Hari ini banyak kaum muslimin yang ketika dikritik akan perbuatan yang telah dilakukannya dia tidak terima dan marah. Padahal kritikan yang ditujukan kepada kita pasti memiliki alasan dan sebab musababnya.

Nah kali ini majalah taujih akan memberikan artikel mengenai Adab-adab seorang muslim ketika sedang dikritik, apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang harus dihindari.

Terima Kritikan dengan Lapang Dada

Betapa banyak orang  yang tidak mau menerima kritikan dari orang lain. Mereka mengangap kritikan sebagai sikap merendahkan harga diri. Sehingga mereka enggan dan gengsi menerimanya. Padahal kritikan adalah obat bagi diri. Dengan kritikan seseorang akan bisa mengoreksi kekurangan-kekurangannya kemudian memperbaikinya. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang pencari ilmu selalu membuka diri untuk menerima kritikan dari orang lain.

Apalagi Rasulullah SAW  telah bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ

“Orang mukmin itu merupakan cermin bagi mukmin lainnya.”  (HR. Abu Dawud)

Atau dalam lafazh lain disebutkan:

إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِنْ رَأَى بِهِ أَذًى فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ

“Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya.” (HR. At Tirmidzi)

Seorang mukmin sebagai cermin bagi mukmin lainnya artinya ia berfungsi untuk melihat kebaikan dan keburukan saudaranya dan menjelaskannya. Dan penjelasannya berupa nasehat yang jelas. Demikian pula ia bisa melihat pada saudaranya apa yang tidak bisa dilihat pada dirinya. Sebagaima ketika menulis di atas cermin, maka akan ada bayangan pada cermin tersebut, sehingga ia bisa melihatnya. Sesungguhnya seseorang akan mengetahui aib dirinya dengan diberi tahu oleh saudaranya. Sebagaiamana ia mengetahui sesuatu yang ada di wajahnya dengan melihat cermin. (Aunul Ma’bud)

Begitu pula diriwayatkan Bukhari :

إِذَا اسْتَنْصَحَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَنْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu minta nasehat maka nasehatilah.”

Demikianlah di antara sifat orang mukmin. Yaitu mau menerima kritikan, nasehat dan peringatan dari orang lain. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانً

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)

Imam Jalaluddin Al-Mahalli rhm berkata, “Maksudnya, (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan) diberi nasihat dan pelajaran (dengan ayat-ayat Rabb mereka) yakni Alquran (mereka tidak menghadapinya) mereka tidak menanggapinya (sebagai orang-orang yang tuli dan buta) tetapi mereka menghadapinya dengan cara mendengarkannya sepenuh hati dan memikirkan isinya serta mengambil manfaat daripadanya.” (Tafsir Jalalain, vol. 6, hal. 427)

Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i Ad-Dimasyqi RHM berkata, “Adapun firman Allah pada ayat ini, hal ini pun merupakan salah satu dari sifat dan ciri khas orang-orang mukmin, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)

Para salaf pun begitu lapang dada menerima kritikan dari orang lain. Salah satunya adalah Amirul Mukmini Umar bin Al Khaththab. Beliau merespon positif nasehat, peringatan dan kritikan, tanpa memandang dari siapa kritikan tersebut berasal.

Al Imam Al-Hafidz Jaluliddin As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya, Ad-Durrul Mantsûr fî Tafsîril Ma’tsûr, saat menjelaskan Surat an-Nisa’ ayat 20 menyinggung kisah respon seorang perempuan terhadap isi pidato Umar bin Khaththab.

Suatu hari Umar bin Al Khaththab naik ke atas mimbar lalu berpidato di depan khalayak. “Wahai orang-orang, jangan kalian banyak-banyak dalam memberikan mas kawin kepada istri. Karena mahar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sebesar 400 dirham atau di bawah itu. Seandainya memperbanyak mahar berniliai takwa di sisi Allah dan mulia, jangan melampaui mereka. Aku tak pernah melihat ada lelaki yang menyerahkan mahar melebihi 400 dirham.”

Dalam riwayat lain, Sayyidina Umar mengancam akan memangkas setiap kelebihan dari mahar itu dan memasukkannya ke baitul mal.

Seorang perempuan Quraisy berdiri lalu melontarkan protes ketika Sayyidina Umar turun dari mimbar. “Hai Amirul Mu’minin, kau melarang orang-orang memberikan mahar kepada istri-istri mereka lebih dari 400 dirham?”

“Ya.” Jawab khalifah Umar.

Wanita itu menukas “Apakah kau tak pernah dengar Allah menurunkan ayat:

وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا

“… Kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar)…” (QS an-Nisa’: 20)

Mendapat protes dari seorang wanita, Umar pun membaca istighfar dan berujar, “Tiap Orang lebih paham ketimbang Umar.”

Ini adalah ungkapan Umar bin Al Khaththab yang rendah hati dan karakter kepemimpinannya yang tidak antikritik. Dalam riwayat lain ia mengatakan, “(Kali ini) perempuan benar, lelaki salah.”

Selanjutnya khalifah kedua ini kembali ke atas mimbar dan berkata, “Wahai khalayak, tadi aku larang kalian memberikan mahar kepada istri melebihi 400 dirham. Sekarang silakan siapa pun memberikan harta (sebagai mahar) menurut kehendaknya.”

Dan ini merupakan akhlak para salafus shalih kita radhiyallahu anhum, mereka sangat mudah sekali tunduk dan patuh terhadap nasihat dan ayat-ayat Allah, tidak ada rasa gengsi atau merasa harga dirinya direndahkan. Bahkan walaupun yang menasihatinya adalah seorang wanita.

Oleh karena itu jangan malu minta nasehat dan kritikan dari orang-orang yang agama, wawasan dan amanahnya dapat dipercaya. Jika ada seseorang yang hendak menasehatimu maka terimalah dengan baik. Jika apa yang dikatakannya benar maka pujilah Allah. Sedangkan jika apa yang dikatakannya salah maka pahalanya bagimu dan dosanya bagi dia. Jangan pernah menutup diri dari kritikan orang karena itu adalah wahana untuk selalu memacu berbenah diri.  Wallahu a’lam bish shawwab.

 

 

 

Beratnya menjadi seorang pendidik sudah tidak dipertanyakan lagi. Amanah berat , butuh bekal yang mantab. Bekal yang tidak sedikit  seperti  ilmu , mental perwira , kerja keras , dan satu lagi , keteladanan.

Kata pepatah , “ guru terbaik adalah pengalaman “ memang , dan pelajaran terbaik ialah sebuah keteladan

Keteladanan tidak boleh luput dari sebuah proses Pendidikan . sebab , ia adalah jantung utama terbentuknya generasi yang kita harapkan juga merupakan kunci daripada keberhasilan seorang pendidik. Tumpukan materi pelajaran yang banyak , teori yang setiap hari diberikan  , nasehat-nasehat emas tak akan berarti apa-apa selama keteladanan yang baik belum dapat ditularkan.

Apalagi , disebuah lembaga Pendidikan yang berbasis pesantren , keteladanan menjadi “ PR “ wajib bagi para pendidik di pesantren tersebut.  Terlebih , para ustadz atau ustadzah muda , yang notabennya 24 jam Bersama para santri. Keteladanan harus menjadi objek yang perlu untuk lebih diperhatikan.

Jangan sampai ada santri yang melakukan suatu pelanggaran , namun mengelak ketika disidang dengan berdalih . “ ustadz nya aja juga kayak gitu kok,, masak kita gak boleh “

Jangan meremehkan hal-hal yang mungkin kita anggap kecil dan tak berarti , namun sejatinya hal tersebut begitu membekas pada diri para santri.

Tularkan dan tunjukkan keteladanan yang baik , sekecil apapun walaupun hanya sekedar memberi salam dan  sapaan atau senyuman manjs ketika kita bertemu dengan santri. Atau hal-hal baik lainnya seperti kepekaan , kebersihan atau berupa kebaikan- kebaikan semisal , bukan sebagai ajang pamer diri , tapi memang ini adalah salah satu tahapan dari proses Pendidikan yang harus  dijalani.

Berat memang , tapi itulah resiko sebagai seorang pendidik sejati. Harus dengan maksimal dapat menjalankan segala kebaikan yang telah diajarkan.

Intinya , mari segera perbaiki diri juga memantaskan diri agar bisa menjadi sosok pendidik yang kebaikannaya dapat mewarnai jiwa – jiwa para santri.

Mentelaah siroh para Nabi , para shahabat , para shalafus sholih , menjelajahi kisah hidup mereka , Insya Allah akan dapat kita temui berbagai macam akhlaq mulia mereka yang dapat kita jadikan contoh dan pedoman hidup.

Jangan mentang-mentang sudah bergelar ustadz atau ustadzah lalu beranggapan bahwa semua hal dapat dilakukan.

Semoga , ini dapat menjadi cambukan bagi diri saya pribadi juga pembaca sekalian.  Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita kekuatan dan keistiqomahan dalam mengemban amanah mulia ini. Amiin

نسأل الله من فضله العظيم

Penulis Fathimah Khofifah diposting oleh majalah Taujih

Artikel ini adalah jawaban yang diajukan oleh pembaca majalah taujih kepada redaksi. Berikut ini adalah hukum berpuasa di bulan rajab berikut dengan dalil syar’i nya. Semoga artikel ini menjawab pertanyaan tersebut dan bermanfaat juga bagi para pembaca lainnya yang sedang memiliki pertanyaan yang sama.

Dan jika bagi para pembaca sekalian ada pertanyaan seputar keagamaan silhakan dikirimkan kepada redaksi di link berikut ini

Ajukan Pertanyaan ke majalah Taujih

Pertanyaan Pembaca

Assalamualaikum wr wb
afwan ust saya mau bertanya
apa hukum puasa di bulan rajab?
apakah ada dalil shahih tentang puasa rajab?
dan apa saja keutamaan puasa di bulan rajab?
kemudian apakah saya harus berpuasa di bulan rajab
terima kasih ust

 

Jawaban dari team redaksi terkait hukum berpuasa di bulan rajab

💡Hukum puasa bulan rojab :
1. Hukum puasa bulan rojab tidak full satu bulan : para ulama 4 madzhab sepakat kesunnahannya.

2. Hukum puasa bulan rojab full satu bulan : ada ikhtilaf dikalangan ulama, sebagian berpendapat Sunnah, sebagian berpendapat makruh.

💡Dalil masyru’nya puasa Rajab ada 3 macam :
1. Dalil umum, yakni dalil masyru’nya puasa dan dianjurkannya puasa secara umum. (Ini banyak yg shohih)

2. Dalil sunnahnya puasa di bulan haram, dan Rajab termasuk bulan haram (dalil keutamaan bulan haram banyak yg shohih).

3. Dalil anjuran puasa bulan rojab secara khusus, semuanya dhoif, imam Tajudin As Subki menukil perkataan Imam Muhammad bin Manshur as sam’ani yang bunyinya :

لم يرد في استحباب صوم رجب على الخصوص سنة ثابتة، والأحاديث التي تروى فيه واهية لا يفرح بها عالم.

Berkata imam Ibnu Hajar Al ‘asqalani :

لم يرد في فضل شهر رجب , ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين , ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة
💡keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus haditsnya dhoif. Dalil” keutamaan puasa secara umum, dan puasa di bulan Haram berlaku juga di bulan Rajab.

💡Apakah harus puasa di bulan rajab, jawabnya : tidak. Karena puasa di bulan Rajab hukumnya Sunnah, bukan wajib..

Semoga artikel yang singkat ini mampu menjawab pertanyaan dari para pembaca sekalian.

Wallahu a’lam.

 

Ingin Menjadi Orang yang Atqiya’ Akhfiya’

Ada sebagian orang  tua yang menyekolahkan anaknya ke pesantren, dengan harapan kelak anaknya menjadi ustadz dan ustadzah. Mereka berharap, anaknya menjadi pengajar atau penceramah yang mendakwahkan agama ke berbagai pelosok Nusantaran. Perlu dipahami, tidak semua alumni Pondok Pesantren Islam menjadi Ustadz dan Ustadzah. Banyak Alumni Pondok Pesantren yang menjadi pengusaha, ahli IT, Entepreneur, pedagang dan lain sebagainya.

Untuk edisi kali ini Team Risalah Taujih Darusy Syahadah mengangkat profil seorang Alumni yang mempunyai keahlian dalam bidang usaha. Beliaulah yang menahkodai Perusahaan Ivorie, perusahaan yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Beliau adalah Muhammad Anwar As-Shidiqi.

Muhammad Anwar As-Shidiqi adalah salah satu Alumni Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah Gunung Madu, Kedunglengkong, Simo, Boyolali, Jawa Tengah. Alumni yang biasa disapa Ust. Anwar ini terlahir di kota Magelang Jawa Tengah. Beliau bersama Ust. Toyyib Pranoto yang merintis Perusahaan Ivorie Salah satu unit usaha Ponpes Darusy Syahadah yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Ust. Anwar merupakan alumni angkatan ke-empat yang mahir dalam menejemen perusahaan, khususnya dalam bidang ekonomi syariah.

Perjalanan pendidikan beliau dimulai dari kota kelahiranya, yaitu di SD Muhammadiyah Secang Kabupaten Magelang. Untuk jenjang menengah pertama beliau belajar di Ponpes Al-Mukmin Ngruki, sebuah lembaga pendidikan Islam yang terletak di kota Solo. Setelah tamat dari bangku menengah pertama, beliau memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu di Simo, Boyolali. Kuliayatul Mualimin Al Islamiyyah (KMI) Ponpes Darusy Syahadah merupakan program pendidikan yang beliau pilih.

Beliau pun sangat berkesan mondok di Darusy Syahadah. Di antara moment yang paling berkesan bagi beliau adalah bersama teman seangkatan yang usianya lebih tua. Santri DS yang usianya 30an, biasa dipanggil pak. Sehingga ketika dipanggil kak, agak risi dan gimana gitu, ujarnya.

Kemudian masuk sapala adalah kebanggaan tersendiri bagi seorang santri. Dan apalagi jumat keluar makan ayam di terminal. Pada saat itu seharga Rp. 1.500 nikmatnya tidak terlupakankenangnya.

Empat tahun beliau belajar di ponpes Darusy Syahadah. Setelah puas meminum air dari lautan ilmu di Darusy Syahadah, beliau mendapat amanah untuk wiyata bhakti di Pondok Pesantren Al-Muttaqin Jepara. Pada tahun ke dua penugasan, beliau pindah tugas di pondok tercinta yaitu Darusy Syahadah.

Di sela-sela tugasnya, beliau senantiasa belajar dan belajar. Beliau sadar tidak ada ilmu yang didapat dengan bersantai-santai. Karena haus terhadap ilmu, beliau memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau melanjutkan kuliah di Universitas Abu Bakar Karachi Pakistan. Dengan harapan beliau mampu menjadi manusia yang berguna bagi kaum muslimin. Di negeri Seribu Cahaya tersebut beliau belajar kepada masyayikh. Beliau menghadiri masjlis taklim, mendatangi rumah masyayikh meskipun harus berjalan jauh demi untuk mendapatkan sebuah ilmu. Susah senang dalam menuntut ilmu beliau nikmati bersama beberapa teman karibnya, di antaranya Ust. Auliya’ Syuhada (Direktur Fundraising Darusy Syahadah saat ini).

Baru tiga bulan di Pakistan, karena suhu politik di negeri tersebut, beliau tidak dapat melanjutkan studi. Beliau harus meninggalkan bangku kuliah dan majelis taklim bersama masyayikh. Sedih dan kecewa yang beliau rasakan. Karena harus kehilangan kesempatan emas mendulang ilmu dari ulama’-ulama’ Pakistan. Akhirnya beliau pun pulang ke Indonesia.

Banyak pengalaman dan pelajaran selama di Pakistan. Mulai dari perjuangan menuntut ilmu, jauh dari sahabat dan keluarga. Setelah pulang ke Indonesia beliau kembali mengabdikan dirinya di Darusy Syahadah. Beliau sadar dari Darusy Syahadah lah satu persatu mimpinya terwujud.

Tahun 2004 merupakan moment bersejarah bagi Beliau. Beliau menyempurkan separuh agamanya, yaitu menikah dengan seorang wanita asal Magetan. Dan saat ini beliau telah dikaruniai lima orang anak, 1 laki-laki dan 4 perempuan. Semoga anak-anak beliau, kelak menjadi anak yang sholih dan sholihah. Aamiin.

Aktvitas beliau saat ini sebagai pimpinan percetakan Ivorie, salah satu unit usaha milik Darusy Syahadah. Selain itu beliau juga menjadi ketua IKADS 2.0 (Ikatan Alumni Darusy Syahadah).

Beliau berpesan kepada santri-santri Darusy Syahadah, dengan mengutip perkataan dari sahabat Umar bin Khathab, “Wahai anak-anakku belajarlah ilmu agama yang benar dan luangkan waktu untuk itu, jikalau seandainya hari ini engkau menjadi orang yang kecil maka suatu waktu Allah akan jadikan kalian orang yang besar karena ilmu. Dan sungguh buruk sekali apakah ada orang tua yang lebih bodoh, tidak mengerti agamanya? Hati-hati jangan pernah kalian melihat amal yang kalian kerjakan atau shodaqoh yang kalian keluarkan, jangan anggap remeh tapi jadikanlah shodaqoh itu sebagai hadiah yang kalian berikan kepada Allah SWT. Dan janganlah kalian memberikan hadiah untuk Allah yang engkau malu untuk memberikan kepada pemimpin kaum atau pejabatnya kaum, karena Allah adalah zat yang paling pantas untuk dimuliakan. Dia adalah dzat yang paling layak dan pantas untuk memberikan balasan yang lebih mulia dan yang paling pantas kalian berikan hadiah yang terbaik.

Kemudian beliau mengatakan, “Wahai anak-anakku kalau kalian melihat seseorang dari perbuatan baiknya maka pasti jadikan orang itu baik. Berprasangka baiklah kepada orang itu, walaupun di mata orang ia dianggap buruk, karena perbuatan baiknya pasti punya saudara-saudara kebaikan yang lain. Kalau kalian melihat perbuatan buruk dari seseorang laki-laki hati-hatilah dari orang itu, walaupun di mata manusia dia adalah orang yang baik. Karena perbuatan buruk itu punya saudara-saudara yang ikut denganya. Ketahuilah!! bahwasanya kebaikan itu akan mendatangkan saudara-saudaranya dan seluruh dosa-dosa memiliki saudara-saudaranya”.

Terakhir beliau meminta kepada Asatidzah yang telah mendidiknya, “Jangan bosan-bosan menasihati kami agar menjadi orang-orang yang Al Adzkiya Al Akhfiya (orang yang bertaqwa dan tidak terkenal)”

Di kalangan santri maupun asatidzah Darusy Syahadah beliau mungkin tidak begitu dikenal. Hanya sedikit yang mengenal beliau. Tapi andil beliau bagi Ponpes Darusy Syahadah sangat besar. Beliau menjadi nahkoda di salah unit usaha pondok yaitu percetakan Ivorie. Inilah salah satu sosok Alumni Darusy Syahadah yang sangat luar biasa. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari profil alumni pada edisi kali ini dan semoga menjadi pelecut semangat dalam bertholabul Ilmi dan berkhidmat untuk umat.(afillah)

Diedit dan di posting oleh : hafidz bey

 

Iffah Menjaga Kehormatan Diri

Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras banyak memunculkan perilaku umat yang melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh, maka yang lebih berat dari sekedar meminta-minta seperti korupsi, mencuri, merampok, dan lain sebagianya tentu lebih menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan tersebut semakin banyak dilakukan. Termasuk maraknya perilaku kaum wanita, hanya demi menginginkan enaknya hidup, mereka rela melakukan perbuatan yang menghilangkan kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga kemuliaan diri mereka.

Secara etimologis, ‘iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-Iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, iffah juga berarti kesucian tubuh. Adapun secara terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Dengan demikian, seorang yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang merusak dan meredahkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah swt  berfirman,

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ

“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (an-Nur: 33)

Termasuk dalam makna ‘iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.  Allah Swt berfirman:

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

“Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia).” (Al-Baqarah: 273).

Dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri ra mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah Saw. Tidak ada seorang pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah Saw melainkan beliau berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau. Rasulullah saw pun bersabda kepada mereka:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لا أدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّه مَنْ يَسْتَعِفّ يُعِفّه اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرُ يُصَبِّرَهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 , 6470 dan Muslim no. 1053 , 2421)

Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di ra mengatakan: “Hadits yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak faedah lagi manfaat.

Pertama: Ucapan Nabi saw

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ

“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka Allah swt akan menganugerahkan kepadanya iffah.”

Kedua: Ucapan Nabi saw

وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

“Siapa yang merasa cukup, Allah ta’ala akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).”

Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada keikhlasannya kepada Allah ta’ala, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepada-Nya saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba sepantasnya berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang mengantarkannya kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah swt semata, merdeka dari perbudakan makhluk.

Iffah merupakan  akhlaq paling tinggi dan dicintai Allah swt. Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap keinginan-keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah dewasa. Dari sifat iffah inilah akan lahir sifat-sifat mulia seperti: sabar, qana’ah, jujur, santun, dan akhlak terpuji lainnya.

Ketika sifat iffah ini sudah hilang dari dalam diri seseorang, maka akan membawa pengaruh negative dalam diri seseorang tersebut, dikhawatirkan akal sehatnya akan tertutup oleh nafsu syahwatnya, ia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah, mana baik dan buruk, yang halal dan haram.

Dengan memiliki sifat iffah seorang yang sudah dewasa akan mampu menahan dirinya dari dorongan syahwat, mengambil hak orang lain dan sebagainya. Namun ketika sifat itu sudah tidak dimiliki lagi maka secara otomatis pula tidak ada lagi daya tahan dalam dirinya. Sehingga pada saat sekarang ini banyak kita jumpai perilaku menyimpang yang menjadikan seseorang kehilangan dari harga dirinya.

Demikianlah urgensinya dari sifat iffah ini, kita berlindung kepada Allah swt agar bisa menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa merendahkan marwah dan martabat kita sebagai seorang muslim. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin

 

 

 

Kesungguhan para ulama terdahulu untuk mendalami ilmu pengetahuan sangatlah besar. Mereka rela mengorbankan banyak waktu dan tenaga mereka untuk membaca dan mendalami ilmu-ilmu syar’i.

Membaca merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh para penuntut ilmu jika mereka ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan berkah.

Alasan kenapa kita sebagai penuntut ilmu harus membaca adalah karena ilmu itu didapat dengan banyak cara. Dan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca buku-buku pengetahuan yang ada.

berikut ini kita akan membahas satu ulama dari ribuan ulama yang ada, yang mana ulama ini memiliki kekuatan yang luar biasa, memiliki semangat yang sangat membara untuk menuntut ilmu dan mempelajarinya.

Al Khatib Al Baghdadi Khatam Shahih Al-Bukhari dalam 3 Kali Pertemuan

Ada sebuah Mahfudzat atau kata mutiara arab yang berbunyi:

                                                  خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ

“Sebaik-baik teman duduk setiap waktu adalah buku”

Dari kata mutiara di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa buku sangat bermanfaat untuk manusia. Buku akan memberikan kebahagiaan bagi manusia yang mau berteman denganya.

Al Jahizh seorang cendikiawan arab merangkai sebuah ungkapan indah untuk menggambarkan tentang buku, ia berkata “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kamu miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan”.

Di Antara kebiasaan para ulama adalah mengisi waktu duduk “mereka dengan membaca buku-buku tebal dari berbagai disiplin ilmu} yang ada (terutama dari buku-buku hadits yang bersanad). Maka tidak mengherankan jika banyak manusia yang mengambil buku-buku hadits tersebut dari pengarangnya secara langsung, atau dari seseorang yang memih‘ki riwayat bersambung sanadnya. Baik dia menden’garkan semua atau sebagian darinya, atau melalui rekomendasi sebagian atau seluruhnya. Semakin berkurangnya majelis ilmu serta pengkajian buku-buku para ulama itu menjadi satu paket dengan semakin mundurnya zaman yang disebabkan. Di samping semakin surutnya peredaran buku bacaan yang membahas hadits, terutama buku-buku yang sudah masyhur, atau yang ditulis oleh ulama tersohor yang tidak diragukan lagi keilmuannya.

Sebuah majelis ilmu bisa berlangsung lama, juga bisa berlangsung singkat, yaitu sesuai dengan tujuan dari pengkajian, senggangnya waktu sang syaikh, kesiapan penuntut ilmu, serta sulit mudahnya tema buku yang dibahas.“”1

Tidakdiragukanlagibahwa membaca danmembahas buku-buku tebal hanya dalam beberapa pertemuan, tentunya membutuhkan banyak faktor, baik faktor tersebut dari syaikh maupun penuntut ilmu itu sendiri. Di antara faktor tersebut adalah pengetahuan terhadap buku yang dibaca, kuatnya ingatan, kefasihan bahasa, serta kecepatan membaca. Faktor lain yang juga ikut menentukan adalah tekad kuat, cita-cita tinggi, dan kesabaran. Barangsiapa telah memenuhi semua kriteria ini, niscaya besi yang keras akan menjadi lunak, dan perkara yang sulit akan menjadi mudah.

Nama beliau adalah Abu Bakar Muhammad Ahmad bin Ali bin Tsabit, terkenal dengan nama “Al Khathib Al Baghdadi”. Ia yang menulis kitab terkenal Kitab Tarikh Baghdad.

Ia lahir pada tahun 392 H di Iraq  dan  Ayahnya bernama Khatib Darzanjan menyuruh anaknya memperdalam ilmu hadits sejak kecil (tahun 403H). Ia mengembara ke bebagai wilayah untuk memperdalam ilmu hadits.

Ia menyimak hadits dari sejumlah besar kalangan muhadditsin yang tsiqah dari berbagai wilayah seperti Baghdad, Bashrah, Naisabur, Ashbahan, Dainur, Hamadan, Kufah, Haramain, Damaskus, al Quds dan lain lainnya. Ia juga merantau ke Syam (Syiria) pada tahun 451 H dan menetap disana selama 11 tahun.

Dalam Tarikh Baghdad163 pada biogran Ismail bin Ahmad lbnu Abdullah Adh-Dharir Al-Khiri (w. 430 H), Al-Khatib menceritakan bahyvasanya beliau ingin memperdengarkan bacaan Shahfh AlBukhari-‘Lyang dia dengar dari AI-Kusymihani164 yang bersumber dari AI-Firabri‘SS-pada Ismail bin Ahmad. Kemudian Syaikh Ismail pun memenuhinya. Dalam ceritanya itu Al-Khatib berkata, “Aku membaca seluruhnya dalam tiga kali pertemuan, dua darinya pada dua malam, yang aku mulai sesudah shalat Maghrib dan aku hentikan ketika shalat Subuh hampir tiba. Pada pertemuan ketiga sebelum aku membaca, Syaikh Ismail bin Ahmad beserta rombongan pergi ke tepi timur dan bersinggah di pasar Yahya di sebuah pulau. Maka aku pun mengikuti beliau bersama teman-temanku yang ikut hadir pada pembacaan pertama dan keduaku yang Ialu. Pada kesempatan ketiga inflah aku membaca di hadapannya sejak waktu Dhuha hingga menjelang Maghrib di pulau tersebut. Kemudian dilanjutkan setelah Maghrib sampai terbit fajar Subuh. Aku pun mengkhatamkan Shahfh Al-Bukhari pada hari itu. Dan keesokan hafinya Syaikh melanjutkan perjalanannya bersama rombongan.”

Sungguh alangkah tinggi dan jauhnya cita-cita ini! Apakah Anda pernah mendengar seseorang yang memiliki cita-cita dan tekad seperti beliau? Di hari ketiga beliau habiskan waktunya » untuk membaca (dari waktu Dhuha sampai Maghrib, dari Maghrib sampai menjelang shalat Subuh). Dengan cita-cita ini, Al-Khatib telan menggapai apa yang diidam-idamkannya. Dengan cita-cita in; juga beliau\mendapat julukan Hafizh AI-Masyriq. Dengan cita-cita ini pula beliau menjadi rujukan dan sandaran para ahli hadits. Bahkan, mereka sangat bergantung dengan buku-buku yang beliau tulis, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Nuqthah.167

 

Komentar-komentar tentang kisah ini:

  1. Al-Hafizh Adz-Dzahabi di dalam As-Siyar168 mengomentari kisah ini, “Demi Allah, ini adalah bacaan tercepat yang belum pernah terdengar sebelumnya.”
  2. Dalam Tarfkh AI-Islam‘69 beliau juga menuturkan, “Menurutku ini adalah bacaan yang tak seorang pun mampu melakukannya pada zaman ini.”
  3. Dalam AI-Jawahir Wa Ad-Durar FT Tariamah Syaikh Al-lslam lbn Hajar‘7° As-Sakhawi pernah bertanya kepada gurunya, Ibnu Hajar, “Apakah Anda pernah menghabiskan waktu seharian penuh untuk membaca? (maksudnya seperti yang dilakukan oleh AI-Khatib).” Ibnu Hajar menjawab, “Tidak pernah. Tetapi aku pernah mengkhatamkan Shahfh Al-Bukhdrf da’lam sepuluh kali pertemuan. Sekiranya dahulu dirutinkanmungkinakankurangdarisepuluhharitersebut.Bagaimana mungkin bintang yang ada di Iangit disamakan dengan tanah yang selalu di bawah? Sungguh AI-Khatib as sangat bagus bacaannya¢ bisa dimengerti, dan dipahami oleh para pendengarnya.”

 

Banyak ulama yang meriwayatkan hadits darinya termasuk gurunya sendiri Ahmad al Bargani (Baghdad), Ibnu Makula berkata,” Al Khatib adalah tokoh terkenal terakhir yang kami akui kepintarannya, hapalannya, ke dhabith annya tentang hadits hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, juga kelihaiannya dalam mengetahui illat illat dan sanad sanadnya, serta mengetahui akan shahih, gharib, ahad, mungkar atau matruknya sebuah hadits”. Ia melanjutkan ,” Tidak ada orang Baghdad setelah Daraquthni yang sekaliber al Khatib”.

Sebelum wafatnya ia menyedekahkan seluruh harta nya senilai 200 Dinar kepada para Ulama dan Kaum Faqir, bahkan ia berwasiat agar menyedekahkan kitab kitabnya kepada kaum muslimin.

Ia wafat pada tahun 463 H

 

 

 

Hidup mewah harta melimpah tidak menjamin akan sebuah kebahagiaan. Namaun sebaliknya Meski sedehana hidup apa adanya sabar dalam menghadapi ujian ikhlas mengerjakan apa yang ada, untuk mengharap ridho Allah SWT maka hidup akan terasa indah tanpa bermasalah. Berbicara sederhana tidak terlepas dari kehidupan di pesantren. Pesantren banyak mengajarkan arti sebuah kesederhanaan, banyak hikmah yang bisa kita petik dalam kehidupan pesantren, kesabaran, ketakwaan dan ketekunan adalah hal yang bisa di dapatkan ketika nyantri dalam menimba ilmu syar’i.

Kesederhanaan adalah hal yang lazim di jalani oleh ustad  mapun santri karena hakekatnya hidup di pesantren adalah untuk melatih diri menjadi orang yang sederhana dan apa adanya. Kehidupan pesantren berbeda degan kehidupan luar, kita bisa mengambil contoh ketika di pesantren tidak bisa leluasa melakuakan apa saja, semua yang di inginkan kita tahan, kesenangan dunia yang bersifat fana kita tingagalkan dan semua penuh dengan aturan dan larangan yang harus kita patuhi.  Berbeda dengan hidup di luar, sebelum mengenyam dunia pesantren kita leluasa melakukan apa saja, semua yang di inginkan asalkan ada uang maka semua bisa terpenuhi, pingin makan yang enak tinggal beli, pingin jalan-jalan tinggal keluar, pingin ini pingin itu semua serba bebas terpenuhi tanpa ada aturan dan larangan yang harus di patuhi.

Di samping belajar kesederhanaan di pesantren juga mengajarkan arti pentingnya kesabaran. Sabar dalam segala bidang yang mencakup rutinitas keseharian, kata sabar tidak terlepas dari kata antri. Sabar dan antri adalah dua kata yang tidak bisa di pisahkan di pesantren, mandi harus antri, makan harus antri semua aktifitas yang dikerjakan membutuhkan kesabaran dan perjuangan. Budaya antri adalah hal yang setiap hari bahkan setiap waktu di jalani  oleh semua santri, bayangkan ketika mandi harus antri berdiri di depan pintu dan berbaris untuk menunggu giliran, begitu pula ketika makan harus antri bermeter-meter bergantian satu sama yang lain hanya untuk mendapatkan satu piring nasi di temani sayur dan satu lauk sederhana.

Banyak hikmah yang hampir semua santri tidak berfikir arti kesederhanaan dan kesabaran manakala hidup di dunia pesantren, kenapa untuk  setiap hari makan hanya dengan tiga lauk faforit, yaitu tahu ketika pagi hari, tempe siang hari, dan satu butir krupuk dimalam hari serta sayur yang menjadi teman pembasah nasi. Satu minggu sekali ada makanan tambahan atau biasa di sebut dengan perbaikan gizi. Makan hanya ala kadarnya, setiap hari tidak ada bedanya, ada rasa ngrundel yang di tahan karena tahu bahwa apa yang kita makan hanya itu-itu saja, apalagi ketika bertanya kepada teman “ apa lauk malam ini “  Sate, sate di pondok dan diluar berbeda, sate diluar pake daging tapi jikalau sate di pondok biasa kita sebut dengan sayur terong yang tidak ada rasanya.

Pesantren mengajarkan arti kesabaran dan kesederhanaan, makan hanya ala kadarnya, belajar hemat dalam mengelola uang saku, memeneg waktu dengan sebaik mungkin semua sistem yang di terapkan pesantren kepada santri dan santriwatinya untuk melatih mereka menjadi orang-orang yang kuat dan hebat dalam berbagai hal. Antri dalam mandi, antri dalam makan, nasi diambilkan, begitu juga sayur dan lauk dibagi sama rata, di perbolehkan nambah nasi akan tetapi tidak di perbolehkan menambah lauk, artinya kita tidak boleh rakus, tidak boleh egois untuk kepentingan pribadi, kita utamakan kepentingan jama’i dan di situlah kesabaran kita benar benar sedang diuji.

Hampir semua santri menjalankan penuh dengan keikhlasan, mengantri dengan tertib satu-persatu, hal tersebut  bukan hanya untuk memenuhi atauran dan larangan yang telah di jalankan, akan tetapi semua sistem yang di terapkan di pesantren agar kelak bagaimana santri ketika hidup di luar atau di masyarakat tidak kaget karena sudah pernah merasakan arti kesederhanaan dan kesabaran ketika hidup di pesantren.

Sederhana dan sabar adalah dua kata yang penuh makna, dimana keduanya adalah jalan menuju puncak apa yang kita inginkan, Kesuksesan tidak bisa di raih dengan semudah membalikkan telapak tangan, tapi semua itu butuh perjuangan, pengorbanan, kesederhanaan dan kesabaran untuk meraih apa yang di inginkan. Kalau semuanya mudah maka bagaiman kita akan merasakan manisnya sebuah perjuangan.

Semoga kesederhanaan dan kesabaran hidup di pesantren dapat menghantarkan kita menjadi orang-orang yang ahlu jannah. Barakallah (Ta’al).

Kiat-kiat untuk meraih nikmat tsabat (teguh dalam iman)

 

Selaku orang beriman, kita memiliki beban untuk membawa iman kita hingga bertemu Allah azzawajalla, karena imanlah yang akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. Namun di akhir zaman, menjaga iman agar tetap baik bukanlah hal yang mudah, mengingat massifnya serangan dan fitnah dari musuh-musuh Allah baik berupa fitnah syubuhat maupun fitnah syahwat. Hal ini membutuhkan kekuatan yang ekstra agar kita tetap tsabat di atas jalan kebenaran.

Karena kita tidak tahu apakah Allah akan tetap menjadikan kita di atas kebenaran, atau memberikan rasa cemas dan galau kepada kita yang akhirnya kita lepaskan pakaian kebenaran itu,

Ummu Salamah radhiyallahuanha berkata bahwa rasulullah saw sering berkata dalam doanya,

((اللهم مقلبَ القلوب، ثبت قلبي على دينك))

“Ya Allah yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu”.

Ummu Salamah berkata, “aku bertanya, ‘Ya Rasulullah adakah hati itu berbolak balik?’” Rasul pun menjawab, “Ya, tidaklah Alah menciptakan manusia kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah akan mengokohkannya, dan jika Ia berkehendak ia akan mennghancurkannya.” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan Imam Tirmidzi dalam Jami’nya dengan sanad yang shahih)

Maka, menempuh sebab untuk tercapainya hal itu mutlak untuk kita lakukan, agar Allah senantiasa menjaga hati kita, Ada beberapa hal yang dapat menguatkan rasa teguh pendirian kita (tsabat) terhadap nikmat kebenaran yang Allah berikan kepada kita, di antaranya ialah:

Memohon kepada Allah agar diberi keteguhan.

Karena memang tsabat itu hanya dari Allah taala, Allah berfirman:

وَلَوْلا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,” (QS. Al-Isra’: 74)

Karena cobaan dalam hidup ini tidaklah ringan, godaan syetan juga selalu mengintai kita, maka Allah pun mengajarkan agar kita selalu memohon keteguhan hati kepadaNya dengan doa:

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Dan Rasulullah saw pun telah mengajarkan kepada kita do’a meminta keteguhan hati. Sebagaimana telah tersebut dalam hadits di atas, yaitu:

اللهم مقلبَ القلوب، ثبت قلبي على دينك

“Ya Allah yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu”.

Perkuat iman dan amal shalih.

Iman kepada Allah dengan tulus akan membawa kekuatan dalam hati, Allah taala telah berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَة.

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (tauhid)  dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; (QS. Ibrahim: 27).

Jadi, hanya orang yang beriman dengan keimanan yang kuat, yang dibuktikan dengan pengamalan yang baik terhadap syariat Allah yang akan mendapat keteguhana hati dari Allah, dalam ayat yang lain Allah taala juga berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),” (QS. An-Nisa’ : 66)

sehingga mutlak keimanan dan amal shalih sebagai pembuktian dari iman itulah yang akan menguatkan iman seseorang.

Meninggalkan maksiat baik berupa dosa kecil maupun dosa besar

Hal ini sangatlah jelas, karena kekuatan iman sangatlah terpengaruh dengan bagaimana usaha kita dalam meninggalkan maksiat. Mengenai dosa besar, Rasulullah telah mengingatkan dalam haditsnya.

لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن ولا يسرق السارق حين يسرق وهو مؤمن ولا يشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن

Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama’ mengartikan tidak beriman pada hadits ini dengan makna tidak sempurna imannya, oleh karenanya, orang yang terbiasa melakukan dosa besar. Ia sangat rapuh hatinya dan mudah untuk goyah imannya.

 

Adapun mengenai dosa kecil, Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ، وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلا : كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلاةٍ، فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ ، وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا، فَأَجَّجُوا نَارًا، وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا  حسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 2687

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena jika ia berkumpul pada seseorang maka akan menghancurkannya, dan sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan sebuah perumpamaan: yaitu suatu kaum yang singgah di sebuah lembah, seraya dihampiri oleh pemuka kaum, lalu orang tadi pergi dan kembali dengan membawa dahan kering hingga terkumpul dalam jumlah yang banyak, kemudian disulutlah dengan api, tumpukan dahan yang terbakar tadi akan mematangkan apa saja yang dipanggang di atasnya”. ( HR. Ahmad dalam musnadnya, no. 3803 Dihasankan oleh al- AlBaani dalam “Shahih al Jami’: 2687)

Selalu membaca, mempelajari dan mentadabburi Al-Quran.

Al-Quran selain ia merupakan obat bagi penyakit fisik ia juga merupakan obat dari kegundahan dan kecemasan. Karenanya orang yang membacanya akan mendapat ketenangan dan kekuatan, Allah taala berfirman

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ”

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An-Nahl: 102)

Dekat dengan orang shalih, ulama’ dan pejuang Islam

Orang-orang shalih ibarat pelita bagi kehidupan manusia, petuah mereka ibarat air segar yang dinanti ketika panasnya matahari menyengat, dan dengan melihat mereka hati bisa menjadi mengingat Allah taala. semakin kita sering berkumpul dengan mereka maka semakin teranglah hati kita. Karenanya Allah taala memerintahkan Nabi kita untuk bersabar dengan orang-orang yang selalu mengingat Allah.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya”. (QS. Al-Kahfi: 28)

Banyak berdzikir kepada Allah

Selanjutnya, banyak berdzikir dalam artian mengingat kekuasan Allah juga melantunkan kalimat-kalimat yang dapat menguatkan hati kita dalam iman kepada Allah dengan rasa khusyu’ dan menjiwai setiap untaian makna yang terkandung di dalamnya  adalah cara yang ampuh untuk meraih kekuatan batin dan rasa tsabat yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihanNya. Allah taala berfirman:

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Hal ini telah dicontohkan oleh para ulama salaf kita, mereka bukan hanya hebat dalam ilmu. Namun juga dalam hal spiritual, misalnya saja imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau senantiasa melazimi dzikir khusus yang dilantunkan setiap hari. Hal ini dikatakan oleh muridnya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah,

من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر ياحي ياقيوم لاإله إلا أنت برحمتك أستغيث حصلت له حياة القلب ولم يمت قلبه

“Siapa yang melazimi membaca empat puluh kali setiap hari antara shalat sunat fajar dan shalat shubuh bacaan

ياحي ياقيوم لاإله إلا أنت برحمتك أستغيث

“Wahai yang maha hidup wahai yang maha mengatur, tidaka ada ilah selain engkau, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan.”

Maka ia akan mendapat kehidupan hati dan hatinya tidak akan mati.” (lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, Juz 1/ hal. 448)

Demikianlah kiat-kiat agar Allah senantiasa memberikan keteguhan hati bagi kita untuk menggenggam kebenaran. Wallahu a’lamu bisshawwab

 

Di Publish Dan Diedit oleh Hafidzbey

 

 

 

AGAR ANAK TAKUT KEPADA ALLAH

Urgensi takut kepada Allah dalam pendidikan anak

Anak adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yang paling agung dalam kehidupan ini. Memiliki anak adalah karunia dan hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, terlebih anak-anak yang shalih dan shalihah, mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara dan penolong bagi kedua orang tuanya. Di samping itu, anak juga merupakan ladang bagi orangtua yang dapat digunakan untuk menanam cita-cita atau harapan-harapan yang bisa membahagiakan orang tua, baik di dunia terlebih di akhirat.

Jika orangtua menganggap anak-anak sebagai sebuah karunia, tentunya mereka akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendidik, membina, dan mengarahkan kehidupanya kepada kebaikan-kebaikan. Hal ini sangatlah penting karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan anak yang sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, perilaku, serta kepribadian yang baik pada anak. Salah satu pendidikan yang harus diberikan orang tua kepada anak selain mengenalkan mereka tentang Dzat Allah Ta’ala dan mendidik mereka agar selalu taat kepada Allah adalah menanamkan rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mendidik mereka bahwa tidak ada satupun perbuatan, perkataan seorang hamba melainkan Allah Maha mengetahuinya, sehingga tertanam kekuatan ruhiyah yang kuat pada diri seorang anak.

Terlebih Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menjaga keluarga kita dari siksa api neraka, tentunya termasuk anak-anak kita, firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At Tahrim:6)

Takut kepada Allah dan adzab-Nya dapat mengantarkan seseorang  untuk senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Takut kepada Allah berbeda dengan takut seseorang terhadap makhluk Allah Ta’ala. Jika takut terhadap binatang buas atau musuh yang ganas, kita harus menjauhi dan menghindarinya, sedangkan takut kepada Allah maka kita harus lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semakin besar rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, maka semakin bertambah kedekatan kita kepada-Nya. Bahkan ketika seorang hamba mampu menghiasi kehidupanpannya dengan rasa takut kepada Allah maka rasa takut tersebut akan membawanya kepada kebaikan-kebaikan, salah seorang ulama tabiin Fudhail bin Iyadh pernah berkata,

من خاف الله دله الخوف على كل خير

“barangsiapa yang takut kepada Allah, maka rasa takutnya akan menunjukkan dia kepada kebaikan”

Maka penting bagi orang tua untuk selalu menjaga hati ini senantiasa takut kepada Allah Ta’ala, dengannya kita tanamkan pula rasa takut kepada Allah terhadap anak-anak kita. Karena ketika kita memberikan pendidikan kepada anak sehingga nampak secara dhahir ia menjadi anak yang berprestasi, banyak menghafal ayat-ayat Al Qur’an, hadits, dan prestasi-prestasi yang lainnya, akan tetapi jikalau semua itu tidak mengantarkan mereka untuk selalu takut kepada Allah maka sesungguhnya ada yang salah dalam pendidikan dan orientasi belajar yang kita berikan kepada mereka. Maka jangan sampai kita menjadi orang tua yang banyak menuntut hak kepada anak untuk berbuat kebaikan-kebaikan sedangkan kita lalai dengan kewajiban orang tua yang harus diberikan kepada anak. Salah satunya adalah pendidikan yang baik, pendidikan yang mengantarkan kepada anak-anak kita untuk selalu takut kepada Allah Ta’ala.

Takut kepada Allah benteng kemaksiatan

Takut kepada Allah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu dapat menjaga semua ucapan dan tindakannya dari perbuatan tercela. Selain itu, orang yang takut kepada Allah  akan mendapatkan berbagai manfaat dan keuntungan dalam hidupnya, ia akan mudah untuk beribadah dengan ikhlas karena Allah Ta’ala tidak terbetik di dalam hatinya untuk mencari dan mendapatkan pujian manusia semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat telah menjadikan sifat takut kepada Allah sebagai perisai bagi keimanan mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Dari Salim bin Basyir, bahwa Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu menangis di kala sakit, lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat anda menangis ?” Beliau menjawab, ”Aku bukan menangis terhadap dunia kalian ini, tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan bekalku sedikit. Aku akan berjalan mendaki dan turun, mendaki menuju jannah atau turun menuju neraka. Aku tidak tahu mana yang akan kutuju.” (Siyar al-a’lam an-nubala’, 2/625)

Bahkan Imam At-Thabari ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

“sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan adzab Tuhan mereka” (QS. almu’minun: 57)

Beliau menerangkan bahwa khasyatullah adalah perasaan takut yang menyebabkan seseorang akan berusaha untuk terus berbuat baik guna meraih ridha Allah Ta’ala dan sebisa mungkin menjauhi larangan-laranganNya sehingga mudah bagi seseorang untuk menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Maka dari itu penting bagi kita selaku orang tua selain berusaha untuk menjadikan hati kita dekat kepada Allah maka tanamkan rasa khosyah ini kepada anak-anak kita sedini mungkin.

Banyak kisah-kisah  para salafusshalih dalam memberikan keteladanan untuk selalu takut kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana kisah yang disebutkan oleh Abdullah bin Dinar, beliau berkata: Saya pergi bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ke Makkah, di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk istirahat. Tiba-tiba ada seorang penggembala turun dari bukit menuju ke arah kami. Ibnu Umar bertanya kepadanya,” Apakah kamu penggembala?” “Ya”, jawabnya. (Ingin mengetahui kejujuran sipenggembala itu) Ibnu Umar melanjutkan, “Juallah kepada saya seokor kambing saja.” Sipenggembala itupun menjawab, ”Saya bukan pemilik kambing-kambing ini, saya hanyalah hamba sahaya.” “Katakan saja pada tuanmu, bahwa seekor kambingnya dimakan serigala”, kata Ibnu Umar kepada pengembala tersebut, Maka seorang pengembala itu pun menjawab dengan satu pertanyaan yang menjadikan berlinangnya air mata sahabat Ibnu Umar “Lalu di manakah Allah ‘Azza wa-Jalla yang Maha Melihat?”  Kemudian beliau pun menangis dan dibelinya hamba sahaya tadi lalu dimerdekakan. (HR. Thabrany, lihat kitab Siyaru A’laamin Nubala, Imam Adz-dzahabi, II/216).

Menanamkan dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah pada diri seorang anak merupakan salah satu kewajiban orangtua dalam mendidik anaknya, karena dengannya mereka akan menyadari hakekat kehidupan yang sebenarnya sehingga tidak mudah bagi mereka untuk memperturutkan hawa nafsunya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Apabila seorang tidak memilliki rasa takut kepada Allah maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya dan hawa nafsunya akan menuntunnya melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan diri dan memuaskan semua keinginannya. Berdzikir dan beribadah kepada Allah tidak lagi menjadi kesenangan dan ketenangan baginnya maka dia pun memilih mencari kesenangan dengan hal-hal yang diharamkan Allah, berbuat keji, meminum khamr, berkata dusta, dan kemaksiatan-kemaksiatan mereka lakukan.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 1/54,55)

Takut kepada Allah pertanda ilmu bermanfaat

Salah satu tanda ilmu yang bermangfaat adalah semakin bertambah ilmu seseorang maka semakin bertambah rasa takut dia kepada Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala menegaskan dalam firmannya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤا

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama” (QS. Fathir: 28)

Imam As-Sa’di Rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut beliau berkata, “Semakin seseorang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula rasa takut kepada-Nya. Rasa takutnya kepada Allah menyebabkannya meninggalkan kemaksiatan serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Ini adalah dalil yang menunjukkan ilmu yang bermangfaat, dengannya tumbuh rasa takut ia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh hanya orang yang takut kepada-Nyalah orang yang mendapatkan kemuliaan-Nya. (lihat tafsir Taisirul Karim fi tafsiri kalamil mannan fi syuroti Fatir, 28)

Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan mengatakan,” Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengkhususkan dan mensifati para ulama dengan rasa takut kepada-Nya, karena mereka adalah orang yang paling mengenal Allah. Semakin besar pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya, semakin besar raja’ (rasa harap) dan khauf (rasa takut) dia kepada Allah, dengan ilmunya menjadikan mereka semakin dekat kepada Alla. (Ma`alim fi Thariq Thalabi al-`ilmi, 13). Dalam artian seseorang tidak dikatakan mendapatkan ilmu yang bermangfaat sebatas kuantitas ilmu yang iya peroleh, akan tetapi pertanda ilmu yang bermangfaat  adalah ilmu yang membawa kepada rasa takut kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang semakin bertambah ilmunya namun tidak bertambah rasa khosyah dia kepada Allah maka tidak akan bertambah baginya kecuali semakin bertambah jaunya dia dari Allah Ta’ala.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang menunjukkan dua perkara, pertama, ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala), Asmaul Husna yang dimiliki-Nya, sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan. Hal ini menumbuhkan sikap pengagungan, pemuliaan, rasa takut kepada-Nya, rasa cinta, berharap, bertawakal, dan ridha dengan ketetapan-Nya, serta bersabar atas musibah yang menimpanya. Kedua, berilmu tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan dimurkai-Nya, baik keyakinan, amalan, dan ucapan baik yang lahir maupun batin. (Lihat Fadhlu Ilmi as-Salaf, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali, hlm. 73)

Dari ulasan di atas jelas bahwa ilmu yang hakiki, ilmu yang memberi manfaat kepada pemiliknya adalah yang menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kiat-kiat membuhkan rasa takut keapada Allah dalam pendidikan anak

            Menumbuhkan rasa takut  kepada Allah pada diri seorang anak tidak semudah membalik telapak tangan, banyak hal yang harus diusahakan untuk menjadikan mereka takut kepada-Nya. Memang rasa takut kepada Allah adalah bagian dari mawahib hidayah taufiq Allah Ta’ala, namun pemberian tersebut tidak menafikan kasb atau usaha kita selaku orang tua sebagai bentuk ikhtiyar kita kepada Allah. Karena bagaimana mungkin kita menginginkan seorang anak yang memiliki kepribadian yang shalih akan tetapi pendidikan yang kita berikan adalah jalan yang mengantarkan mereka kepada jurang kebinasaan. Maka penting kirannya  memperhatikan beberapa hal kiat-kiat menumbuhkan rasa takut kepada Allah dalam pendidikan anak, diantarannya :

Pertama: menanamkan pada diri anak bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas perbuatan hambanya.

Penting bagi oangtua untuk mengingatkan anak  bahwa kita adalah hamba yang lemah dan hina di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan Allah adalah Al-Aziz (Maha Perkasa), Al-Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al-Matiin (Maha Perkasa), Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba). Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai manusia durhaka kepada Allah sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. Allah Ta’ala berfirman “Dan kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)

Kedua : baiti jannati, menjadikan rumah sebagai lingkungan yang Islami

Rumahku adalah surgaku, merupakan ungkapan yang indah sebagai bentuk bangunan rumah tangga seorang muslim. Sungguh gambaran yang luar biasa, yang memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan yang selalu dirindukan semua orang untuk diwujudkan. Sebuah surga didunia yang hadir dalam sebuah rumah dan dari sanalah lahir sosok anak yang shalih dan shalihah yang selalu takut kepada Allah. Namun haruslah dipahami, bahwa baiti jannati tidak akan terwujud begitu saja, tanpa adanya usaha.  Usaha untuk mewujudkannya pun bisa jadi merupakan usaha yang luar biasa dan membutuhkan banyak energi dan menguras pikiran. Usaha ini haruslah berasal dari kedua belah pihak, yaitu suami dan istri. Sebagai orang tua memiliki sebuah tuntutan menjadikan rumah sebagai lingkungan yang islami, sehingga darinya lahir seorang anak yang memiliki kepribadian yang baik tumbuh menjadi anak yang takut kepada Allah.

Mustahil rasanya menginginkan baiti jannati yang akan melahirkan sosok anak yang taat dan takut kepada Allah sedangkan mereka bangun neraka di dalam rumah mereka. Mereka biasakan di dalam rumah-rumah mereka perkataan yang kotor, perilaku yang keji, mendengarkan lantunan musik-musik jahiliyah atau bahkan mereka asyik duduk bersama melihat tontonan televisi yang tidak mendidik atau melihat aurat dan hal-hal yang telah Allah haramkan. Maka keinginan orangtua untuk menjadikan anak yang shalih harus dimulai dari lingkungan keluarga yang shalih juga. Mereka hadirkan di tengah-tengah mereka qiroatul Qur’an, Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik, serta saling berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan surga dunia dan akhirat.

Ketiga : mengingatkan tentang pedihnya siksa api neraka

 Mengingatkan anak tentang adzab neraka jahannam merupakan salah satu cara menumbuhkan rasa khosyah pada seorang anak. Menjelaskan kepada mereka bahwa penderitaan atau musibah seberat apapun di dunia ini tidak lebih dahsyat dibandingkan siksa dan adzab Allah di neraka bagi mereka pelaku maksiat. Seseorang yang bangga dan tidak takut keapada Allah maka Allah akan mencampakkan mereka ke dalam neraka dalam kondisi sangat ketakutan, dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala dan sangat dalam jurangnya. Tak terbayang betapa takutnya orang yang dilempar ke dalam api yang menjilat-jilat dan panasnya yang luar biasa. Allah Ta’ala mengambarkan kondisi manusia ketika dilempar ke dalam neraka, firman Allah,

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ، تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (QS. Al-Mulk : 7-8)

Keempat : memberikan nafkah dari cara yang halal

            Bagian dari kewajiban orang tua kepada anak adalah memberikan nafkah yang halal. Memastikan tidak ada makanan yang ia makan, minuman yang ia minum, sampai pakaian yang ia kenakan melainkan dari cara sesuatu halal. Makanan yang halal sangat berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian baik seorang anak. Sebaliknya jika seorang bapak memberikan kepada mereka makanan, minuman, dan pakaian yang haram maka cukup hal tersebut untuk mengantarkan mereka kepada keburukan dan kebinasaan. Ibnu Katsir rahimahullah berkata “bahwa makanan yang halal sangat berpengaruh terhadap amal shaleh seseorang.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/126)

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan kita,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)

Sungguh daging yang tumbuh dari makanan dan minuman yang haram cukup menjadikan kehidupan seseorang tidak berkah dan hilangnya kebaikan-kebaikan dalam keluarga dan ke hidupannya. Maka jangan pernah kita menghilangkan keberkahan di dalam keluarga kita dengan memasukkan makanan dan minuman bahkan pakaian dari sesuatu yang diharamkan Allah.

Dari ulasan di atas mengajak kepada orang tua untuk menyadari bahwa sebagai orang tua memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Di antaranya adalah menanamkan rasa takut kepada Allah sejak usia dini, sehingga terbentuk anak yang shalih, ‘alim, dan muttaqi. Dan tentunya semua itu membutuhkan ikhtiyar orang tua selaku pendidik untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan-kebaikan. Semoga kita diberikan kemudahan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari siksa api neraka,  amiin.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan kita gambaran akan pentingnya mendidik anak-anak kita agar takut dan memiliki rasa khouf dan khosyah kepada Allajh swt. Wallahu a’lam bisshawab.

Di edit dan dipublish oleh abdullah hafidz

 

 

Jabir bin Abdullah

Jabir bin Abdullah mengisahkan, “Telah sampai kepadaku dari salah seorang Shahabat sebuah hadits yang telah ia dengar dari Rasulullah, namun hadits tersebut belum saya dengar dari beliau.”

Ia melanjutkan kisahnya, “Saya pun membeli seekor unta, lalu pergi untuk mencari orang tersebut. Saya berjalan selama sebulan, hingga sampai di negri Syam. Ternyata Shahabat itu adalah Abdurrahman bin Unais al-Anshari. Lalu saya menyuruh penjaga pintu menyampaikan kepadanya bahwa Jabir berada di depan rumahnya.”

Penjaga pintu itu bertanya, ‘Jabir bin Abdillah?’. ‘Ya’, jawabku. Lalu ia kembali kepada Abdurrrahman bin Unais. Kemudian Abdurrahman bin Unais keluar menemuiku, ia memelukku dan saya pun memeluknya.”

Jabir berkata, “Telah sampai kepadaku hadits yang Engkau dengar dari Rasulullah tentang kedhaliman, namun saya belum mendengarnya. Saya khawatir jika saya atau engkau mati, sedang saya belum mendengar hadits tersebut.”[1]

 

[1] Fath al-Bary. Vol. I, Hlm. 230-231.