Apakah Menyentuh Kemaluan dan Payudara Membatalkan Wudhu?

Pertanyaan:

Ustadz, katanya kalau memegang (maaf) kemaluan bisa membatalkan wudhu, biasanya setelah mandi saya berwudhu, kemudian suka pakai lotion termasuk dada (maaf payudara). Apakah hal itu menjadikan wudhu saya batal?  Syukron

 

Jawaban:

Al hamdulillah, shalawat dan semoga selalu tercurah pada baginda Nabi Muhammad saw, keluarga serta seluruh para sahabatnya.

Masalah memegang kemaluan menjadi perdebatan dikalangan ulama, apakah membatalkan wudhu atau tidak.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu berdasarkan sabda Nabi bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaknya ia berwudhu.” (HR. Abu Daud no. 181, An-Nasai no. 100, At-Tirmidzi no. 82).

Namun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu, berdasarkan hadits dari sahabat Thalq bin Ali, ia berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata: “Aku menyentuh kemaluanku atau ada seorang laki-laki yang menyentuh kemaluannya ketika shalat. Apakah ia wajib berwudhu?

Rasulullah bersabda:

 

إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ

“Sesungguhnya kemaluan hanyalah bagian dari anggota tubuhmu.”(HR. Abu Daud no. 182 dan 183, At-Tirmidzi no. 85).

Namun kami lebih memilih pendapat imam Malik dan juga pendapat Syaikh Albani yang mengatakan bahwa menyentuh kemaluan bisa membatalkan wudhu jika disertai syahwat. Adapun jika menyentuhnya tanpa syahwat, atau tanpa sengaja maka tidak membatalkan wudhu. Sebagai jalan kompromi atas kedua hadits di atas yang sama-sama shahihnya, sehingga bisa diamalkan semuanya.

Dan perlu diketahui bahwa kemaluan yg dimaksud pada hadits di atas adalah alat kelamin manusia bukan yang lainnya seperti payudara. Maka menyentuh payudara tidaklah membatalkan wudhu.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

 

Hukum Perceraian

Pertanyaan:

Bagaimana definisi perceraian menurut Allah dan Rasul-Nya? Saya pernah mendengar bahwa Allah membeci tentang perceraian, tapi bagaimana degan takdir yang menentukan sebuah hubungan harus melakukukan perceraian?

yang kedua apabila suami telah mentalak istri dengan berkata cerai, apakah itu sudah sah di dalam agama terhdap perceraian itu sendiri?

 

Jawaban:

Al hamdulillah, shalawat dan semoga selalu tercurah pada baginda Nabi Muhammad saw, keluarga serta seluruh para sahabatnya.

 

Pertama, dalam istilah agama talak/cerai berarti melepaskan ikatan perkawinan atau bubarnya hubungan perkawinan dengan lafal cerai, talak atau semisalnya.

Tentang hukum cerai maka bisa berbeda2 sesuai keadaannya,

  1. Mubah

Talak dihukumi mubah jika memang dibutuhkan, seperti: istri memiliki perangai yang buruk, suami istri sudah tidak ingin hidup bersama, atau tidak tercapainya maslahat (kebahagiaan) selama hidup bersamanya.

  1. Makruh

Yaitu jika tidak ada kebutuhan/tidak memiliki alasan, seperti: rumah tangganya sudah berjalan dengan baik, tidak ada problema yang berarti, dll. Sebagaimana sabda Nabi:

أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

  1. Mustahab/sunnah.

Yaitu apabila mudharat akan menimpa istri jika suami tetap menahannya dan tidak menalaknya, disunnahkan bagi suami untuk menalak istrinya agar tidak terjadi lagi mudharat pada istrinya. Hal itu dikarenakan maslahat pernikahan yang ada pada rumah tangganya tidak bisa terwujud dengan baik.

  1. Wajib

Yaitu ketika agama istri sudah rusak dan suami tidak mampu lagi untuk memperbaikinya. Misalnya: istri berzina atau istri meninggalkan shalat wajib, puasa, dan yang lainnya dari hak-hak Allah.

  1. Haram

Yaitu talak yang dijatuhkan suami di saat istrinya dalam keadaan haid, nifas, atau suci yang telah digauli oleh suaminya (dan belum ada tanda-tanda kehamilan).

 

Jadi jika memang ada alasan yang menuntut perpisahan setelah dilakukan upaya islah/ perdamaian tapi tidak menemukan titik temu sedangkan keduanya tidak mungkin hidup bersama maka cerai adalah cara yang halal dan tidak dibenci Allah.

Adapun dengan takdir maka tidak ada masalah, sebab semua yang terjadi telah ditentukan takdirnya oleh Allah 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Kita hanya menjalankannya, meskipun kita memiliki kemampuan dalam memilih melakukan yang baik dan yang buruk.

 

Kedua, jika seorang suami telah mengucapkan kata cerai dalam keadaan sadar (tidak mabuk, tidak tidur, tidak dipaksa) dan bukan pada waktu yang terlarang (saat haid atau suci setelah digauli) maka telah jatuh talak yang sah secara agama, dan jika suami tidak rujuk sampai selesai masa iddah maka statusnya bukan menjadi istrinya lagi, meskipun belum terproses di pengadilan agama. Perhitungan masa iddah (3 Kali masa haid) dimulai sejak jatuhnya talak bukan sejak proses pengadilan.

Wallahu a’lam bishshawab.

TT Ads

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *