupakan argumentasi bahwa anak keturunan seorang yang shalih akan dijaga (Allah). Ini juga mencakup barakah ibadahnya bagi mereka di dunia dan akhirat. (Dengan izin Allah) ia akan memberi syafaat kepada mereka, mengangkat mereka pada derajat yang tinggi di jannah, supaya lelaki shalih tadi bergembira dengan (kondisi) mereka” (Tafsir al-Qur`anil ‘Azhim, 5/186-187).

 

Hal menarik lain yang dapat kita petik dari ayat tersebut bahwa Allah akan menjaga anak keturunannya meski al-Quran tidak secara tegas menyebutkan bahwa kedua anak tersebut juga termasuk anak yang shalih.

 

Atas dasar inilah kiranya Abdullah bin Abbas mengomentari ayat tersebut dengan berkata, “Kedua anak yatim itu dijaga (Allah) disebabkan keshalihan ayah mereka. Meski tidak  disebutkan bahwa keduanya juga termasuk orang yang shalih.”

 

Keshalihan Bukan Hanya Untuk Diri Sendiri

Patut kembali kita sadari bahwa keshalihan yang berusaha kita capai sejatinya bukan hanya untuk diri kita sendiri. Berbagai kebajikan yang kita lakukan seperti: mendirikan shalat fardhu yang kita usahakan untuk selalu dikerjakan berjamaah di masjid, qiyamullail dengan penuh khusyuk yang diiringi dengan lantunan doa juga aliran air mata, membaca al-Qur`an, shiyam sunnah dan sebagainya, pada hakikatnya juga untuk kebaikan anak keturunan kita kelak.

 

Untuk itu, menghilangkan karakter-karakter yang buruk, akhlak yang tercela, dosa, bahkan kemaksiatan yang mungkin tidak kita sadari, merupakan suatu keniscayaan ketika mendambakan anak yang shalih. Boleh jadi, terhalang atau belum tercapainya keshalihan anak kita, disebabkan dosa dan kemaksiatan yang terus-menerus kita lakukan. Atau dikarenakan harta tidak halal yang kita peroleh. Atau juga lantaran kedurhakaan kita kepada kedua orang tua kita.

 

 

KeSHALIHan anak bukanlah suatu yang lahir hanya disebabkan metode pengajaran yang ia dapatkan. Bukan pula pilihan sekolah atau tempat pengasuhan yang terbaik. Tidak juga hanya fokus pada kesungguhan mendidik dan pengorbanan finansial. Akan tetapi, penentu utama di balik keshalihan mereka adalah disebabkan perantaraan ibadah-ibadah agung yang kita kerjakan. Rasa takut dan muraqabah kita kepada Allah, melaksanakan shalat fardhu, amal-amal shalih yang tersumbunyi dari pandangan orang lain, berbakti pada orang tua, qiyamullail dan ibadah lainnya.

 

Bukti bahwa keshalihan orang tua berpengaruh pada anak-anaknya merupakan suatu yang dikenal sejak dahulu. Imam al-Ghazali memuat sebuah kisah dalam Ihya` Ulumuddin (3/251) berkaitan tentang ini. Beliau menulis bahwa saat menderita sakit menjelang ajal Imam asy-Syafi’i, ia mewasiatkan pada seseorang untuk memandikan jenazahnya. Setelah beliau meninggal, orang tersebut pun dipanggil. Saat memenuhi panggilan itu, orang itu meminta wasiat imam asy-Syafi’i. Dalam wasiat tersebut ternyata beliau menyebutkan mempunyai hutang 70 ribu dirham pada seseorang. Orang itu pun bersedia melunasi hutang itu seraya berkata, “Beginilah aku ‘memandikan’ jenazahnya.”

 

Beberapa tahun berselang, seseorang ingin mengunjungi orang yang memandikan imam asy-Syafi’i tersebut. Setelah menemukan rumahnya, ia pun mendapati orang tersebut dalam kebaikan; memiliki keturunan yang banyak, diberi kemuliaan dan juga keluasan rejeki.

 

Mengakhiri tulisan ini, alangkah baiknya kita merenungi perkataan Sa’id bin Musayyib. Ia pernah menuturkan “Sungguh! Tatkala saya hendak melaksanakan shalat (sunnah) lalu saya teringat pada anak-anakku, maka saya pun memanjangkan shalatku.” Wallahu A’lam. []

 

 

Diambil dari majalah Hujjah edisi 17, Rajab.

 

 

 

Akhukum fillah, Ibnu Abdil Bari.

Kesungguhan Ulama Dalam Menuntut ilmu

Kisah Semangat Sufyan ats-Tsaury Dalam Belajar

Kemiskinan tidak menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan ats-Tsaury (ulama generasi tabi’ tabi’in) rahimahullah. Ia menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari denganamirul muknin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi kedudukannya.

 

Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah), ‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada Allah kecukupan’.

 

Sufyan ats-Taury adalah seorang yang miskin dan belajar butuh modal. Fokus belajar, membuatnya tidak punya harta untuk belajar. Tapi jika belajar sambil bekerja, ilmu yang didapatkan hanya setengah-setengah, tidak optimal. Kemudian Allah ﷻ memberikan jalan keluar dan mengabulkan doanya. Doa tulus untuk mempelajari agama-Nya. Ibunya berjanji menanggung keperluannya belajar. “Wahai anakku, belajarlah! Aku yang akan mencukupkanmu dari hasil usaha tenunanku ini”, kata ibunya (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya. 6/370).

 

Dengan usaha menenun, ibunya membelikan buku dan mencukupi kebutuhannya dalam belajar. Tidak hanya mendanai Sufyan, ibunya juga selalu memberi semangat dan menasihatinya agar terus giat memperoleh ilmu. Ibunya mengatakan, “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, perhatikan… apakah ada pada dirimu perasaan semakin takut (kepada Allah), semakin lembut, dan semakin tenang. Jika engkau tidak merasakannya, ketahuilah apa yang kau pelajari memudharatkanmu. Tidak bermanfaat untukmu.” (Ibnul Jauzi dalam Sifatu Shafwah, 3/189).

Nasehat Ibunda Sufyan ats-Tsaury Dalam Belajar

Nasihat ibu Sufyan juga sangat layak kita jadikan renungan. Introspeksi diri yang mungkin jarang kita lakukan. Sudahkah ibadah kita makin giat, akhlak semakin baik, dan rasa takut serta tawakal kepada Allah kian kuat, setelah kita belajar?

 

Ibu Sufyan menjadikan 10 huruf, hanya 10 huruf, untuk introspeksi sejauh mana pengaruh ilmu untuk dirinya.

 

Dengan lantaran ibunya, Sufyan ats-Tsaury menjadi Sufyan ats-Tsaury yang kita tahu. Seorang pemimpin dalam ilmu dan imam dalam agama.

 

Jabir bin Abdillah

 

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki semangat luar biasa dalam mempelajari agama. Ia dan ulama-ulama lainnya tidak mencukupkan diri belajar di negerinya sendiri. Mereka bersafar, melangkahi jalan-jalan, menghilangkan ketidak-tahuan.

 

Kisah perjalanan mereka ini seperti dongeng. Karena mereka berjalan bermi-mil hanya untuk sesuatu yang menurut sebagian orang adalah kecil. Tantangan mereka pun berat dan fasilitas mereka tidaklah hebat. Perjalanan pun tetap beralangsung.

 

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu melakukan perjalanan sebulan menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, hanya untuk satu hadits. Jabir bercerita, “Aku mendengar ada satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang dari sahabat Rasulullah ﷺ. Lalu aku membeli seekor onta, dan kuikat bekalku sebulan pada onta itu. Tibalah aku di Syam. Ternyata sahabat tersebut adalah Abdullah bin Unais. Aku berkata kepada penjaga pintunya, ‘Katakan kepadanya, Jabir sedang di pintu’. Dia bertanya, ‘Jabir bin Abdillah?’ Aku menjawab, ‘Ya’.

 

Lalu Abdullah bin Unais keluar dan dia merangkulku, aku berkata, ‘Sebuah hadits, aku mendengarnya ada padamu, kamu mendengarnya dari Rasulullah ﷺ, aku khawatir mati atau kamu telah mati sementara aku belum mendengarnya. Lalu ia menyebutkan hadits tersebut…” (Riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 970, Ahmad 16085, dan al-Hakim 3638).

 

Setelah mendangar hadits tersebut, Jabir langsung pulang, kembali ke Madinah. Tidak ada motivasi lain bagi dirinya, berangkat menuju Syam kecuali satu hadits tersebut.

 

Abu Ayyub al-Anshari

 

Abu Ayyub al-Anshari pernah bersafar dari Madinah ke Mesir. Untuk menemui Uqbah bin Amir al-Juhni. Ia ingin meriwayatkan satu hadits darinya. Sesampainya di Mesir, bertemu Uqbah dan mendengar haditsnya, ia langsung kembali ke Madinah (Riwayat Ahmad 17490, Abdurrazzaq 18936, Ibnu Abi Syaibah 13729).

 

Asad bin Furat

 

Asad bin Furat rahimahullah adalah seorang ahli fikih madzhab maliki. Ialah yang membukukan madzhab Imam Malik rahimahullah. Asad adalah hakim di Qairawan. Ia juga seorang mujahid. Turut serta membebaskan wilayah Sicilia di Italy pada tahun 213 H. Asad bercerita tentang perjalanannya belajar agama:

 

Ia pergi ke Madinah, belajar kepada Imam Malik. Lalu menuju Irak dan belajar dari murid-muridnya Imam Abu Hanifah. Di Irak pula ia belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Ribuan orang hadir di majelis Muhammad bin Hasan, sulit bagi Asad untuk bertanya sesuatu yang ia inginkan. Akhirnya ia bisa menyampaikan uneg-unegnya kepada Muhammad bin Hasan. “Aku adalah orang asing (bukan orang Irak) yang sedikit bekalnya. Mendengar ucapanmu (di majelis) sangat sulit karena padatnya jamaah. Dan orang-orang yang belajar denganmu banyak. Adakah solusi untukku?”

 

Muhammad bin Hasan rahimahullah menjawab, “Dengarkanlah bersama orang-orang Irak di siang hari. Malam harinya kukhususkan untukmu saja. Menginaplah di tempatku. Aku akan memperdengarkanmu (ilmu).”

 

Asad bin Furat mengatakan, “Aku pun menginap di rumahnya. Kuletakkan di hadapanku suatu wadah yang berisi air. Mulailah aku belajar. Apabila malam larut, dan aku merasakan kantuk, kubasahi tanganku dan kuusapkan di wajahku, aku pun segar kembali. Itulah caranya dan caraku. Sampai akhirnya aku merasa puas mendengarkan ilmu darinya.”

 

Perhatikanlah kesungguhan dua ulama ini. Bagaimana Muhammad bin Hasan meluangkan waktunya siang dan malam untuk mengajar. Dan ia khususkan malam untuk Asad bin Furat. Mengapa? Karena ia tahu, melalui Asad ilmu yang ia miliki akan tersebar ke negeri yang tidak mampu ia jangkau.

 

Lihat pula kesungguhan Asad bin Furat rahimahullah, ia tidak merasa cukup belajar dari ulama sekelas Imam Malik rahimahullah. Padahal apa yang dia dapat dari Imam Malik sangat banyak. Ia tetap merasa haus dan lapar akan ilmu agama. Sehingga senantiasa mempelajarinya selama masih bernyawa.

 

Diriwayatkan oleh ad-Darimi dengan sanad yang shahih, mursal dari Thawus bin Kaisan rahimahullah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ pernah ditanya, ‘Wahai Rasulllah, siapa orang yang paling berilmu?’ Beliau ﷺ menjawab, ‘Orang yang mengumpulkan ilmu banyak orang menjadi ilmunya. Setiap pelajar ilmu agama adalah ghartsanu (orang yang lapar, tidak merasa cukup) terhadap ilmu.” (HR. Ad-Darimi, Husain Silmi seorang muhaqqiq Sunan ad-Darimi berkata, “Sanadnya shahih”.).

 

Imam al-Bukhari

 

Al-Bukhari rahimahullah terbangun dalam satu malam. Kemudian ia menghidupkan lenteranya. Ia menulis pelajaran. Kemudian ia padamkan lenteranya. Lalu terbangun lagi, lagi, dan lagi. Hingga hampir 20 kali (Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 11/25).

 

Imam an-Nawawi

 

Imam an-Nawawi rahimahullah bercerita tentang dirinya, “Pernah selama dua tahun aku tidak pernah membaringkan pungguku di bumi (lantai). Apabila rasa kantuk menghampiriku, aku tersandar pada buku-buku sesaat, kemudian bangun kembali.” (Ibnu Qadhi Syubhah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah).

 

Beliau tidak pernah tidur berbaring selama dua tahun. Duduk menelaah buku-buku, lalu tertidur dan segera bangun kembali. Untuk apa beliau lakukan itu? Untuk ilmu yang berharga, warisan Nabi ﷺ, ilmu agama.

 

Fakhruddin Muhammad as-Sa’ati

 

Fakhruddin Muhammad adalah seorang ilmuan kedokteran dalam sejarah Islam. Ia menceritakan bagaimana ia mempelajari ilmu kedokteran dengan mengatakan, “Kaumku hasad kepadaku atas apa yang telah kuperbuat. Karena antara aku dan mereka adalah tempat tidur. Aku bergadang di malam hari. Sementara mereka terkantuk-kantuk. Tentu tidak sama antara orang yang belajar dan yang ngantuk.” (Ibnu Abi Ushaibi’ah dalam Uyunul Anba fi Thabaqat al-Atibba, 4/162).

 

Imam Ahmad

 

Imam Ahmad bercerita tentang masa kecilnya, “Aku berangkat pagi-pagi untuk hadits”, yakni beliau keluar dari rumahnya di saat pagi untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuknya saat belajar hadits. “Ibuku menyimpan pakaianku hingga saat adzan subuh (berkumandang).” (adz-Dzahabi dalam Siyar Alamin Nubala).

 

Imam Ahmad di masa kecilnya telah menyiapkan diri untuk belajar hadits sebelum datangnya waktu subuh. Tapi ibunya takut kalau anaknya keluar sebelum waktu subuh tiba. Karenanya, bajunya baru ia berikan setelah adzan subuh berkumandang.

 

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel www.KisahMuslim.com

 

Bismillahirrahmanirrahim

MENYEMAI ADAB KEPADA ALLAH

Peristiwa demi peristiwa yang  kita saksikan di berbagai media akhir-akhir ini, banyak memperlihatkan  semakin merosotnya akhlak dan adab anak-anak generasi muda. Mulai dari video anak yang akan memukul gurunya saat dinasehati sampai yang ramai diberitakan  seorang mahasiswa yang membunuh dosennya dengan alasan dipersulit skripsinya menjadi bukti menanamkan adab bukanlah perkara mudah.

Adab kita fahami sebagai sopam santun,  cara bersikap, bertutur berpakaian, berjalan mendengar dan bagaimana berprilaku ideal dalam kondisi dan situasi yang berbeda.

Dalam proses menanamkan adab tentunya kita tidak bisa hanya mengandalkan peran sekolah  karena sesungguhnya tanggung jawab terbesar dalam menanamkan adab ada di tangan keluarga dan orang tua, sehingga kita menjumpai banyak pesan dr  ulama salaf kepada orang tua terkait masalah penanaman adab ini.

Sufyan ats tsauri  berkata : “Termasuk hak seorang anak atas orang tuanya yaitu hendaklah orang tua memperbagus adabnya”.

Ibnu Mas’ud juga berkata :  “Biasakanlah anak-anakmu untuk sholat kemudian biasakanlah bagi mereka hal-hal yang baik karena perilaku-perilaku yang baik itu adalah ibadah”.

Ibnu Umar pun memerintahkan kepada kita dalam pesannya: “Didiklah anakmu karena engkau akan ditanya tentang anakmu adab apa saja yang sudah engkau tanamkan kepadanya dan ilmu apa saja yang sudah engkau ajarkan kepadanya dan anakmu akan ditanya tentang baktinya dan ketaatannya kepadamu”.

Adab yang harus pertama kali harus ditanamkan oleh orang tua adalah mengajarkan anak adab kepada Allah, apa saja  hak -hak Allah atas diri mereka dan bagaimana menempatkan Allah pada tempat yang seharusnya. Yakni dengan  mengenalkan siapa Allah,  apa sifat-sifat Allah, apa hak-hak Allah atas hamba-nya dan apa saja perintah dan larangan Allah kepada umat manusia .

Hak-hak Allah ini meliputi hak untuk di ibadahi, tidak dipersekutuklan, selalu ditaati, dimintai doa dan pertolongan, diagungkan ditakuti,  dijadikan sandaran saat membutuhkan dan lain sebagainya.

Imam Nawawi berkata diwajibkan kepada setiap orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka yang masih kecil apa-apa hal-hal yang bisa membantu mereka saat mereka sudah balik dari perkara-perkara thoharoh sholat keharaman zina liwat liwat mencuri berdusta dan lain sebagainya

Dari Abul ‘Abbas, Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu Ta’ala  ‘anhuma, beliau berkata : “Suatu hari aku pernah (membonceng) di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda : “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat :

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.

Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

Dan ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberikan manfaat untukmu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali apa yang sudah Allah tetapkan untukmu.

Dan seandainya mereka bersatu untuk memberikan bahaya untukmu, maka mereka tidak akan bisa memberimu bahaya kecuali apa yang sudah Allah tetapkan untukmu.

Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering” (HR. Tirmidzi. Beliau berkata : “Hadits hasan shahih”)

Rasulullah menanamkan dalam diri Ibnu Abbas beberapa perkara-perkara penting tentang bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap terhadap Allah yaitu dengan menjaga perintah-perintah Allah yaitu dengan menjaga perintah-perintah Allah memohon pertolongan kepada Allah berdoa dan meminta kepada Allah sebagai bentuk adab terhadap Allah yang semua ini harus pula kita tanamkan kepada anak kita

Jika penanaman adab terhadap Allah ini telah berhasil maka gambaran terbesarnya akan terlihat pada kemampuan anak di dalam menjaga sholat,  anak-anak yang sudah mampu untuk sholat lima waktu secara berjamaah tanpa perlu disuruh, diingatkan bahkan dioprak-oprak, dengan memakai pakaian sholatnya bahkan bersegera untuk memilih shof  pertama, maka kita boleh berharap bahwa telah  tertanamlah di dalam jiwa mereka adab terhadap Allah dengan baik. Sehingga disini sangat penting  bagi orangtua untuk menjadikan shalat dan  kecintaan terhadap shalat sbagai basic penanaman adab terhadap Allah

Terkadang orang tua lebih mendahulukan untuk mngajarkan anak- anak mereka untyk memiliki adab dan sopan santun yang baik kepada orang tua, guru, teman dsb, tapi abai dalam mengajari anak bagaimana beradab kepada Allah. Padahal jika anak  memiliki adab yang baik kepada Allah maka insyaAllah  adab kepada manusia akan mengikuti dan anak akan cenderung mudah diingatkan dan dibawa kearah kebaikan.

Khutbah Jumat: Karena Bertobat Jadi Kuat Memikul Derita Berat

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

 

الحَمْدُ لله الوَاحِدِ الأَحَدِ، الفَرْدُ الصَّمَدُ، الّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Mari kita senantiasa memuji Allah Ta’ala, Dzat yang Maha menerima tobat, atas segala macam kenikmatan yang diberikan kepada kita semua, baik iman, Islam dan juga kesehatan.

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada para istri beliau, para sahabat, dan segenap umatnya yang berpegang teguh kepada Islam sampai akhir zaman.

Mari kita semua berusaha untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah ‘azza wajalla di mana saja kita berada. Berusaha dengan maksimal melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sesungguhnya setan adalah menjadi musuh yang nyata bagi manusia, karena itu sudah seharusnya manusia juga menjadikannya sebagai musuh.

Allah berfirman,

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَه لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Karena siapa pun yang tidak menjadikan setan sebagai musuhnya, maka setan tersebut akan menghiasi tindakan dosa yang dilakukannya agar manusia mau menjadi pengikutnya dan kawannya di neraka.

Di antara cara setan menghiasi tindakan dosa manusia adalah dengan membisikkan kepadanya keinginan untuk bertobat setelah ia berbuat maksiat, akan tetapi pada akhirnya ia pun enggan bertobat.

Maka ingatlah para hamba Allah, ini adalah jebakan setan untuk menjerumuskan manusia.

Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fathir: 5)

Al-Imam Ibnu Katsir menukil perkataan Ibnu Abbas tentang ayat di atas, sekali-kali janganlah kamu biarkan setan menipu kalian dan memalingkan kalian dari mengikuti utusan-utusan Allah dan membenarkan kalimah-kalimah-Nya. Karena sesungguhnya setan itu pada hakikatnya adalah penipu, pendusta, dan pembual.

Oleh karena itu, hendaklah kita sebagai orang-orang yang beriman untuk mewaspadai tipuan setan ini, yakni tenggelam di dalam kemaksiatan gara-gara mengikuti tipuan setan berupa keinginan untuk bertobat setelah melakukannya, akan tetapi justru ia tidak bisa bertobat setelahnya. Karena Allah telah membuat penghalang antara dirinya dengan pintu tobat tersebut, wal ‘iyyadzu billah.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Jika seseorang dikuasai hawa nafsu yang mengajaknya untuk berbuat dosa, maka segeralah ia bertobat, minta ampun kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena hawa nafsu jahat adalah bala tentara iblis.

Hendaknya ia mencari apa yang menyebabkan dirinya tersungkur dalam dosa. Kemudian memutus dan menghentikan sebab yang mendorongnya untuk berbuat dosa.

Kembalilah kepada Allah dengan cara berdoa secara jujur. Ikhlas dan sungguh-sungguh. Niscaya Allah akan menerimanya.

Sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri,

“Dahulu pada masa sebelum kalian, ada seseorang yang membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah).

Lalu ia mendatangi rahib tersebut dan berkata, ‘Jika ada orang yang membunuh 99 jiwa, apa tobatnya bisa diterima?’

Rahib pun menjawab, ‘Tidak.’

Lalu orang tersebut membunuh rahib itu sehingga genap sudah dia membunuh 100 nyawa.

Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang alim. Lalu dia berkata, ‘Jika ada orang telah membunuh 100 jiwa, apakah masih ada pintu tobat untuknya?’

Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya. Siapakah yang menghalanginya untuk bertobat? Pergilah ke daerah ini karena di sana terdapat sekelompok orang yang menyembah Allah Ta’ala. Maka sembahlah Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke daerahmu yang dulu, karena daerah tersebut adalah daerah yang jelek.’

Laki-laki ini lantas pergi menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut. Ketika sampai di tengah perjalanan, maut menjemputnya. Maka terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab.

Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini pergi untuk bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.’

Sedangkan malaikat azab berkata, ‘Sesungguhnya orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’

Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai juru damai.

Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju, pen.), daerah yang jaraknya lebih dekat, maka daerah tersebut yang berhak atas orang ini.’

Mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan teryata orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Oleh karena itu, ruhnya dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Al-Bukhari no. 3211; HR. Muslim no. 4967)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Seorang hamba yang punya keinginan kuat untuk bertobat dari dosanya, maka pastilah ia akan menemui ujian, halangan, rintangan, juga kepedihan yang tidak ringan. Sebagaimana ia mendapatkan kemudahan, kelezatan, dan kesenangan ketika sedang dalam kemaksiatan.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Setiap orang yang bertobat, di awal tobatnya akan merasakan tekanan dan pukulan dalam hatinya. Perasaan sedih, gelisah, sempit, gundah gulana karena meninggalkan sesuatu yang telah disenanginya dan dirinya telah bergantung kepadanya.”

Maka orang yang bertobat harus bersabar menahan derita itu. Dia harus menahan pahitnya obat untuk bisa mendapatkan kesembuhan.

 

Ada beberapa alasan yang menjadikan seorang hamba yang bertobat dan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala mampu menahan dan memikul derita saat ia bertobat. Di antaranya:

Pertama: Dengan Bertobat, Pintu Kecintaan Allah Kepadanya Terbuka Lebar

Kembali kepada Allah dari kemaksiatan merupakan sebab datangnya kecintaan Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Kecintaan Allah merupakan sebesar-besar nikmat dan seagung-agung karunia atas seorang hamba. Rasa cinta kepada Allah akan menjadikan seseorang menjadi hamba yang sukses, penolong agama yang bertakwa, dan kelompok Allah yang menang.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Kedua: Tobat Adalah tanda bahwa Allah akan memberinya kebaikan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib,

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan bukakan untuknya pintu kerendahan diri, perasaan tidak berdaya, selalu bersandar hatinya kepada Allah Ta’ala dan terus-menerus merasa butuh kepada-Nya. Ia memeriksa aib-aib dirinya, kebodohan yang ada padanya dan kezalimannya.

Di samping itu, ia menyaksikan dan menyadari betapa luas karunia, ihsan, rahmat, kedermawanan, dan kebaikan Rabbnya serta kekayaan dan keterpujian diri-Nya.

Oleh karena itu, orang yang benar-benar mengenal (Allah) akan meniti jalannya menuju kepada Allah di antara kedua sayap (sikap) ini. Dia tidak mungkin meniti jalan hidupnya (dengan baik) kecuali dengan keduanya. Ketika salah satu dari kedua belah sayap itu hilang, maka dia bagaikan seekor burung yang kehilangan salah satu sayapnya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga pernah menjelaskan, “Orang yang mengenal Allah adalah orang yang berjalan menuju kepada Allah dengan mengingat-ingat karunia Allah (musyahadatul minnah) dan memeriksa aib diri dan amalnya (muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal).”

Dan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits shahih dari Syaddad (dan Buraidah) radhiyallahu ‘anhuma,

سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ،إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Sesungguhnya Istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan, ‘Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dengan-Mu dan janji dari-Mu, sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” (HR. Al-Bukhari)

Ketiga: Dengan Bertobat, Seorang Hamba Akan Merasakan Kehidupan Baru.

Hamba yang telah bertobat akan merasakan mulianya hidup dalam ketaatan, dan akan merasakan hinanya hidup dalam kemaksiatan.

Ia akan bisa merasakan kebahagiaan setelah menelan pahitnya kecelakaan, akan merasakan tumakninah dalam hati, kebahagiaan dalam diri, kelapangan dadanya. Ingatlah bahwa Allah akan merasa senang dan bangga dengan hamba-Nya yang bertobat.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَبي حمزةَ أَنس بِنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: للهُ أَفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ في أَرْضٍ فَلاةٍ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih gembira dengan  tobat hambanya, yang mana hamba tersebut  jatuh dari ontanya, dan ia telah kehilangan ontanya pada tanah yang luas.” (Muttafaqun Alaihi)

Dalam hadits lain disebutkan,

للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat salah seorng dari kalian tatkala ia bertobat kepada-Nya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada di atas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya. Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa. Di tengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembira (“wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabb-mu) keliru berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Keempat: Jika Kembali Maksiat, Masih Ada Lagi Pintu Tobat

Tobat seorang hamba tidaklah menutup pintu tobat berikutnya ketika hamba kembali terjerumus ke dalam dosa.

Karena jiwa dan hati manusia terus bergolak, terkadang berada di atas ketaatan dan terkadang tenggelam dalam kemaksiatan. Maka jangan pernah berhenti bertobat karena Allah tidak berhenti mengampuni hamba-Nya

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا اِنَّه هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya Al-Qur’an Al-Azhim menjelaskan, “Seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, betapapun besar dosa-dosanya, karena sesungguhnya pintu rahmat dan pintu tobat itu luas.”

Syaikh Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Ayat ini menyeru kepada harapan, optimisme, cita-cita dan kepercayaan akan ampunan Allah pada saat manusia berputus asa dan patah arang, ia mendengar seruan kasih sayang dan sapaan kelembutan Allah.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian Materi Khutbah Jumat tentang tobat yang dapat kami sampaikan pada hari yang sangat mulia ini. Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk senantiasa berada di atas jalan keridhaan-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

Disalin dari situs dakwah.id

dengan sumber artikel link dakwah.id

 

Semoga bermanfaat!

Pro Kontra Islam Nusantara

Tema Islam nusantara belakangan ini menjadi tema yang hangat di kalangan para intelektual islam. Bahkan gagasan ini menjadi tema dalam Muktamar NU yang merupakan salah satu organisasi terbesar di Indonesia. Hal ini justru malah menjadi sindiran banyak pihak, karena di saat NU menggelar muktamar bertemakan Islam Nusantara yang konon katannya ramah dan santun akan tetapi yang terjadi justru sebalikya. Pembahasan tata tertib berlangsung cukup alot, kisruh dan aksi saling dorong. Seolah tidak sejalan dengan makna dari Islam Nusantara yang menjadi tema muktamar.

Istilah Islam Nusantara

Istilah Islam Nusantara menyeruak ke permukaan pasca penggunaan langgam jawa pada pembacaan Al-Qur’an saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 15 Mei 2015 di Istana Negara. Saat itu pro kontra tentang Islam Nusantara muncul. Sebut saja mamah Dedeh, Da’iyah yang terkenal lewat acara Tanya jawab keislaman di salah satu stasiun TV swasta dengan tegas mengatakan bahwa coret Islam Nusantara. Hal ini beliau sampaikan saat menjadi juri pada salah satu acara.

Di kubu Pro sempat terdengar kicauan tokoh Islam Liberal Ulil Absar Abdala. Dia mengatakan bahwa ciri Islam Nusantara adalah tidak memusuhi syi’ah dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya, kicau ulil di akun @ulil.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan Dunia” yang ditulis oleh KH. Afifuddin Muhajir. Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa sebenarnya Islam Nusantara adalah bagaimana mengakomodir ‘urf atau kebiasaan dalam berislam. Beliau juga memaparkan bahwa banyak kaidah-kaidah fikih yang menekankan pada konsep waqi’iyah (realistis).

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan akomodasi ‘urf (kebiasaan setempat) dan prinsip waqi’iyah tadi selama keduanya tidak digunakan untuk merusak sendi-sendi agama yang sudah baku dan paten (baca; Tsawabit). Akan tetapi permasalahan akan terjadi jika istilah Islam Nusantara digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai wacana untuk melakukan deislamisasi seperti yang dicontohkan Ulil di atas. Contoh lainnya adalah apa yang disampaikan oleh Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah yang menyatakan bahwa pakaian adat wanita Arab (Baca : Jilbab) yang hidup di padang pasir tidak bisa dipaksakan kepada wanita Indonesia yang berbudaya maritim.

Peng-istilahan Islam Nusantara, selain rawan dieksploitasi oleh kaum Liberal dan Sekuler juga sebenarnya bertentangan dengan universalitas ajaran Nabi Muhammad SAW. Allah swt berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةَ لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا (سبأ : 28)

Artinya : “Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS : Saba’ 28)

Mengomentari ayat ini mufassir dari kalangan Tabi’in yaitu Qatadah berkata: “Allah mengutus nabi Muhammad SAW kepada bangsa Arab dan Non Arab . Dan yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah yang paling taat kepada Allah”

Dalam ayat lain Allah berfirman  (artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad) “Wahai manusia, saya adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. Al-A’raf 158).

Dari ayat ini jelas bahwa Islam merupakan agama yang cocok dan relevan untuk semua bangsa, suku dan ras. Maka tidak perlu lagi pengotak-ngotakan dengan nama yang rawan disalah-gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Islam ya Islam saja. Wallahu a’lamu bish shawab.

Oleh: Ust. Miftahul Ihsan, Lc

Disunting dan di publish oleh Hafidz bey

Tanamlah Kebaikan Maka kau akan Panen Kemuliaan

Al Hafidz Ibnu Rojab Rahimahullah berkata :

 

إِنَّ الإِنْسَانَ يَزْرَعُ بِقَوْلِهِ وَعَمَلِهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ يَحْصُدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا زَرَعَ ، فَمَنْ زَرَعَ خَيْرًا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ حَصَدَ الْكَرَامَةَ وَمَنْ زَرَعَ شَرًّا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ حَصَدَ النَّدَامَةَ

 

“Seseorang itu menanam kebaikan dan keburukan dengan perkataan dan perbuatannya, dan kelak pada hari kiamat ia akan memanen apa yang telah ditanam, maka barangsiapa menanam kebaikan dengan perkataan dan perbuatannya, ia akan memanen kemuliaan, dan barangsiapa menanam keburukan dengan perkataan dan perbuatannya, ia akan memanen penyesalan”

(Ghidzaul Albab Syarhu mandhumatil Aadab, Muhammad bin Ahmad bin Salim Assifaarini Al Hanbali, I/51)

 

Dunia adalah ladang tempat bercocok tanam. Sedangkan akhirat adalah tempat untuk memanen apa yang telah kita tanam di dunia. Banyak para ulama yang mengatakan bahwa “Ad Dunya Daarul ‘amal, wa laisatid dunya daaral jaza’. Wal aakhiroh daarul jazaa’, wa laisatil aakhiroh daarol ‘amal” (Dunia adalah tempat untuk beramal dan bukan tempat menerima balasan amal. Sedangkan akhirat adalah tempatnya menerima balasan, bukan tempatnya beramal).

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam QS. Al Zalzalah : 7-8 yang artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. Juga dalam QS. Al Baqoroh : 110 yang artinya : “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.

Kedua ayat di atas cukup untuk menjadikan kita senantiasa sadar bahwa dunia ini tempat bercocok tanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen apa yang telah kita tanam.  Sehingga mampu memotifasi dan memberikan dorongan semangat dan kekuatan yang hebat untuk semangat beramal kebaikan, menanam kebaikan sebanyak mungkin, kita rawat dari hama riya’ dan sum’ah yang bisa menyebabkan gagal panen. Mendorong kita untuk senantiasa mengharap balasan amal di akhirat kelak tak terkurangi sedikitpun. Mampu menumbuhkan keikhlasan bahwa amal sholih itu tak selalunya harus dibayar kontan di dunia. Jika seorang muslim yang beramal sholih atau kebaikan harus dibayar kontan di dunia, maka apa yang akan ia panen kelak di akhirat. Tentunya ia akan menggigit jari penyesalan tak menyisakan panen sedikit pun.

Lalu dengan apa kita menanam kebaikan ?? perkataan Ibnu Rojab Rahimahullah di atas memberikan satu pencerahan kepada kita bahwa manusia itu menamam kebaikan maupun keburukan dengan lisan dan perbuatannya. Maka hendaklah kita berhati-hati dengan lisan dan perbuatan kita. Jangan sampai salah penggunaannya. Dengan senantiasa memohon kepada Allah untuk membimbing lisan dan perbuatan kita agar senantiasa bisa kita gunakan untuk menanam kebaikan di mana saja dan kapan saja. Karena betapa banyak manusia yang kurang berhati—hati dalam menggunakannya sehingga lisan dan perbuatannya banyak menanam keburukan. Na’udzubillah. Maka wahai saudara-saudariku seiman, tanamlah kebaikan, niscaya kau akan panen kemuliaan, janganlah kau tanam keburukan karena sungguh engkau akan memanen penyesalan. Wallahu a’lam.

MajalahTaujih.com

Diupload dan di edit oleh hafidzbey

 

 

 

 

( رب صائم حظه من صيامه الجوع و العطش (الترغيب و الترهيب, صحيح)

Berapa banyak orang yang shiyam bagiannya hanya lapar dan dahaga (shahih Targhib dan tarhib)

Ibadah Ramadhan adalah ibadah spesial bagi ummat Islam. Sebulan penuh diminta untuk taat pada Ar Rahman dengan meninggalkan hal hal yang pada bulan lainnya dihalalkan. Ibadah yang seharusnya bisa mengantarkan pelakunya pada derajat ketakwaan.

Hanya, realita yang terjadi, ibadah shiyam ini ternyata tidak banyak membawa bekas kepada para pelakunya. Seakan Ramadhan hanya untuk melaksanakan kewajibanmeninggalkan makan dan minum. Tetapi rahasia rahasia hikmah dari ibadah agung ini kurang tergali dan terealisasikan.

Seharusnya pelaku shiyam Ramadhan ini semakin menguat rasa ikhlasnya karena ia dilatih shiyam tanpa pamrih , kecuali hanya dipersembahkan untuk Rabbnya. Shiyam juga melatih pelakunya untuk menahan diri dari sifat sifat buruk seperti amarah, mencela kehormatan mukmin, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Karena esensinya bukan sekedar tidak makan dan minum tetapi menahan hawa nafsu dari segala keburukan.

Shiyam juga seharusnya menguatkan  sikap kasih sayang kepada sesama, terutama kepada fakir miskin, karena ia telah merasakan bertapa rasa lapar menerpanya saa melakukan shiyam. Lalu bagaiimana halnya dengan kaum papa yang kadang kesehariannya tidak berteman makan dan minuman?

Kejujuran juga mestinya menjadi hiasan ahli shiyam. Ia telah jujur kepada Allah, tidak mau memanipulasi shiyamnya dengan minum air di kamar mandi misalnya. Ia relalapardan haus demi menggapai ridha Ar rahman.  Maka kepada siapapun kejujuran menjadi kebiasaannya.

 

Namun realita kaum muslimin pelaku tarbiyah ramadhan setiap tahun, ternyata masih banyak yang jauh panggang daripada api. Betapa kita saksikan aksi penipuan dan pencitraan masih mendominasi kehidupan muslim. Apalagi jika melihat ke dunia politik. Tentu hal tersebut menjadi satu kelaziman. Yang penting meraih kemenangan. Bukan bagaiamana memenangkan agamanya, tetapi memenangkan kelompok dan kepentingannya.

Demikian pula sikap ego kelompok yang akhirnya tega menjatuhkan kehormatan muslim lainnya masih cukup nyaring terdengar, bahkan bukan di level awam muslim. Melainkan kelompok kelompok kajian yang saling menjatuhkan. Asal tidak sesuai dengan yang ia pahami, dengan mudah menuduh kelompok lain sebagai kelompok sesat, khawarij, anjing anjing neraka dan sederet tuduhan lain tanpa klarifikasi.

Realita realita tersebut menunjukkan buah tarbiyah Ramadhan perlu  ditingkatkan. Oleh karena itu marilah sedari sekarang bersiap menghadapi tarbiyah Ramadhan. Agar muncul alumni alumni Ramadhan yang betul betul meningkat derajat taqwa,  keimanan dan akhlak kesehariannya.

Diedit dan di publikasikan oleh hafidzbey

www.majalahtaujih.com

MENJAGA ANGGOTA BADAN

Syaikh Khalid Husainani v

(Ulama dari Kuwait)

Penyunting: Sulthon Abu Hazimah, S.Psi

الحمد لله ربّ العالمين حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه و أشهد أنّ محمدا عبده ورسوله

Saudara-saudaraku seiman pada pertemuan ini kami akan berbicara tentang satu tema ‘Menjaga anggota badan’.  Maksud anggota badan adalah anggota badan manusia yaitu pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Itulah anggota badan kita.   Rasul kita ` telah mengajarkan kepada kita untuk meminta perlindungan kepada Allah l dari kejahatan anggota badan kita, supaya kita tak menggunakan anggota badan itu untuk bermaksiat kepada Allah l namun dalam ketaatan pada Allah. Di antara do’a Rasulullah `

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan telingaku, kejahatan mataku, kejahatan lisanku, kejahatan hatiku dan kejahatan maniku.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’I, Ahmad dan yang lainnya  dan dihasankan oleh Al-Hakim dan dinyatakan shahih oleh  Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud No. 1387)

Dalam hadits di atas Rasulullah ` berlindung kepada Allah l, menyandarkan diri kepada-Nya, berpegang teguh kepada-Nya dari kejahatan anggota badan tersebut. Mengapa? Bila manusia tak mampu menjaga anggota badan tersebut maka akan menyeretnya ke api neraka, akan mengundang murka Allah k . Berapa banyak kebinasaan, musibah dan ujian yang dipicu oleh anggota badan tersebut baik mata, penglihatan maupun yang lainnya.

Perhatikan bagaimana manusia harus memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan pendengaran, yaitu dari mendengar hal-hal yang haram baik ghibah, kedustaan,  nyanyian   maupun musik. Berlindunglah kepada Allah dan mintalah kepada-Nya agar Dia menjaga pendengaran anda dari sesuatu yang tidak ada manfatnya bagi anda baik dunia maupun akhirat.

Kemudian Rasulullah ` mengajarkan kepada kita agar berlindung kepada Allah l dari kejahatan penglihatan. Sebab bila manusia memandang hal-hal yang haram, misalnya memandang wanita, maka hal itu merupakan salah satu panah setan. Rasulullah ` bersabda:

اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ

 “Pandangan mata adalah salah satu panah beracun Iblis.” (Hadits dha’if dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/313 dan Al-Qadha’I dalam Musnad Asy-Syihab 1/265)

Betapa banyak laki-laki yang memandang wanita kemudian terjerumus dalam perkara yang haram  yang berupa zina (kita berlindung kepada Allah). Hal itu berawal dari kekaguman terhadap wanita kemudian berakibat terjerumusnya ia dalam dosa besar.

Dosa mata yang lain adalah memandang  rendah orang lain.  Seringkali terpedaya dan ujub telah membuat seseorang memandang rendah orang lain. Misalnya karena merasa memiliki gelar kesarjanaan yang tinggi, kedudukan tinggi atau harta yang banyak, kemudian ia memandang orang lain dengan remeh, bila berpapasan dengan orang lain lewat begitu saja tapa mau mengucapkan salam.

Padahal Rasulullah ` bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِم

“Seseorang cukup dinilai buruk bila ia merendahkan saudara muslim lainnya.” (HR Muslim No. 4650)

Maksudnya seandainya anda tak memiliki keburukan sedikitpun, tak memiliki dosa sedikitpun  namun dalam waktu yang sama anda memandang orang lain dengan rendah, anda merasa lebih dibanding orang lain maka hal itu sudah cukup menjadi keburukan anda yang membinasakan. Hal itu semua termasuk perkara yang Rasulullah meminta perlindungan kepada Allah.

Selanjutnya Rasulullah ` bersabda: “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan lisanku”. Perhatikan wahai saudara sekalian! Bagaimana Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan lisan. Lisan merupakan salah satu sebab utama terjerumusnya seseorang dalam jurang neraka. Banyak kemaksiatan dan dosa yang disebabkan oleh lisan. Dusta disebabkan oleh lisan, ghibah disebabkan lisan, namimah (adu domba) juga disebabkan oleh lisan dan masih banyak lagi. Semua itu menegaskan perlunya manusia untuk meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan lisan.  Rasulullah ` tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan”.

Poin selanjutnya Rasulullah ` berlindung kepada Allah dari kejahatan hati, yaitu hati yang tak berorientasi kepada Alah. Hati yang hasad dengan apa yang ada pada orang lain. Banyak sekali penyakit hati, penyakit kemunafikan, penyakit riya’, penyakit was-was dan lain sebagainya. Semua itu karena hanya Allah l saja yang mengetahu hati seseorang.

Terakhir beliau berlindung kepada Allah dari kejahatan air mani, dari menumpahkannya dalam perbuatan yang diharambakn, yaitu zina atau apa saja yang menjadi pintu menuju perzinaan.  Perhatikan, semoga Allah merahmatimu, Rasulullah memohon perlindungan dari kejahatan seluruh anggota badan tersebut di atas. Ingatlah bahwa semua itu akan menjadi saksi di hadapan Allah l kelak pada hari perhitungan. Oleh karena itu marilah kita semua lebih waspada dan mari kita hapalkan doa ini serta kita ulang-ulang do’a ini kapanpun dan di manapun kita berada. Bila Allah telah menjaga kita dari itu semua kita akan menjadi manusia-manusia yang siap untuk mendapatkan rahmat Allah, masuk ke surga-Nya. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan taufik kepada kita agar mampu melaksanakannya. Walhamdulillahirabbil alamin.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bulir-Bulir Air Mata Kenangan

Aman Haro Kalyubi

Tak selamanya tangis air mata itu menandakan kelemahan. Juga tak selalunya melambangkan sifat cengeng. Bahkan ia tidak bisa dimonopoli hanya untuk mereka yang diciptakan dari tulang rusuk. Namun terkadang ia datang melambangkan keksatriaan, menggambarkan ketegaran, melukiskan rasa cinta, harap dan terkadang rasa takut. Maka tak selamanya air mata tak boleh tertumpah.

Seingatku, dua kali aku meneteskan air mata dalam perjalananku berburu warisan Nabi. Setidaknya itu yang menurutku paling berkesan dalam memori sejarah hidupku.

Pertama kali, air mataku menitik ketika aku duduk di kelas 1 MTs. Kala itu pelajaran sedang berlangsung. Entah karena faktor apa, teman-temanku begitu susah untuk serius mendengar penjelasan ustadz. Penjelasan ustadz pun tak berbanding dengan ramainya obrolan temanku. Karena merasa tak mendapat penghargaan dalam penjelasannya, diam menjadi pilihan ustadzku hingga pelajaran berakhir.

Kala itu semangatku dalam thalabul ilmi (menuntut ilmu) masih membara. Sontak aku tak tega membiarkan ustadz memendam kesedihan karena ulah teman-temanku. Kutemuinya di kantor, ku meminta maaf atas ulah teman-temanku. Diam tetap menjadi pilihannya. Hanya beberapa patah kata yang terucap dari bibirnya. “Ya, semoga kamu jadi santri yang baik.” ucapnya. Kuambil air wudhu dan memojokkan diri di sudut masjid. Ku menangis, marah, jengkel kepada mereka yang membuatku terputus dari ilmu. Aku berdoa, semoga mereka dapat mengambil hikmah dari pilihan ustadz mendiamkan mereka. Dan aku berharap semoga ini terakhir kalinya ustadzku terhalang menyampaikan ilmunya tersebab ulah santrinya.

Dulu aku memang begitu rakus terhadap ilmu. Selama KBM tak sekalipun kepalaku bersentuhan dengan meja untuk menuruti nafsu tidurku. Pelanggaran (aturan pondok –edt) pun bisa dihitung dengan jari karena aku benar-benar menghargai proses thalabul ilmi yang menjadi poros kehidupanku. Namun, seiring pergantian waktu, pergaulanku dengan berbagai model manusia yang tak semuanya memberi pengaruh positif menjadikan perhatianku pada thalabul ilmi memudar. Mulai berani kurebahkan kepalaku berbantal buku yang nyaman. Perlahan pelanggaran demi pelanggaran mulai bergantian mengisi hidupku. Semangatku berthalabul ilmi mulai meredup.

Hingga 4 tahun setelah bulir-bulir air mata pertama jatuh. Allah menyadarkanku dengan teguran yang sangat keras melalui hamba-Nya. Suatu hari, di saat pelajaran, entah kenapa aku tidak memiliki ghirah (semangat –edt)  untuk khusyuk mendengar penjelasan ustadz. Mungkin karena tugas yang begitu menumpuk, masalah yang belum juga kelar teratasi, tuntutan yang belum juga terpenuhi atau karena memang aku tak membawa buku pegangan. Semua itu bercampur menjadikan penjelasan ustadz begitu membosankan. Di saat itu menyembullah dari laci seorang kawan sebuah majalah. Daripada suntuk, kupinjam majalah itu untuk mengisi kekosongan otakku.

Kubaca dengan pedenya meskipun aku berada di deret bangku pertama. Kubaca dari awal pelajaran hingga menjelang akhir. Karena merasa tak diacuhkan, ustadz mendatangiku dengan raut wajah yang sulit kugambarkan. Dengan suara bariton, ia menegurku begitu dalam “Baca apa Akhi..? Majalah..? Antum meremehkan pelajaran saya..? Kalau antum merasa pinter, keluar..! Saya nggak butuh santri model kayak antum, lebih baik yang tidur daripada antum yang meremehkan.. Lebih baik antum keluar tidak ikut pelajaran saya daripada antum di sini menambah dosa..”

Bisa kalian bayangkan sobat? Betapa perihnya mendapat teguran seperti itu, susah untuk kubahasakan. Kuterdiam hingga pelajaran usai. Dalam diam, hatiku bergemuruh, sulit untuk menggambarkan cuaca yang melingkupi hatiku saat itu. Yang jelas aku begitu malu, malu dipermalukan seakan halnya pesakitan diadili dihadapan hakim dan penonton. Dalam emosi sesaat aku mengumpat, (dalam hati tentunya) “Beginikah cara ustadz mengingatkan muridnya,,? Tak bisakah menggunakan cara yang lebih santun yang tak menyuntikkan rasa malu bagi yang menerimanya..? Aku bukan Umar yang siap menerima kritik nasehat dihadapan rakyatnya. Dan aku bukan koruptor yang tanpa malu mengacungkan jempolnya mendapat vonis penjara.”

Setelah ustadz pergi, aku memojokkan diri, kukumpulkan kesadaran untuk bisa bangkit. Aku pun tersadar, aku memang salah, akulah yang membuatnya berbuat seperti itu. Aku berusaha menghilangkan dendam yang telah bersumbu. Dan aku menangis untuk kedua kalinya, bukan karena cengeng, bukan karena sakit hati atau merasa terhina diperlakukan tidak pantas, namun kuteringat tangis pertamaku. Dulu kumenangis karena jengkel pada mereka yang tak menghargai ustadz. Namun kini justru akulah biangnya yang paling meremehkan ustadz. Sifat yang dulu sangat kubenci. Dua tangis yang berbeda makna, namun justru tangisan kedua yang membuatku begitu bersyukur, akal sehatku berfungsi. Mana mungkin seorang ulama meremehkan ilmu dan pemiliknya. Semangat itu kembali, rancangan Alloh memang begitu indah.

Kutata kembali hatiku yang telah hancur. Kurangkai kembali puzzle-puzzle hikmah yang terserak. Aku yakin ini adalah anugerah terindah dari Allah untuk membangkitkan kembali ghirahku dalam thalabul ilmi. Teguran yang menjadikanku sadar bahwa istiqamah itu sungguh berat. Terakhir, melalui tulisan ini aku meminta maaf, terutama kepada ustadz yang menegurku. Maaf, sampai saat ini aku belum bisa meminta maaf. Bukan karena sombong, bukan karena benci ataupun dendam. Namun begitu kaku lidah ini berbicara kepada orang yang pernah menorehkan luka yang begitu dalam. Kumeminta maaf dalam diam. Sekali lagi, aku meminta maaf.