Tips-Tips Agar Anak Kita takut kepada Allah SWT

56

AGAR ANAK TAKUT KEPADA ALLAH

Urgensi takut kepada Allah dalam pendidikan anak

Anak adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yang paling agung dalam kehidupan ini. Memiliki anak adalah karunia dan hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, terlebih anak-anak yang shalih dan shalihah, mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara dan penolong bagi kedua orang tuanya. Di samping itu, anak juga merupakan ladang bagi orangtua yang dapat digunakan untuk menanam cita-cita atau harapan-harapan yang bisa membahagiakan orang tua, baik di dunia terlebih di akhirat.

Jika orangtua menganggap anak-anak sebagai sebuah karunia, tentunya mereka akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendidik, membina, dan mengarahkan kehidupanya kepada kebaikan-kebaikan. Hal ini sangatlah penting karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan anak yang sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, perilaku, serta kepribadian yang baik pada anak. Salah satu pendidikan yang harus diberikan orang tua kepada anak selain mengenalkan mereka tentang Dzat Allah Ta’ala dan mendidik mereka agar selalu taat kepada Allah adalah menanamkan rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mendidik mereka bahwa tidak ada satupun perbuatan, perkataan seorang hamba melainkan Allah Maha mengetahuinya, sehingga tertanam kekuatan ruhiyah yang kuat pada diri seorang anak.

Terlebih Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menjaga keluarga kita dari siksa api neraka, tentunya termasuk anak-anak kita, firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At Tahrim:6)

Takut kepada Allah dan adzab-Nya dapat mengantarkan seseorang untuk senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Takut kepada Allah berbeda dengan takut seseorang terhadap makhluk Allah Ta’ala. Jika takut terhadap binatang buas atau musuh yang ganas, kita harus menjauhi dan menghindarinya, sedangkan takut kepada Allah maka kita harus lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semakin besar rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, maka semakin bertambah kedekatan kita kepada-Nya. Bahkan ketika seorang hamba mampu menghiasi kehidupanpannya dengan rasa takut kepada Allah maka rasa takut tersebut akan membawanya kepada kebaikan-kebaikan, salah seorang ulama tabiin Fudhail bin Iyadh pernah berkata,

من خاف الله دله الخوف على كل خير

“barangsiapa yang takut kepada Allah, maka rasa takutnya akan menunjukkan dia kepada kebaikan”

Maka penting bagi orang tua untuk selalu menjaga hati ini senantiasa takut kepada Allah Ta’ala, dengannya kita tanamkan pula rasa takut kepada Allah terhadap anak-anak kita. Karena ketika kita memberikan pendidikan kepada anak sehingga nampak secara dhahir ia menjadi anak yang berprestasi, banyak menghafal ayat-ayat Al Qur’an, hadits, dan prestasi-prestasi yang lainnya, akan tetapi jikalau semua itu tidak mengantarkan mereka untuk selalu takut kepada Allah maka sesungguhnya ada yang salah dalam pendidikan dan orientasi belajar yang kita berikan kepada mereka. Maka jangan sampai kita menjadi orang tua yang banyak menuntut hak kepada anak untuk berbuat kebaikan-kebaikan sedangkan kita lalai dengan kewajiban orang tua yang harus diberikan kepada anak. Salah satunya adalah pendidikan yang baik, pendidikan yang mengantarkan kepada anak-anak kita untuk selalu takut kepada Allah Ta’ala.

Takut kepada Allah benteng kemaksiatan

Takut kepada Allah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu dapat menjaga semua ucapan dan tindakannya dari perbuatan tercela. Selain itu, orang yang takut kepada Allah akan mendapatkan berbagai manfaat dan keuntungan dalam hidupnya, ia akan mudah untuk beribadah dengan ikhlas karena Allah Ta’ala tidak terbetik di dalam hatinya untuk mencari dan mendapatkan pujian manusia semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat telah menjadikan sifat takut kepada Allah sebagai perisai bagi keimanan mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Dari Salim bin Basyir, bahwa Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu menangis di kala sakit, lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat anda menangis ?” Beliau menjawab, ”Aku bukan menangis terhadap dunia kalian ini, tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan bekalku sedikit. Aku akan berjalan mendaki dan turun, mendaki menuju jannah atau turun menuju neraka. Aku tidak tahu mana yang akan kutuju.” (Siyar al-a’lam an-nubala’, 2/625)

Bahkan Imam At-Thabari ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

“sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan adzab Tuhan mereka” (QS. almu’minun: 57)

Beliau menerangkan bahwa khasyatullah adalah perasaan takut yang menyebabkan seseorang akan berusaha untuk terus berbuat baik guna meraih ridha Allah Ta’ala dan sebisa mungkin menjauhi larangan-laranganNya sehingga mudah bagi seseorang untuk menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Maka dari itu penting bagi kita selaku orang tua selain berusaha untuk menjadikan hati kita dekat kepada Allah maka tanamkan rasa khosyah ini kepada anak-anak kita sedini mungkin.

Banyak kisah-kisah para salafusshalih dalam memberikan keteladanan untuk selalu takut kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana kisah yang disebutkan oleh Abdullah bin Dinar, beliau berkata: Saya pergi bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ke Makkah, di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk istirahat. Tiba-tiba ada seorang penggembala turun dari bukit menuju ke arah kami. Ibnu Umar bertanya kepadanya,” Apakah kamu penggembala?” “Ya”, jawabnya. (Ingin mengetahui kejujuran sipenggembala itu) Ibnu Umar melanjutkan, “Juallah kepada saya seokor kambing saja.” Sipenggembala itupun menjawab, ”Saya bukan pemilik kambing-kambing ini, saya hanyalah hamba sahaya.” “Katakan saja pada tuanmu, bahwa seekor kambingnya dimakan serigala”, kata Ibnu Umar kepada pengembala tersebut, Maka seorang pengembala itu pun menjawab dengan satu pertanyaan yang menjadikan berlinangnya air mata sahabat Ibnu Umar “Lalu di manakah Allah ‘Azza wa-Jalla yang Maha Melihat?” Kemudian beliau pun menangis dan dibelinya hamba sahaya tadi lalu dimerdekakan. (HR. Thabrany, lihat kitab Siyaru A’laamin Nubala, Imam Adz-dzahabi, II/216).

Menanamkan dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah pada diri seorang anak merupakan salah satu kewajiban orangtua dalam mendidik anaknya, karena dengannya mereka akan menyadari hakekat kehidupan yang sebenarnya sehingga tidak mudah bagi mereka untuk memperturutkan hawa nafsunya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Apabila seorang tidak memilliki rasa takut kepada Allah maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya dan hawa nafsunya akan menuntunnya melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan diri dan memuaskan semua keinginannya. Berdzikir dan beribadah kepada Allah tidak lagi menjadi kesenangan dan ketenangan baginnya maka dia pun memilih mencari kesenangan dengan hal-hal yang diharamkan Allah, berbuat keji, meminum khamr, berkata dusta, dan kemaksiatan-kemaksiatan mereka lakukan.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 1/54,55)

Takut kepada Allah pertanda ilmu bermanfaat

Salah satu tanda ilmu yang bermangfaat adalah semakin bertambah ilmu seseorang maka semakin bertambah rasa takut dia kepada Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala menegaskan dalam firmannya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤا

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama” (QS. Fathir: 28)

Imam As-Sa’di Rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut beliau berkata, “Semakin seseorang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula rasa takut kepada-Nya. Rasa takutnya kepada Allah menyebabkannya meninggalkan kemaksiatan serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Ini adalah dalil yang menunjukkan ilmu yang bermangfaat, dengannya tumbuh rasa takut ia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh hanya orang yang takut kepada-Nyalah orang yang mendapatkan kemuliaan-Nya. (lihat tafsir Taisirul Karim fi tafsiri kalamil mannan fi syuroti Fatir, 28)

Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan mengatakan,” Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengkhususkan dan mensifati para ulama dengan rasa takut kepada-Nya, karena mereka adalah orang yang paling mengenal Allah. Semakin besar pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya, semakin besar raja’ (rasa harap) dan khauf (rasa takut) dia kepada Allah, dengan ilmunya menjadikan mereka semakin dekat kepada Alla. (Ma`alim fi Thariq Thalabi al-`ilmi, 13). Dalam artian seseorang tidak dikatakan mendapatkan ilmu yang bermangfaat sebatas kuantitas ilmu yang iya peroleh, akan tetapi pertanda ilmu yang bermangfaat adalah ilmu yang membawa kepada rasa takut kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang semakin bertambah ilmunya namun tidak bertambah rasa khosyah dia kepada Allah maka tidak akan bertambah baginya kecuali semakin bertambah jaunya dia dari Allah Ta’ala.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang menunjukkan dua perkara, pertama, ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala), Asmaul Husna yang dimiliki-Nya, sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan. Hal ini menumbuhkan sikap pengagungan, pemuliaan, rasa takut kepada-Nya, rasa cinta, berharap, bertawakal, dan ridha dengan ketetapan-Nya, serta bersabar atas musibah yang menimpanya. Kedua, berilmu tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan dimurkai-Nya, baik keyakinan, amalan, dan ucapan baik yang lahir maupun batin. (Lihat Fadhlu Ilmi as-Salaf, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali, hlm. 73)

Dari ulasan di atas jelas bahwa ilmu yang hakiki, ilmu yang memberi manfaat kepada pemiliknya adalah yang menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kiat-kiat membuhkan rasa takut keapada Allah dalam pendidikan anak

Menumbuhkan rasa takut kepada Allah pada diri seorang anak tidak semudah membalik telapak tangan, banyak hal yang harus diusahakan untuk menjadikan mereka takut kepada-Nya. Memang rasa takut kepada Allah adalah bagian dari mawahib hidayah taufiq Allah Ta’ala, namun pemberian tersebut tidak menafikan kasb atau usaha kita selaku orang tua sebagai bentuk ikhtiyar kita kepada Allah. Karena bagaimana mungkin kita menginginkan seorang anak yang memiliki kepribadian yang shalih akan tetapi pendidikan yang kita berikan adalah jalan yang mengantarkan mereka kepada jurang kebinasaan. Maka penting kirannya memperhatikan beberapa hal kiat-kiat menumbuhkan rasa takut kepada Allah dalam pendidikan anak, diantarannya :

Pertama: menanamkan pada diri anak bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas perbuatan hambanya.

Penting bagi oangtua untuk mengingatkan anak bahwa kita adalah hamba yang lemah dan hina di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan Allah adalah Al-Aziz (Maha Perkasa), Al-Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al-Matiin (Maha Perkasa), Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba). Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai manusia durhaka kepada Allah sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. Allah Ta’ala berfirman “Dan kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)

Kedua : baiti jannati, menjadikan rumah sebagai lingkungan yang Islami

Rumahku adalah surgaku, merupakan ungkapan yang indah sebagai bentuk bangunan rumah tangga seorang muslim. Sungguh gambaran yang luar biasa, yang memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan yang selalu dirindukan semua orang untuk diwujudkan. Sebuah surga didunia yang hadir dalam sebuah rumah dan dari sanalah lahir sosok anak yang shalih dan shalihah yang selalu takut kepada Allah. Namun haruslah dipahami, bahwa baiti jannati tidak akan terwujud begitu saja, tanpa adanya usaha. Usaha untuk mewujudkannya pun bisa jadi merupakan usaha yang luar biasa dan membutuhkan banyak energi dan menguras pikiran. Usaha ini haruslah berasal dari kedua belah pihak, yaitu suami dan istri. Sebagai orang tua memiliki sebuah tuntutan menjadikan rumah sebagai lingkungan yang islami, sehingga darinya lahir seorang anak yang memiliki kepribadian yang baik tumbuh menjadi anak yang takut kepada Allah.

Mustahil rasanya menginginkan baiti jannati yang akan melahirkan sosok anak yang taat dan takut kepada Allah sedangkan mereka bangun neraka di dalam rumah mereka. Mereka biasakan di dalam rumah-rumah mereka perkataan yang kotor, perilaku yang keji, mendengarkan lantunan musik-musik jahiliyah atau bahkan mereka asyik duduk bersama melihat tontonan televisi yang tidak mendidik atau melihat aurat dan hal-hal yang telah Allah haramkan. Maka keinginan orangtua untuk menjadikan anak yang shalih harus dimulai dari lingkungan keluarga yang shalih juga. Mereka hadirkan di tengah-tengah mereka qiroatul Qur’an, Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik, serta saling berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan surga dunia dan akhirat.

Ketiga : mengingatkan tentang pedihnya siksa api neraka

Mengingatkan anak tentang adzab neraka jahannam merupakan salah satu cara menumbuhkan rasa khosyah pada seorang anak. Menjelaskan kepada mereka bahwa penderitaan atau musibah seberat apapun di dunia ini tidak lebih dahsyat dibandingkan siksa dan adzab Allah di neraka bagi mereka pelaku maksiat. Seseorang yang bangga dan tidak takut keapada Allah maka Allah akan mencampakkan mereka ke dalam neraka dalam kondisi sangat ketakutan, dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala dan sangat dalam jurangnya. Tak terbayang betapa takutnya orang yang dilempar ke dalam api yang menjilat-jilat dan panasnya yang luar biasa. Allah Ta’ala mengambarkan kondisi manusia ketika dilempar ke dalam neraka, firman Allah,

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ، تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (QS. Al-Mulk : 7-8)

Keempat : memberikan nafkah dari cara yang halal

Bagian dari kewajiban orang tua kepada anak adalah memberikan nafkah yang halal. Memastikan tidak ada makanan yang ia makan, minuman yang ia minum, sampai pakaian yang ia kenakan melainkan dari cara sesuatu halal. Makanan yang halal sangat berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian baik seorang anak. Sebaliknya jika seorang bapak memberikan kepada mereka makanan, minuman, dan pakaian yang haram maka cukup hal tersebut untuk mengantarkan mereka kepada keburukan dan kebinasaan. Ibnu Katsir rahimahullah berkata “bahwa makanan yang halal sangat berpengaruh terhadap amal shaleh seseorang.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/126)

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan kita,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)

Sungguh daging yang tumbuh dari makanan dan minuman yang haram cukup menjadikan kehidupan seseorang tidak berkah dan hilangnya kebaikan-kebaikan dalam keluarga dan ke hidupannya. Maka jangan pernah kita menghilangkan keberkahan di dalam keluarga kita dengan memasukkan makanan dan minuman bahkan pakaian dari sesuatu yang diharamkan Allah.

Dari ulasan di atas mengajak kepada orang tua untuk menyadari bahwa sebagai orang tua memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Di antaranya adalah menanamkan rasa takut kepada Allah sejak usia dini, sehingga terbentuk anak yang shalih, ‘alim, dan muttaqi. Dan tentunya semua itu membutuhkan ikhtiyar orang tua selaku pendidik untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan-kebaikan. Semoga kita diberikan kemudahan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari siksa api neraka, amiin.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan kita gambaran akan pentingnya mendidik anak-anak kita agar takut dan memiliki rasa khouf dan khosyah kepada Allajh swt. Wallahu a’lam bisshawab.

Di edit dan dipublish oleh abdullah hafidz

 

 

Subscribe to our newsletter
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time
Leave A Reply

Your email address will not be published.